Jakarta, Juli 2026 — Di tengah hiruk-pikuk dinamika global yang kian tak menentu, Indonesia tidak hanya membutuhkan tentara yang tangguh di medan perang. Lebih dari itu, bangsa ini memerlukan benteng moral, benteng sosial, dan benteng budaya yang kokoh. Kesadaran inilah yang menggerakkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyumi untuk secara tegas menyatakan dukungan terhadap implementasi Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.
Bukan sekadar kebijakan rutin, Perpres ini adalah napas baru dalam arsitektur pertahanan nasional. Ia mengakui bahwa ancaman terhadap kedaulatan tak lagi hanya berwujud pasukan asing di perbatasan, melainkan juga serangan diam-diam yang merongrong jiwa bangsa: judi daring yang menjerat generasi muda, pinjaman online ilegal yang melilit ekonomi rakyat, narkotika yang membunuh masa depan, hingga perang informasi dan infiltrasi budaya yang menggerus jati diri.
“Ancaman nonmiliter hari ini adalah musuh tak kasat mata yang sama berbahayanya dengan invasi fisik,” demikian pernyataan resmi LBH Masyumi dalam siaran pers yang dirilis di Jakarta, awal Juli 2026. “Maka pertahanan negara harus bersifat semesta—melibatkan seluruh komponen bangsa, dari keluarga, sekolah, tempat ibadah, hingga ruang-ruang digital.”
—
Mengapa Ini Penting untuk Kita Semua
Perpres ini bukanlah produk politik semata. Ia lahir dari pembacaan mendalam atas realitas sosial yang memprihatinkan. Data menunjukkan bahwa pengguna judi daring di Indonesia meningkat drastis, banyak di antaranya adalah remaja yang seharusnya menatap masa depan cerah. Pinjaman ilegal berbasis aplikasi pun menjerat jutaan rumah tangga dalam jerat utang yang tak berujung. Di sisi lain, gempuran budaya asing melalui algoritma media sosial perlahan tetapi pasti menggeser nilai-nilai Pancasila dari ruang publik.
LBH Masyumi dengan jernih membaca peta ancaman ini. Dalam pandangan mereka, negara memiliki kewajiban konstitusional untuk hadir—bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi sebagai pelindung peradaban. “Kami melihat ini sebagai panggilan moral untuk memperkuat ketahanan keluarga, ketahanan generasi, dan ketahanan ideologi,” ujar Khaerudin, S.H., Ketua LBH Masyumi.
—
Integritas di Tengah Kekuatan
Di titik inilah LBH Masyumi menorehkan catatan penting yang membedakan sikap mereka dari sekadar dukungan politis. Mereka dengan lugas mengingatkan bahwa kebijakan pertahanan—sekekuatan apa pun—tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip negara hukum. Penegakan aturan harus tetap menghormati hak asasi manusia, menjunjung tinggi due process of law, dan sama sekali menolak tindakan main hakim sendiri atau kekerasan.
Pesan ini sangat relevan di tengah kecenderungan sebagian masyarakat untuk bertindak instan dan emosional. LBH Masyumi mengajak semua pihak untuk tetap tenang, rasional, dan beradab dalam menyikapi berbagai fenomena ancaman sosial. “Kekuatan bangsa bukan pada amarahnya, melainkan pada ketertiban dan keadilan yang ditegakkan,” tegas Tb. Arip Wampasena, S.H., M.H., Sekretaris LBH Masyumi.
—
Gerakan Bersama: Nalar, Moral, dan Aksi
Dukungan LBH Masyumi bukan sekadar pernyataan simpatik. Mereka mengajak seluruh elemen bangsa untuk turun tangan dalam gerakan nyata:
· Pendidikan karakter di sekolah dan rumah tangga sebagai benteng pertama,
· Penguatan keluarga sebagai ekosistem cinta dan nilai,
· Literasi digital agar masyarakat cakap menyaring informasi,
· Pemberantasan judi dan narkotika secara sistemik dan humanis,
· Penguatan ideologi Pancasila sebagai bintang penunjuk arah di tengah badai zaman.
Dengan pendekatan ini, pertahanan negara tidak lagi menjadi urusan eksklusif para jenderal dan birokrat. Ia menjadi urusan ibu-ibu di dapur, guru di kelas, pemuka agama di mimbar, dan anak muda di linimasa.
—
Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Bermartabat
Di akhir pernyataannya, LBH Masyumi menyampaikan visi besar: Indonesia yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga bermartabat secara kultural; tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial; tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga berdaulat atas cara berpikir dan cara hidup.
“Kami percaya, dengan gotong royong yang tulus, kita bisa mewujudkan Indonesia yang tangguh—bukan karena takut pada ancaman, tetapi karena cinta pada nilai-nilai luhur yang telah lama menjadi denyut nadi bangsa,” tutup Khaerudin dengan nada optimis.
—
Inspirasi untuk Hari Ini, Warisan untuk Esok
Siaran pers LBH Masyumi ini bukan sekadar dokumen hukum atau politik. Ia adalah cermin kesadaran kolektif bahwa pertahanan negara adalah tanggung jawab bersama. Di dalamnya terkandung pesan yang menginspirasi: bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak diukur dari persenjataannya, melainkan dari keteguhan hatinya dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran.
Di ruang-ruang rapat dan di sudut-sudut kampung, mari kita mulai dari diri sendiri. Karena setiap langkah kecil untuk melawan judi, menolak narkoba, dan menyebarkan kebaikan di dunia maya adalah juga satu langkah besar bagi pertahanan Indonesia.
Kedaulatan kita, martabat kita, masa depan kita—semuanya dimulai dari hari ini.


+ There are no comments
Add yours