BOGOR, SwaraJabar.id – Sebagai langkah nyata menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan, Yayasan Parasobat Bumi Cendekia resmi membuka kegiatan “Sekolah Lapang Budidaya Kakao: Transformasi Petani Lokal Kabupaten Bogor Menuju Kemandirian Ekonomi dan Pelestarian Ekosistem” yang berlangsung selama dua hari, tanggal 6–7 Juni 2026, bertempat di Saung Sadulur, Kampung Kebon Awi, RT 002 / RW 002, Desa Nanggung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Program ini diinisiasi sebagai bentuk kontribusi konkret dari tingkat tapak dalam mendukung komitmen nasional, Indonesia’s FOLU _(Forestry and Other Land Use)_ Net Sink 2030. Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan sektor kehutanan dan lahan mampu menyerap emisi gas rumah kaca lebih banyak daripada yang dilepaskannya, dengan target serapan negatif sebesar 140 juta ton CO_2-ekuivalen pada tahun 2030.

Ketua Yayasan Parasobat Bumi Cendekia, Ir. Cepi Al Hakim, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa wilayah perbukitan Bogor memiliki peran vital sebagai penyangga tata air dan hidrologis. Oleh karena itu, upaya memulihkan ekosistem hulu harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
“Untuk merealisasikan target besar FOLU Net Sink 2030, pelarangan eksploitasi hutan saja tidaklah cukup. Dibutuhkan aksi nyata berupa pencegahan deforestasi, pemulihan lahan kritis, serta implementasi pertanian ramah lingkungan. Di sinilah para petani mengambil peran penting sebagai pahlawan iklim di lapangan,” ujar Cepi Al Hakim di hadapan sekitar 50 peserta pelatihan petani lokal dan perwakilan pemerintah daerah setempat, Sabtu (6/6).
Pemilihan komoditas kakao dinilai sangat strategis, baik dari sisi ekologis maupun ekonomis. Secara alamiah, kakao merupakan tanaman yang membutuhkan naungan _(shade-grown),_ sehingga budidayanya mendorong penerapan sistem agroforestri (tumpangsari dengan pohon pelindung). Sistem ini memastikan tutupan lahan tetap rimbun, memperkuat struktur tanah perbukitan untuk mencegah longsor, serta efektif menyerap emisi karbon.

Edukasi Komprehensif Berbasis Pakar dan Praktik Lapangan
Guna memberikan pemahaman yang menyeluruh, Sekolah Lapang ini menghadirkan para pakar dan akademisi untuk mengisi sesi teori pada hari pertama (6/6) yang berfokus pada standar kualitas dan persiapan lahan. Acara dibuka oleh pembicara Dr. Ir. Supijatno, MSi., dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Universitas IPB yang menjelaskan tentang Desain Agroforestri yaitu Pengenalan Tanaman Kakao dan Teknik Budidaya.
Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Dr. Doni Yusri, MM., Direktur SEAMEO BIOTROP, yang memaparkan tentang Agribisnis Kakao yaitu Peluang dan Potensi Kakao di Pasar Global.
Turut menambahkan materi penutup dihari pertama yang disampaikan oleh Ketua Yayasan Parasobat Bumi Cendekia Ir. Cepi Al Hakim, M.Si., yang memaparkan tentang Teknologi Pasca-Panen yaitu Pengolahan dan Pasca-Panen Kakao, untuk membekali petani kemampuan meningkatkan nilai tambah komoditas hulu.

Memasuki hari kedua (7/6), fokus kegiatan beralih sepenuhnya pada implementasi fisik berupa pembuatan bibit Kakao dan manajemen pembibitan. Pada sesi ini, para petani dipandu langsung oleh Didin Risyidin perwakilan dari Konsorsium Petani Kakao Jawa Barat untuk melakukan praktik pembibitan, pembuatan bibit kakao, disusul dengan aksi penanaman langsung bibit unggul salah satunya varietas MC02 di lapangan. Ia juga menjelaskan kendala kendala yang dihadapi dalam melakukan budidaya atau menanam kakao (coklat) ini. Karena tanaman ini agak unik, butuh perawatan yang rutin.
Melalui metode praktek lapangan ini, para petani didorong untuk mampu membangun fasilitas pembibitan komunal agar kelompok tani di Desa Nanggung dapat memproduksi bibit secara mandiri, mendapatkan klon klon baru asli lokal.
Cepi menambahkan bahwa kelestarian lingkungan hanya akan terjaga secara optimal apabila kesejahteraan masyarakatnya ikut terjamin.
“Ekosistem yang lestari adalah warisan yang tak ternilai bagi anak cucu kita. Namun, lingkungan hanya akan bisa dijaga apabila dapur rumah tangga masyarakatnya tetap menyala. Melalui jalan budidaya kakao ini, mari kita buktikan bahwa kita mampu mencapai kemandirian ekonomi sekaligus menjadi perawat bumi yang tangguh,” pungkasnya.
Kegiatan ini ditutup pada Minggu siang dengan penyerahan sertifikat pelatihan kepada seluruh peserta petani lokal. Yayasan Parasobat Bumi Cendekia berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan, pendampingan berkala, serta membuka ruang kemitraan yang luas bagi seluruh pihak demi keberlanjutan program pertanian berkelanjutan ini di Kabupaten Bogor.
Tentang Yayasan Parasobat Bumi Cendekia
Yayasan Parasobat Bumi Cendekia adalah lembaga yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, konservasi sumber daya air, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis keberlanjutan ekosistem. Melalui pendekatan integratif dan kolaboratif, yayasan berkomitmen mendorong terciptanya kedaulatan lingkungan yang selaras dengan kesejahteraan masyarakat.
Kontak Media & Kemitraan:
Yayasan Parasobat Bumi Cendekia
Office : Gedung Start Up Center, Kawasan STP IPB, Ruang GSC 207, Bogor
Email: sbc.20@gmail.com


+ There are no comments
Add yours