Jika Hapus Pertunjukan Budaya Sunda di HUT Karawang, Benarkah Bupati Aep Berniat Merusak Identitas Daerah?

2 min read

Akankah Tahun Ini Menjadi Sejarah Kelam Bagi Kesenian & Kebudayaan Sunda di Kabupaten Karawang…???

KARAWANG – Kabar mengejutkan sekaligus memilukan datang dari gelaran HUT Kabupaten Karawang ke-392. Agenda pertunjukan Budaya Sunda, yang selama ini menjadi ruh dan simbol perayaan daerah, justru dihapus dari rangkaian acara sejak 1 September 2025. Keputusan kontroversial ini sontak memantik kegelisahan, bahkan kemarahan, dari para budayawan dan tokoh masyarakat Karawang.

Uwa Hen-hen, budayawan senior Karawang, tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya. Dengan nada getir, ia mengaku tak berdaya menghadapi kebijakan Pemkab Karawang yang dianggap mengabaikan kearifan lokal.

> “Saya tidak bisa berbuat apa-apa, itu kebijakan pemerintah. Tapi yang jelas, kami para seniman dan budayawan akan tetap berkesenian dan berbudaya. Karena kami tidak mengenal batas dan waktu,” ucapnya lirih, penuh kekecewaan.

Nada lebih keras datang dari Supardi, Ketua Umum Paguyuban MASKAR (Masyarakat Karawang). Ia menilai penghapusan agenda budaya Sunda di Hari Jadi Karawang bukan sekadar soal teknis, melainkan pengkhianatan terhadap jati diri Karawang yang dikenal sebagai lumbung padi sekaligus benteng budaya Sunda di Jawa Barat.

> “Kalau sampai itu benar terjadi, berarti Kepala Pemerintahan Kabupaten Karawang secara terang-terangan merusak kebudayaan Sunda Jawa Barat, khususnya kebudayaan Karawang. Ini bukan persoalan kecil, ini soal identitas masyarakat Karawang yang sedang dihancurkan dari dalam,” tegasnya, Sabtu (6/9/2025).

Supardi menambahkan, absennya budaya Sunda Karawang dalam perayaan ulang tahun daerah ini juga berpotensi menggerus rasa persatuan dan kebanggaan masyarakat Karawang yang selama ini hidup dalam keberagaman.

> “Dengan tidak menampilkannya budaya Sunda Karawang pada acara HUT Karawang, maka hilang pula kebanggaan dan momen persatuan masyarakat Karawang yang multi etnis sebagai identitas sejati masyarakat Karawang,” tandasnya.

Keputusan ini semakin menegaskan wajah kepemimpinan daerah yang kerap dinilai abai, pragmatis, dan minim sensitivitas budaya. Padahal, di tengah derasnya arus modernisasi, justru eksistensi budaya lokal harus dijaga, dirawat, dan diperkuat sebagai tameng identitas dan kebanggaan masyarakat Karawang.

Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah Bupati Aep Syaepuloh memang sengaja mengubur budaya Sunda di Karawang, ataukah ini hanya cerminan ketidakmampuan memahami nilai luhur yang seharusnya diwariskan?

Yang pasti, penghapusan pertunjukan budaya Sunda dalam perayaan HUT Karawang tahun ini telah menjadi catatan hitam dalam sejarah kepemimpinan daerah. Sebab, ketika budaya dipinggirkan, maka sesungguhnya Karawang sedang kehilangan rohnya.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author