DPRK Gibas Cinta Damai Karawang Luruskan Polemik Roti Berjamur MBG, Sebut Insiden Teknis Bukan Kegagalan Program

3 min read

Karawang — Dewan Pimpinan Resort (DPR) Gibas Cinta Damai Kabupaten Karawang memberikan klarifikasi sekaligus meluruskan sejumlah pemberitaan yang menyebut adanya temuan roti berjamur dan susu berbau dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan kepada siswa sekolah selama bulan Ramadan. Organisasi tersebut menilai persoalan yang terjadi lebih bersifat teknis distribusi dan penyimpanan, bukan kegagalan program secara keseluruhan.

Informasi awal menyebutkan adanya roti berjamur dalam paket MBG kering yang diterima siswa di SD IT Al-Mijan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, pada 23 Februari 2026. Paket tersebut diketahui berasal dari Dapur MBG 3 Al-Baghdadi. Menanggapi laporan pihak sekolah, Kepala Dapur MBG 3 Al-Baghdadi, Reza Mahendra Sanusi, langsung memberikan klarifikasi melalui pesan WhatsApp kepada pihak sekolah.

Dalam penjelasannya, Reza menyampaikan bahwa pihak dapur telah meneruskan laporan tersebut kepada distributor roti. Distributor kemudian menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan bahwa roti abon yang diproduksi tidak menggunakan bahan pengawet. Selain itu, roti dikemas saat masih panas dalam plastik sehingga menimbulkan embun di dalam kemasan yang berpotensi memicu lendir maupun jamur.

Peristiwa serupa juga dilaporkan terjadi di SDN Karangjaya II, Desa Karangjaya, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, di mana ditemukan susu yang berbau. Meski demikian, DPRK Gibas Cinta Damai menilai kejadian tersebut tidak dapat serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa program MBG secara keseluruhan bermasalah.

Sekretaris Jenderal Gibas Cinta Damai Kabupaten Karawang, Samsudin KMD, menegaskan bahwa program MBG pada dasarnya merupakan kebijakan strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Oleh karena itu, menurutnya, setiap temuan di lapangan perlu dilihat secara proporsional agar tidak menimbulkan persepsi yang menyesatkan di tengah masyarakat.

“Program ini memiliki tujuan yang sangat baik untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak. Jika terjadi kendala teknis dalam distribusi atau pengemasan, hal itu harus menjadi bahan evaluasi bersama, bukan langsung digeneralisasi sebagai kegagalan program,” ujar Samsudin.

Meski demikian, Samsudin tetap mengingatkan bahwa aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah. Ia menilai koordinasi antara pihak dapur MBG, distributor makanan, serta pihak sekolah perlu diperkuat agar potensi kerusakan pangan dapat dicegah sejak awal.

Menurutnya, insiden seperti roti berjamur atau susu berbau sejatinya bisa diminimalkan apabila ada kontrol mutu yang lebih ketat, termasuk pengawasan masa simpan produk, sistem distribusi yang lebih cepat, serta pelatihan keamanan pangan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan.

“Apa yang terjadi ini seharusnya menjadi momentum evaluasi dan perbaikan sistem. Dengan pengawasan yang lebih ketat dari satgas terkait, termasuk Badan Gizi Nasional di wilayah Karawang, kami yakin kualitas distribusi pangan dalam program MBG akan semakin baik ke depan,” kata Samsudin.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mendukung perbaikan program secara konstruktif. Menurutnya, kritik yang disampaikan harus tetap bersifat objektif dan solutif agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah tetap berjalan optimal dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author

+ There are no comments

Add yours