Karangmukti, Kabupaten Bekasi — Media Suara Mabes
Bekasi – Di sebuah sudut sunyi Kampung Kalender RT 002 RW 001, Desa Karangmukti, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, seorang lelaki renta menjalani hari-hari senjanya dalam kesunyian dan keterbatasan. Mada (70), kini harus bertahan hidup seorang diri, tanpa rumah layak, tanpa pendamping hidup, dan tanpa kepastian bantuan sosial.

Sejak sang istri meninggal dunia pada 2019 silam, kehidupan Mada seolah ikut runtuh perlahan. Ia mengaku sejak saat itu tak lagi merasakan kehadiran bantuan sosial yang sebelumnya sempat menopang hidupnya. Hari-harinya dihabiskan dalam diam, dengan tubuh yang semakin renta dan tenaga yang kian terbatas.
Dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca, Mada menuturkan pahitnya menjalani hidup seorang diri di usia yang seharusnya dipenuhi ketenangan.
“Sudah hampir enam tahun istri saya meninggal. Sejak itu, saya tidak pernah dapat bantuan apa pun lagi,” ucapnya pelan sambil menundukkan kepala.
Cobaan Mada belum berhenti sampai di situ. Sekitar lima bulan lalu, satu-satunya rumah sederhana yang menjadi tempat berlindungnya roboh. Kayu-kayu penyangga yang telah dimakan usia akhirnya tak mampu lagi menahan beban waktu.
“Kayunya sudah tua semua. Mungkin itu sebabnya rumah saya rubuh,” tuturnya lirih, seraya memandang puing-puing bangunan yang kini hanya tersisa kenangan.
Sejak kejadian itu, Mada tak lagi memiliki tempat tinggal yang layak. Setiap malam, ia harus diantar oleh anaknya untuk menginap di rumah sang anak, demi keselamatan dirinya. Namun saat pagi menjelang, Mada kembali ke lokasi rumahnya yang telah roboh—sekadar duduk, menunggu waktu, dan menjaga sisa-sisa hidup yang ia miliki.
“Kalau malam saya tidur di rumah anak. Siang hari saya balik lagi ke sini,” katanya dengan nada pasrah.
Di tengah keterbatasan itu, Mada tidak meminta banyak. Ia hanya menyimpan satu harapan sederhana: bisa kembali memiliki rumah kecil untuk berteduh di sisa usianya. Harapan itu ia gantungkan kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi, khususnya Dinas Sosial dan BAZNAS Kabupaten Bekasi, agar mau menoleh dan menghadirkan sedikit kepedulian.
“Saya cuma ingin bisa tinggal di rumah sendiri lagi,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.
Kisah Mada menjadi potret nyata bahwa di balik geliat pembangunan dan hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada warga lanjut usia yang hidup dalam sunyi dan keterbatasan. Mereka menunggu uluran tangan, menanti kepedulian, dan berharap negara hadir di saat yang paling dibutuhkan.
Di usia 70 tahun, Mada tidak lagi mengejar kemewahan. Ia hanya ingin tempat berteduh yang aman—sebuah rumah kecil yang bisa ia sebut sebagai “pulang”.


+ There are no comments
Add yours