BEKASI — Kepala Sekolah Dr. Hj. Annisa,.S.Pd,.M.Pd,. menegaskan bahwa proses hukum terhadap kasus kekerasan antar pelajar di wilayah Tambun Selatan tidak boleh menghilangkan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Menurutnya, sekolah tetap memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memastikan seluruh siswa, baik korban maupun pelaku, tetap mendapatkan pembinaan dan pendampingan sesuai jalur pendidikan.
“Sekolah memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan mendidik. Walaupun ada proses hukum yang sedang berjalan, kami memastikan hak belajar anak tetap dijaga,” ujar Dr. Hj. Annisa, Senin (20/10/2025).
Dalam kasus ini, pihak sekolah juga berkoordinasi erat dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bekasi untuk memberikan pendampingan psikologis kepada para siswa yang terdampak. Pendekatan dilakukan secara profesional agar tidak hanya menyelesaikan masalah secara hukum, tetapi juga memulihkan kondisi emosional anak.
> “Trauma anak tidak boleh dibiarkan. Karena itu, kami menggandeng DP3A agar pendampingan dilakukan dengan pendekatan psikologis dan edukatif,” katanya.
Untuk menjaga ketertiban dan ketenangan di lingkungan sekolah, pihak kepolisian khususnya Kapolsek Tambun Selatan Kompol Wuriyanti turut turun langsung memberikan perhatian. Menurut Dr. Hj. Annisa, kehadiran kepolisian menjadi contoh nyata pendekatan hukum yang humanis dan mendidik.
“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Ibu Kapolsek Tambun Selatan Kompol Wuriyanti beserta jajaran Polres Metro Bekasi, yang menangani kasus ini dengan langkah bijak, cepat, dan penuh empati. Beliau tidak hanya menegakkan hukum, tapi juga menjaga semangat pendidikan di tengah situasi sulit ini,” tutur Dr. Hj. Annisa.
Ia juga menegaskan, sekolah telah menetapkan pola belajar yang tetap memperhatikan hak dan keamanan seluruh siswa. Korban sudah kembali ke sekolah dan beraktivitas normal, sementara pelaku menjalani pembelajaran jarak jauh di bawah pengawasan wali kelas dan guru BK.
> “Tidak ada anak yang kami tinggalkan. Kami tetap bina, kami awasi, dan kami doakan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Sebagai bentuk penguatan karakter dan tanggung jawab bersama, sekolah juga melibatkan orang tua melalui komunikasi intensif. Setiap kelas kini memiliki sistem polling sederhana antara guru dan siswa untuk memastikan keamanan setelah pulang sekolah.
> “Guru menanyakan setiap hari, ‘Siapa yang sudah sampai rumah?’ atau ‘Siapa yang masih di jalan?’. Ini bentuk kepedulian kami agar anak-anak tetap terpantau, baik di sekolah maupun di rumah,” jelasnya.
Menurutnya, kerja sama antara sekolah, kepolisian, dan orang tua menjadi kunci utama dalam mencegah terulangnya peristiwa serupa. “Kepedulian Ibu Kapolsek Kompol Wuriyanti sangat kami rasakan. Beliau tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga memberi ketenangan bagi guru, siswa, dan orang tua. Itu yang sangat kami apresiasi,” tegasnya.
Di akhir wawancara, Dr. Hj. Annisa menekankan bahwa peristiwa ini harus dijadikan pembelajaran bersama untuk memperkuat karakter dan pengawasan anak-anak di era digital.
> “Anak-anak harus terus dididik agar kuat secara mental dan bijak dalam bergaul. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga orang tua dan lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terus menyebarkan rekaman atau tayangan kekerasan yang bisa memperburuk kondisi psikologis anak. “Mari berhenti menyebarkan ulang video tersebut. Kita bantu anak-anak pulih, bukan memperparah luka mereka,” katanya.
Sebagai penutup, Dr. Hj. Annisa kembali menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menciptakan suasana aman dan kondusif.
“Terima kasih kepada Kapolsek Tambun Selatan Kompol Wuriyanti dan Polres Metro Bekasi yang menjadi mitra terbaik kami. Dengan kerja sama ini, kami yakin pendidikan di Tambun Selatan akan tetap maju dan berkarakter,” pungkasnya.


+ There are no comments
Add yours