Jangan Jadikan Iklim Investasi Alat Untuk “Membunuh” Nasib Rakyat, Warga Desa Sukaluyu Bangkit Bela PT BSS

3 min read

Karawang, Swarajabar.id – Di tengah gegap gempita pembangunan industri Karawang, terdengar jeritan pilu dari Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur. Ratusan keluarga tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan pahit: mata pencaharian mereka terancam sirna, setelah mencuat kabar rencana pemutusan kontrak antara PT OCHIAI dan PT BSS—perusahaan keamanan yang selama ini menjadi tulang punggung hidup masyarakat desa.

Bagi warga Sukaluyu, PT BSS bukan sekadar perusahaan. Ia adalah nadi ekonomi, sahabat sosial, dan penjaga harapan. Di setiap rumah tangga, di setiap dapur yang mengepul, ada tangan-tangan warga yang bekerja dengan penuh harga diri karena PT BSS memberi mereka kesempatan, bukan belas kasihan. Kini, semua itu terancam hilang—bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena keputusan sepihak dari perusahaan besar yang lupa cara mendengar denyut hati rakyat.

“PT BSS bukan hanya tempat kerja. Mereka adalah bagian dari hidup kami. Mereka hadir saat banjir, saat warga kesulitan, bahkan saat kami berduka. Bagaimana bisa sebuah kontrak diputus begitu saja, seolah kami ini tidak pernah ada?” ungkap Asep Ruhiyat, Ketua Karangtaruna Kecamatan Telukjambe Timur, dengan mata berkaca-kaca saat memimpin rapat darurat warga, Minggu sore (2/6/2025).

Langkah PT OCHIAI ini bukan hanya mencederai perasaan, tapi mengancam keberlangsungan hidup ratusan keluarga. Anak-anak bisa kehilangan biaya sekolah. Orang tua kehilangan obat. Ibu rumah tangga kehilangan kepastian bisa memasak esok hari. Semua ini terjadi bukan karena mereka malas atau tidak mampu, melainkan karena ketidakpekaan dari mereka yang memegang kuasa.

“Jangan jadikan iklim investasi sebagai alat kapitalisme untuk membunuh rakyat. Ini bukan negara korporasi. Ini negeri yang berdiri di atas Pancasila. Pembangunan tak boleh melukai mereka yang tinggal di bawah bayang-bayang pabrik,” tegas Ruhiyat.

Ratusan warga kini bersiap untuk aksi damai, bukan karena mereka suka turun ke jalan, tetapi karena tak ada pilihan lain. Mereka akan longmarch dari Lapangan Badung Saidah menuju gerbang PT OCHIAI pada 3–4 Juni 2025. Logistik aksi mereka kumpulkan sendiri. Makanan mereka masak bersama. Di balik setiap nasi bungkus, ada cerita ketakutan akan masa depan, tapi juga keberanian untuk memperjuangkan martabat.

“Kalau hari ini PT BSS disingkirkan, kami kehilangan bukan hanya pekerjaan, tapi kehilangan wajah kemanusiaan dari dunia industri. Dan jika ini dibiarkan, desa-desa lain akan jadi korban berikutnya. Karawang bukan tempat untuk membuang rakyat,” lanjut Ruhiyat.

Warga Sukaluyu percaya bahwa pembangunan sejati tidak boleh menjadikan masyarakat sebagai tumbal. Investasi harusnya membawa terang, bukan menjadi pisau yang mengiris pelan-pelan kehidupan warga sekitar.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak PT OCHIAI atas rencana pemutusan kontrak tersebut.

Sementara itu, di hati warga Desa Sukaluyu, PT BSS tetap berdiri sebagai pahlawan yang selama ini telah hadir, bukan hanya dalam laporan keuangan, tetapi dalam denyut nadi kemanusiaan.

“Jika ada yang mengatakan Investasi Asing diatas kesejahteraan nasib masyarakat, maka bisa di indikasikan dialah pembunih nasib rakyat yang sesungguhnya,” Tegas Ruhiyat.

(Redaksi/Swarajabar.id)

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author