Kabupaten Bekasi, 28 Oktober 2025 —
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 yang seharusnya menjadi momentum membakar semangat kebangsaan dan kepedulian terhadap masa depan generasi muda, justru menyisakan catatan getir. Di tengah gegap gempita upacara dan seremonial di berbagai daerah, suara kritis dan menohok datang dari Ketua Umum Forum Masyarakat Anti Obat Terlarang (FORTAL), Kang Edo.
Pria yang dikenal vokal dan konsisten memperjuangkan penyelamatan generasi muda dari bahaya narkoba dan obat-obatan keras ini menilai, banyak kalangan hanya sibuk berbicara soal nasionalisme dan pembangunan bangsa, namun tak satu pun yang berani bersuara soal ancaman nyata di depan mata — peredaran obat keras seperti Tramadol, Eksimer, dan sejenisnya yang kian marak di kalangan remaja.
> “Miris. Sumpah Pemuda diperingati dengan penuh semangat dan pidato-pidato indah, tapi tidak ada satu pun pernyataan tegas untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman obat keras yang merusak moral dan masa depan mereka,” tegas Kang Edo di Kabupaten Bekasi, Senin (27/10/2025).
Menurutnya, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini terasa hambar karena kehilangan makna sejatinya — tidak ada refleksi, tidak ada keberanian, dan tidak ada aksi nyata untuk melindungi pemuda dari ancaman candu yang menggerogoti akal dan karakter bangsa.
> “Semua bicara soal pemuda harapan bangsa, tapi tak satu pun yang benar-benar turun tangan ketika harapan bangsa itu sedang hancur pelan-pelan karena candu obat keras. Ini ironis sekaligus menyedihkan,” ujarnya dengan nada getir.
Kang Edo juga menyoroti lemahnya reaksi berbagai pihak terhadap maraknya praktik penjualan obat keras di sejumlah titik rawan. Diamnya para tokoh, lembaga, hingga aparat penegak hukum disebutnya sebagai bentuk pembiaran yang berbahaya.
> “Seolah semua pihak tutup mata terhadap bom waktu sosial yang siap meledak kapan saja. Kalau bukan sekarang kita bergerak, kapan lagi? Atau harus menunggu anak-anak kita sendiri jadi korban dulu baru mau peduli?” sindirnya pedas.
Lebih jauh, Kang Edo menegaskan bahwa FORTAL akan terus bersuara, meski kerap dianggap mengganggu kenyamanan banyak pihak.
> “Biarlah kami disebut cerewet, asal bangsa ini tidak kehilangan masa depannya,” tegasnya menutup pernyataan.
—
Pertanyaan Publik: Kenapa Kampung Kavling Jati Pilar Masih Tetap Buka?
Dalam konteks yang sama, masyarakat juga mulai mempertanyakan fenomena lain yang tak kalah ganjil: aktivitas di Kampung Kavling Jati Pilar yang disebut-sebut sebagai salah satu titik rawan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Meski telah menjadi sorotan dan diberitakan ratusan kali oleh berbagai media, hingga kini kawasan tersebut masih tetap beroperasi seperti biasa.
“Sudah ratusan berita tayang, tapi kenapa tempat itu masih buka? Ada apa gerangan?” ujar salah satu warga dengan nada heran.
Pertanyaan publik ini menegaskan adanya keganjilan serius: di satu sisi semua pihak berteriak soal bahaya narkoba, tapi di sisi lain, lokasi-lokasi rawan justru dibiarkan hidup tanpa sentuhan penegakan hukum yang berarti.
—
🟩 Catatan Redaksi:
Sindiran Kang Edo dan keresahan masyarakat menjadi alarm keras bagi seluruh pihak — dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga lembaga sosial — bahwa diam berarti ikut bersalah. Sumpah Pemuda bukan sekadar slogan persatuan, melainkan panggilan moral untuk berani melawan segala bentuk pembusukan moral bangsa, termasuk peredaran obat-obatan terlarang yang kini merajalela di tengah masyarakat.


+ There are no comments
Add yours