“Ketika Pangdam Siliwangi Bersimpuh di Hadapan Ulama Besar Jawa Barat”
Oleh Redaksi : Tim Advertorial Swarajabar.id

Silaturahmi yang Penuh Saung Nilai dan Sejuknya Pasundan
Sore di Bandung terasa berbeda. Langit biru, angin berhembus pelan dari lembah Tangkuban Parahu, dan di halaman Kantor PWNU Jawa Barat, aroma teh hangat berpadu dengan keharuman persaudaraan.
Hari itu, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih datang bersilaturahmi — bukan sekadar kunjungan dinas, tetapi ziarah hati kepada para ulama pewaris nabi.

Disambut langsung oleh Rois Syuriyah PWNU Jawa Barat, Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., suasana pertemuan berlangsung dalam balutan kesantunan khas Sunda.
Senyum, sapa, dan silih asah-silih asih-silih asuh menjadi bahasa yang lebih kuat dari sekadar sambutan resmi.
“Kami para prajurit tidak hanya butuh senjata, tapi juga butuh doa. Karena doa ulama adalah perisai spiritual kami,”
tutur Pangdam Kosasih, dengan gaya halus dan penuh takzim.
Nada suaranya mencerminkan kepribadian urang Sunda sejati: teguh tapi teu wani nyingsieunan, lembut tapi kuat dalam pendirian.
—
KH. Abun Bunyamin: Cermin Kesundaan yang Lahir dari Kesederhanaan
Bagi masyarakat Jawa Barat, nama KH. Abun Bunyamin sudah menjadi simbol keteladanan.
Beliau adalah ulama yang tumbuh dari akar rumput, hidup sederhana, tapi berpikir besar.
Lahir di Sumedang, 10 September 1954, dari keluarga biasa, Abun kecil telah mengenal kerja keras sejak dini — berjualan makanan ringan, menggembala kambing, hingga mencari kayu bakar.
Dalam tutur bahasanya yang selalu lembut dan penuh tata krama, KH. Abun sering berkata:
“Ulah jadi jalma anu hayang dihormat, tapi jadilah jalma anu bisa ngahormat.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi hidupnya: bahwa kemuliaan justru lahir dari kerendahan hati.
Ia menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren — Majalengka, Cicalengka, Garut, Tasikmalaya — hingga berguru kepada ulama besar NU seperti KH. Ilyas Ruhiyat.
Perjalanan itu menempanya menjadi sosok yang alim, sabar, dan punya pandangan jauh ke depan: ulama yang tidak hanya pandai mengaji, tapi juga pandai memimpin.
—
Pesantren Al-Muhajirin: Pesantren Rasa Sunda, Jiwa Kebangsaan
Pada 7 Februari 1993, KH. Abun mendirikan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.
Berawal dari rumah kecil di Kampung Kebon Kolot, kini Al-Muhajirin telah menjelma menjadi lembaga besar yang menaungi ribuan santri dan berbagai jenjang pendidikan — dari TK hingga perguruan tinggi.
Namun yang paling menarik dari pesantren ini bukan hanya bangunannya, melainkan suasananya.
Setiap santri diajarkan untuk ngajénan kolot, hormat ka guru, jeung nyaah ka sasama — menghormati orang tua, guru, dan menyayangi sesama.
“Santri ulah ngan ukur bisa ngaji. Tapi kudu bisa ngadi, ngamalkeun élmu, jeung mandiri,”
pesan KH. Abun dengan bahasa Sunda halus yang penuh petuah.
Di bawah bimbingannya, pesantren ini tumbuh seperti saung ilmu yang teduh — tempat orang mencari ketenangan, bukan hanya pengetahuan.
KH. Abun mengajarkan bahwa ilmu dan iman harus berjalan seiring dengan ekonomi dan pengabdian. Karena bagi beliau, kemiskinan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berjuang.
—
Dua Jalan, Satu Tujuan: Pangdam Kosasih dan KH. Abun
Pertemuan antara Mayjen TNI Kosasih dan KH. Abun Bunyamin bukan sekadar pertemuan dua tokoh besar, tapi pertemuan dua jalan pengabdian:
jalan prajurit yang menjaga keamanan negeri dan jalan ulama yang menjaga ketenangan hati umat.
“TNI jeung ulama téh ibarat dua sisi tina hiji koin. Hiji ngajaga Aman, hiji ngajaga Iman,”
ucap KH. Abun dalam bahasa Sunda pelan yang membuat suasana hening.
Pangdam Kosasih menimpali dengan penuh hormat:
“Saya melihat di diri KH. Abun semangat yang sama dengan prajurit Siliwangi — sederhana, berani, tapi berjiwa halus.”
Dua tokoh ini seolah merepresentasikan karakter sejati orang Sunda: someah hade ka semah (ramah terhadap tamu), teu ngabubut hayam ti jarian (tidak menghalalkan segala cara), tapi selalu siap ngajaga lemah cai — menjaga tanah air dengan sepenuh hati.
—
Empat Komitmen dari Tanah Sunda untuk Negeri
Dari pertemuan penuh rasa hormat itu, lahirlah empat butir komitmen antara PWNU Jawa Barat dan Kodam III/Siliwangi:
1. Doa ulama sebagai benteng spiritual bagi TNI.
2. Peluang santri untuk menjadi prajurit bangsa.
3. Sinergi moral, sosial, dan pendidikan untuk kesejahteraan umat.
4. Peneguhan semboyan: “NU menjaga Iman, TNI menjaga Aman.”
Empat butir itu bukan sekadar agenda, tapi ikrār jiwa — janji bersama antara ulama dan prajurit dari bumi Pasundan untuk Indonesia yang damai.
—
Sejuknya Pesan dari Tanah Sunda
Di akhir acara, Pangdam Kosasih dan KH. Abun saling berjabatan tangan erat.
Tak ada pidato panjang, hanya tatapan penuh makna — tatapan antara dua putra bangsa yang sama-sama berakar dari tanah Sunda yang subur dan berhati lembut.
“Lamun ulama jeung prajurit ngahiji, nagara bakal ajeg, rahayat bakal bagja,”
kata KH. Abun dengan nada bergetar.
“Betul, Kiai. Ulama menjaga arah hati, TNI menjaga arah negeri,”
jawab Pangdam Kosasih sambil menundukkan kepala.
Silaturahmi itu menutup sore Bandung dengan kesejukan batin.
Dari balik jendela kaca, cahaya matahari condong ke barat — seolah ikut bersaksi atas persaudaraan suci antara iman dan aman, antara doa dan pengabdian.
—
🌿 Advertorial Feature
Dipersembahkan oleh:
PWNU Jawa Barat & Kodam III/Siliwangi
Bersinergi Menjaga Iman dan Aman,
Dari Tanah Sunda untuk Indonesia yang Damai.


+ There are no comments
Add yours