Wakil Ketua Komisi IX DPR RI drg,.Hj Putih Sari,.M.M,. Berikan Edukasi Jamu Aman dan Bermutu, Dorong Masyarakat Hidup Sehat dan Lestarikan Kearifan Lokal

4 min read

Bekasi, 9 Oktober 2025 — Upaya pelestarian jamu sebagai warisan budaya dan pengobatan tradisional Indonesia terus mendapat perhatian serius. Melalui kegiatan bertajuk “Edukasi Pembuatan dan Penggunaan Jamu yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat”, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, drg. Hj. Putih Sari, M.M., menyelenggarakan program edukatif di Kampung Satu, Desa Sukaraya, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/10/2025).

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata sinergi antara pemerintah pusat dan legislatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus kearifan lokal yang perlu dilestarikan.

Sinergi Pemerintah dan Legislatif untuk Jamu Indonesia

Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat kesehatan, antara lain dra. Ninik Haryati, Apt., mewakili Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Ditjen Kefarmasian dan Farmalkes Kemenkes RI; Dita Novianti SA, S.Si., Apt., M.M.; Warningsih, S.Si., Apt., M.H., selaku Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat; serta Aam Komalasari, S.Si., Apt., M.Si., dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Kerja Pembinaan dan Pengawasan Farmasi.

Meski memiliki agenda padat sebagai wakil rakyat di Senayan, drg. Hj. Putih Sari, M.M. tetap meluangkan waktu untuk menyapa para peserta melalui sambungan daring (online). Kehadiran beliau secara virtual menjadi penyemangat tersendiri bagi masyarakat, sekaligus menunjukkan komitmen tinggi terhadap peningkatan kesehatan dan pelestarian budaya jamu di daerah pemilihannya.

Jamu: Warisan Alam dan Identitas Bangsa

Dalam paparannya, dra. Ninik Haryati menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
Dengan luas hutan tropis mencapai 143 juta hektare, Indonesia memiliki lebih dari 31.750 spesies tumbuhan yang berpotensi sebagai Obat Bahan Alam (OBA).
Selain berasal dari tumbuhan, OBA juga dapat bersumber dari hewan, jasad renik, maupun mineral.
Beberapa di antaranya, seperti cacing tanah dan ikan gabus, telah lama dikenal memiliki khasiat medis alami.

“Potensi ini menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan obat bahan alam, termasuk jamu, yang diakui oleh dunia internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil berbagai penelitian, banyak jenis jamu telah terbukti memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat.
Regulasi kesehatan nasional kini juga memberikan ruang yang semakin luas bagi pengembangan dan pemanfaatan obat bahan alam, baik dalam bentuk:

Jamu, dengan keamanan dan khasiat yang terbukti secara empiris atau turun-temurun;

Obat Herbal Terstandar (OHT), yang telah melalui uji praklinik pada hewan;

Fitofarmaka, yang dibuktikan melalui uji praklinik dan uji klinik pada manusia.

“Ketiga kategori ini dapat digunakan masyarakat secara mandiri maupun diresepkan oleh tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Ninik.

Edukasi untuk Produksi Jamu yang Aman dan Higienis

Selain memahami manfaat jamu, masyarakat juga diimbau lebih cermat dalam memilih dan membuat jamu.
Baik jamu pabrikan maupun jamu tradisional hasil racikan penjual jamu gendong, harus dipastikan diproduksi secara higienis dan menggunakan bahan alami yang aman.

“Yang terpenting, jamu tidak boleh mengandung BKO atau Bahan Kimia Obat. Jika jamu mengandung BKO, maka itu bukan lagi jamu, melainkan sudah tergolong obat,” tegasnya.

Ninik juga mengingatkan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan dan kebersihan diri dalam proses pembuatan jamu agar produk yang dihasilkan tetap bermutu dan aman dikonsumsi.

Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu dan Pengakuan UNESCO

Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2015 telah mencanangkan Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu, sebuah inisiatif yang terus digaungkan hingga kini.
Upaya ini semakin mendapat pengakuan dunia setelah UNESCO menetapkan “Budaya Sehat Jamu” sebagai Warisan Budaya Takbenda ke-13 asal Indonesia pada 16 Desember 2023.

Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa jamu bukan sekadar ramuan tradisional, melainkan identitas budaya bangsa yang sarat nilai kesehatan, kemandirian, dan kearifan lokal.

Masyarakat pun diajak untuk terus melestarikan budaya minum jamu, baik dengan membuat sendiri dari bahan alami di sekitar maupun membeli produk jamu yang telah terdaftar dan teruji secara resmi.

Jamu, Gaya Hidup Sehat Alami

Jamu memang tidak memberikan efek instan seperti obat kimia, namun manfaatnya bersifat jangka panjang, terutama dalam menjaga kebugaran, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mencegah penyakit.
Salah satu tanaman obat unggulan Indonesia adalah Temulawak, yang dikenal sebagai “Ginseng Nusantara” karena khasiatnya dalam meningkatkan vitalitas dan memperkuat fungsi organ tubuh.

Komitmen Wakil Rakyat untuk Masyarakat Sehat

Melalui kegiatan edukatif ini, semangat pelestarian jamu sebagai kearifan lokal dan kekayaan alam Indonesia terus diperkuat.
Konsistensi dan kepedulian drg. Hj. Putih Sari, M.M., sebagai Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VII (Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta), menjadi bukti nyata komitmen seorang wakil rakyat yang selalu hadir, mendukung, dan memberi dorongan moral bagi masyarakat, meski di tengah kesibukan tugas kenegaraan yang padat.

Menjaga Warisan, Menyehatkan Bangsa

Edukasi tentang jamu bukan hanya soal pelestarian budaya, tetapi juga gerakan menuju masyarakat yang mandiri, sehat, dan bangga terhadap kearifan lokal.
Jamu adalah warisan, tapi juga masa depan — ketika alam dan ilmu pengetahuan bersatu untuk kesejahteraan bangsa.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author

+ There are no comments

Add yours