“Dalang Kerusuhan Jakarta Harus Ditelanjangi, Demokrasi Jangan Jadi Topeng Anarki”

3 min read

Jakarta – kembali mencekam. Ujung dari aksi demonstrasi yang awalnya disebut sebagai penyampaian aspirasi, justru berubah menjadi kerusuhan yang brutal. Bukan hanya suara kritis yang terdengar di jalanan, melainkan kobaran api dari gedung-gedung yang dibakar, kaca-kaca kantor yang dihancurkan, dan fasilitas umum yang menjadi korban amukan massa. Ironisnya, di tengah situasi tersebut, ada pula penjarahan yang dilakukan secara membabi buta—mulai dari aset negara hingga barang-barang pribadi. Bahkan rumah pejabat pun tak luput dari sasaran. Lebih memilukan, sejumlah korban jiwa pun berjatuhan.

Situasi ini jelas bukan lagi sekadar demonstrasi. Ada skenario, ada aktor, ada dalang yang sengaja memprovokasi massa agar bergerak liar di luar kendali.

LAKSI: Tegas Dukung Polri Bongkar Dalang Kericuhan

Menanggapi tragedi akhir Agustus tersebut, Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hidzaqi, memberikan sikap resmi.

> “Kami mendukung penuh langkah Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Suheri, untuk menegakkan hukum secara cepat, transparan, objektif, dan akuntabel. Penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu—baik kepada perusuh di jalanan, provokator yang mengompori, maupun otak intelektual yang bersembunyi di balik layar,” tegas Azmi.

Menurutnya, aparat berhak menindak tegas setiap tindakan anarkistis, mulai dari pembakaran fasilitas umum, penjarahan aset pribadi, hingga penyerangan kantor polisi. Semua itu bukan lagi ruang demokrasi, melainkan murni kejahatan.

Dalang Penghasutan Harus Ditelanjangi

LAKSI mendesak Polri tidak hanya berhenti pada penangkapan massa di lapangan. Yang lebih penting adalah membongkar siapa aktor intelektual di balik layar. Siapa yang menyuruh pelajar turun ke jalan? Siapa yang merancang skenario agar demo berubah jadi kerusuhan? Publik berhak tahu.

“Polisi tentu telah mengantongi banyak barang bukti, termasuk jejak komunikasi dan aliran dana. Kami percaya, Polri mampu mengidentifikasi siapa yang bermain di balik aksi ini. Jangan sampai bangsa ini terus dijadikan panggung oleh aktor-aktor busuk yang berlindung di balik nama ‘demonstrasi rakyat’,” kata Azmi.

Polri Sudah Tunjukkan Profesionalisme

Meski situasi sempat memanas, LAKSI menilai jajaran Polda Metro Jaya telah menangani pengamanan dengan profesional. Polisi tetap mengedepankan pendekatan humanis dan menghormati hak asasi manusia, meskipun berhadapan dengan kerumunan massa yang brutal. Langkah cepat aparat dalam memulihkan keamanan pun patut diapresiasi.

Masyarakat Jangan Diam

Namun, pemulihan keamanan bukan hanya tanggung jawab Polri. LAKSI mengingatkan, masyarakat juga punya peran penting. Aksi patroli rutin, imbauan persuasif, hingga keterlibatan warga dalam menjaga lingkungannya adalah kunci agar Jakarta kembali tenang.

“Kami menyerukan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Jangan mau dijadikan tameng oleh kepentingan kelompok tertentu. Mari kita dukung Polri mengusut tuntas kasus ini, agar ke depan tak ada lagi yang berani mempermainkan stabilitas negara,” pungkas Azmi.

Catatan Tajam

Kejadian ini memberi pelajaran pahit: demokrasi bisa dicemari oleh kepentingan gelap. Aksi demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang kritik justru dipelintir menjadi ladang kekacauan. Jika aktor-aktor penghasut tidak dibongkar, bukan tidak mungkin bangsa ini akan terus diguncang oleh skenario serupa.

Kini, bola panas ada di tangan Polri. Publik menunggu langkah tegas: siapa dalang sebenarnya? Jangan biarkan mereka bersembunyi di balik jargon demokrasi, sementara rakyat kecil yang jadi korban.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author