Karawang — Sore itu, di RW Lubang Sari, Kelurahan Karawang Wetan, angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di sudut gang, beberapa pemuda tampak sibuk memasang bendera merah putih, sementara anak-anak berlarian sambil berlatih lomba lari karung. Suasana kampung mulai terasa berbeda. Ada sesuatu yang ditunggu-tunggu.

Di tengah kesibukan itu, hadir Kang Dedi Iskandar (KDI), CEO media online Karawang Bicara, yang datang bukan sebagai pejabat atau tokoh publik, melainkan sebagai warga yang ingin memberi kebahagiaan. Wajahnya cerah, sesekali ia menepuk bahu warga, berbincang akrab, dan memastikan setiap persiapan berjalan lancar.
Bagi KDI, perayaan HUT RI ke-80 bukan sekadar pesta. Ia menyebutnya sebagai “hari janji” — janji untuk terus menjaga kemerdekaan, merawat persatuan, dan menguatkan semangat cinta tanah air.
“Kemerdekaan adalah hadiah terindah dari para pejuang. Tugas kita adalah menjaga, merayakan, dan mewariskannya. Besok, saya ingin Lubang Sari menjadi panggung persaudaraan,” ujarnya dengan mata berbinar.

Tak tanggung-tanggung, KDI menggunakan dana pribadinya untuk menghadirkan berbagai lomba khas 17 Agustusan — mulai dari panjat pinang, jalan santai, hingga turnamen sepak bola. Tapi ada yang istimewa: ia meminta seluruh kegiatan dilakukan dengan konsep ramah lingkungan. Tak ada sampah plastik berserakan, tak ada limbah yang mencemari.
Besok, suara tawa akan memenuhi udara Lubang Sari. Anak-anak akan berlari dengan kaki terikat, bapak-bapak akan saling berebut bendera di puncak pinang, dan ibu-ibu akan bersorak sambil membagikan minuman segar. Di antara semua itu, ada satu pesan yang ingin KDI tanamkan: merdeka itu ketika rakyat hidup rukun, lingkungan terjaga, dan semangat kebangsaan tetap menyala di dada setiap orang.
Masyarakat Karawang Timur pun mulai bersiap. Semua mata tertuju pada besok. Semua penasaran, seperti apa meriahnya pesta kemerdekaan yang dibawa seorang KDI — tokoh yang tak hanya bicara nasionalisme, tetapi menjalankannya dalam aksi nyata.

