Menghidupkan Asa: Perjuangan Mardiana Membantu Yatim, Piatu, dan Dhuafa di Karawang

2 min read

Karawang, Swarajabar.id 28 April 2025 —
Dari luka masa kecil yang penuh keprihatinan, lahir sebuah tekad mulia. Mardiana, seorang ibu muda kala itu, memilih jalan hidup yang tak biasa. Lahir dan besar dalam keluarga sederhana, bahkan bisa dibilang dalam kondisi serba kekurangan, ia kerap menjadi sasaran olok-olok teman sebayanya. Namun, daripada larut dalam kepahitan, Mardiana justru membiarkan pengalaman pahit itu menempa hatinya menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Meski berbekal latar belakang pendidikan di bidang Tata Boga dan Tata Busana, Mardiana menemukan panggilan sejatinya bukan di dapur atau ruang jahit, melainkan di tengah-tengah masyarakat kecil yang membutuhkan pertolongan. Kepercayaan yang diberikan warga sekitar, yang lebih sering datang kepadanya untuk mencari solusi persoalan sosial, menjadi cambuk bagi Mardiana untuk berbuat lebih besar.

Pada tahun 2005, lahirlah Yayasan Yatim Piatu & Dhuafa “Sekar Mandiri Ta’Awun” di Desa Purwadana, Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang. Sebuah wadah yang dibangun dari harapan sederhana: ingin memastikan anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa bisa merasakan kasih sayang dan perhatian yang layak.

Saat awal berdiri, yayasan ini hanya mengasuh lima anak, beberapa di antaranya bahkan menderita gizi buruk. Bantuan datang sangat terbatas. Mardiana harus berjuang nyaris seorang diri, mengandalkan semangat dan keyakinan bahwa sekecil apapun upaya, akan membawa perubahan bagi masa depan anak-anak itu.

“Awalnya sangat sulit. Saya merasa kecil, tapi saya yakin, dengan niat tulus, Allah akan membuka jalan,” kenang Mardiana.

Perjalanan panjang itu membuahkan hasil. Pada tahun 2023, Yayasan Sekar Mandiri Ta’Awun akhirnya mengantongi legalitas hukum yang sah. Sejak itu, dukungan dari pemerintah daerah dan pihak ketiga mulai mengalir, membuka ruang yang lebih luas untuk membantu lebih banyak anak-anak yang membutuhkan.

Kini, Mardiana tak sendiri lagi. Namun, ia menyadari perjuangan ini jauh dari kata selesai.

“Masih banyak anak-anak di luar sana yang butuh uluran tangan kita. Saya berharap, semakin banyak orang yang peduli. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian untuk sekadar mendapatkan hak dasar mereka: kasih sayang, pendidikan, dan kehidupan yang lebih layak,” tutur Mardiana dengan mata yang berkaca-kaca.

Melalui kisah hidupnya, Mardiana mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar bisa bermula dari hati yang tak rela melihat sesama hidup dalam derita. Sebuah panggilan untuk kita semua, bahwa kepedulian bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang menyelamatkan masa depan.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author