Barisan Pembaharuan 08: Kritik Harus Memperkuat Demokrasi, Bukan Menggerus Kepercayaan Nasional

5 min read

JAKARTA – Dinamika politik nasional kembali menjadi perhatian menyusul munculnya gagasan pembentukan shadow cabinet atau kabinet bayangan dari kalangan oposisi. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Presidium Pusat Barisan Pembaharuan 08 (PP-BP 08), Syafrudin Budiman, S.I.P., mengingatkan seluruh elemen bangsa agar menjaga keseimbangan antara kebebasan kritik, kedewasaan demokrasi, serta kepentingan menjaga stabilitas nasional.

Syafrudin menegaskan bahwa kritik merupakan bagian fundamental dalam kehidupan demokrasi. Namun, menurutnya, kritik politik akan jauh lebih bermakna apabila dibangun di atas argumentasi yang objektif, data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta menawarkan gagasan alternatif yang mampu menjawab persoalan rakyat.

“Demokrasi membutuhkan kritik. Tetapi kritik yang bermartabat bukan sekadar membangun persepsi negatif terhadap pemerintah. Kritik harus menghadirkan gagasan, solusi, dan alternatif kebijakan yang konstruktif bagi kepentingan bangsa dan negara,” ujar Syafrudin dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, Indonesia memiliki tantangan pembangunan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertarungan narasi politik. Pemerintah saat ini, kata Syafrudin, sedang menjalankan agenda strategis melalui Asta Cita Pemerintahan Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang harus dikawal secara bersama-sama agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Agenda tersebut mencakup penguatan ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, reformasi birokrasi, penguatan ekonomi nasional, hingga pemberantasan korupsi.

Syafrudin berpandangan bahwa keberhasilan agenda pembangunan membutuhkan ekosistem politik yang sehat dan stabil. Pemerintah harus terbuka terhadap kritik, sementara kelompok oposisi maupun masyarakat sipil juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kritik tidak berubah menjadi narasi yang menciptakan ketidakpastian.

“Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi kepentingan Indonesia harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok. Jangan sampai kompetisi politik menghasilkan narasi yang justru mengganggu kepercayaan masyarakat, pelaku usaha, maupun investor terhadap masa depan perekonomian nasional,” tegasnya.

Kritik Harus Berkelas dan Berbasis Solusi

Syafrudin menilai keberadaan oposisi merupakan elemen penting dalam sistem demokrasi. Namun, kualitas oposisi tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa keras kritik yang disampaikan, melainkan oleh seberapa kuat gagasan alternatif yang ditawarkan kepada publik.

Menurutnya, jika konsep kabinet bayangan ingin ditempatkan sebagai instrumen pengawasan demokratis, maka harus mampu menghadirkan kajian kebijakan yang kredibel, terukur, dan memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat.

“Kalau ingin menghadirkan kabinet bayangan, hadirkan pula gagasan bayangan yang konkret, program alternatif yang terukur, dan solusi yang benar-benar bisa diuji publik. Jangan sampai hanya menjadi panggung retorika tanpa peta jalan yang jelas. Demokrasi kita harus semakin dewasa, bukan semakin gaduh,” katanya.

Ia bahkan mengingatkan agar jangan sampai gagasan tersebut kehilangan substansi dan hanya berkembang menjadi apa yang ia sebut sebagai “kabinet halu”, yakni sibuk membangun narasi politik tetapi minim solusi konkret.

“Jangan sampai menjadi ‘kabinet halu’ yang kuat dalam membangun opini, tetapi lemah dalam menawarkan solusi. Rakyat membutuhkan gagasan yang bisa bekerja, bukan sekadar narasi yang menarik perhatian,” ujarnya.

Prabowo Tidak Anti Kritik

Lebih jauh, Syafrudin menegaskan bahwa dukungan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tidak berarti menutup ruang kritik. Sebaliknya, ia menyebut kritik yang objektif dan konstruktif merupakan bagian penting dalam memastikan kebijakan pemerintah tetap berada pada jalur kepentingan rakyat.

Ia menilai Presiden Prabowo memiliki ruang dan kapasitas untuk menerima kritik sebagai bagian dari proses evaluasi pemerintahan.

“Presiden Prabowo bukan anti kritik. Kritik yang objektif, berbasis fakta, dan memiliki tujuan memperbaiki kebijakan justru harus dihargai. Yang perlu kita hindari adalah kritik yang sengaja dibangun untuk menciptakan ketakutan, pesimisme, atau ketidakpercayaan terhadap bangsa sendiri,” tutur Syafrudin.

Baginya, menjaga stabilitas nasional bukan berarti membungkam perbedaan pendapat. Stabilitas justru harus dibangun melalui demokrasi yang sehat, institusi yang kuat, kebijakan yang transparan, serta ruang kritik yang bertanggung jawab.

Pemberantasan Korupsi Harus Tanpa Pandang Bulu

Dalam konteks penegakan hukum, Syafrudin juga memberikan apresiasi terhadap komitmen pemberantasan korupsi. Ia menilai supremasi hukum harus menjadi salah satu fondasi utama pemerintahan yang kredibel.

Menurutnya, pemberantasan korupsi harus dilakukan secara profesional, transparan, dan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku tanpa dipengaruhi kepentingan politik.

“Tidak boleh ada siapa pun yang kebal hukum. Jika seseorang terbukti melakukan tindak pidana korupsi, proses hukum harus berjalan sesuai ketentuan. Pemberantasan korupsi harus dilakukan tanpa pandang bulu, dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan kepastian hukum,” tegasnya.

Syafrudin menilai keberhasilan pemerintahan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan dapat dipercaya.

BP 08 Kawal Asta Cita

Sebagai organisasi relawan yang sejak awal memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo-Gibran, Barisan Pembaharuan 08 menegaskan komitmennya untuk terus mengawal jalannya pemerintahan.

Syafrudin mengatakan, dukungan politik harus diterjemahkan menjadi partisipasi yang konstruktif. Pemerintah tetap perlu mendapatkan pengawasan dari masyarakat, sementara organisasi relawan juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi rakyat secara objektif.

“Kami akan terus mengawal Asta Cita. Dukungan kepada pemerintah bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru kami ingin memastikan setiap program berjalan efektif, transparan, akuntabel, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, perjalanan Indonesia ke depan membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa. Pemerintah, parlemen, oposisi, masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat harus memiliki ruang untuk berkontribusi dalam kapasitas masing-masing.

“Mari kita kedepankan kompetisi gagasan, bukan kompetisi kegaduhan. Pemerintah bekerja, parlemen mengawasi, oposisi mengkritik secara konstruktif, dan masyarakat ikut mengawal. Dengan cara itulah demokrasi menjadi energi pembangunan, bukan hambatan bagi kemajuan bangsa,” pungkas Syafrudin.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author

+ There are no comments

Add yours