RAKERNAS ALISA “KHADIJAH” ICMI DI BANDUNG, DR. ARFIANI RIZKI PARAMATA BAWA AMANAT IBU AINUN HABIBIE

4 min read

BANDUNG – Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Alisa “Khadijah” Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, pada 28–30 Juli 2026, menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran perempuan cendekia dalam pembangunan masyarakat, daerah, dan bangsa.

Salah satu agenda penting dalam rangkaian RAKERNAS tersebut adalah pelantikan Dr. Arfiani Rizki Paramata sebagai Ketua Alisa “Khadijah” ICMI Provinsi Gorontalo. Amanah tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan organisasi, tetapi juga membawa harapan baru bagi penguatan kontribusi perempuan cendekia di Provinsi Gorontalo.

Bagi Dr. Arfiani Rizki Paramata, kepemimpinan di Alisa “Khadijah” ICMI memiliki makna yang mendalam. Amanah tersebut menjadi ruang pengabdian untuk menerjemahkan kecendekiaan, keteladanan, dan kepedulian sosial ke dalam gagasan serta program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam menjalankan amanah tersebut, Dr. Arfiani Rizki Paramata membawa semangat dan nilai keteladanan Ibu Ainun Habibie, sosok perempuan cendekia yang dikenal memiliki keteguhan, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, kepedulian terhadap pendidikan, serta komitmen terhadap pengabdian.

Semangat tersebut kemudian dipertemukan dengan filosofi Khadijah, yang menjadi inspirasi utama Alisa “Khadijah”. Keteladanan Sayyidah Khadijah tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang nilai-nilai perempuan yang berilmu, mandiri, memiliki integritas, teguh dalam prinsip, serta mampu memberikan kontribusi besar bagi keluarga, masyarakat, dan perjuangan kemanusiaan.

 

“Saya membawa amanat Ibu Ainun Habibie. Mengikuti jejak Khadijah bukan sekadar mengikuti sebuah nama, tetapi mengikuti nilai-nilai keteladanan yang ada di dalamnya. Khadijah adalah sosok perempuan yang memiliki keteguhan, kecerdasan, kemandirian, keberanian, dan kepedulian untuk memberikan manfaat bagi sesama,” demikian semangat yang menjadi landasan kepemimpinan Dr. Arfiani Rizki Paramata.

Menurutnya, makna Alisa “Khadijah” harus mampu diterjemahkan sesuai dengan tantangan zaman. Perempuan cendekia tidak cukup hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga harus mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan untuk membangun kemandirian, memberdayakan masyarakat, memperkuat keluarga, serta melahirkan solusi atas berbagai persoalan sosial.

“Perempuan tidak hanya boleh menjadi objek pembangunan. Perempuan harus menjadi subjek yang mampu melahirkan gagasan, mengambil peran, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi. Nilai-nilai Khadijah harus kita terjemahkan dalam konteks kekinian agar kecendekiaan benar-benar menjadi kekuatan untuk kemaslahatan,” ungkapnya.

Di Provinsi Gorontalo, kepemimpinan Dr. Arfiani Rizki Paramata diharapkan mampu membawa Alisa “Khadijah” ICMI menjadi wadah yang produktif, inklusif, dan terbuka bagi berbagai potensi perempuan. Akademisi, profesional, pendidik, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, komunitas perempuan, hingga generasi muda diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi yang saling memperkuat.

Penguatan pendidikan, literasi, pemberdayaan ekonomi perempuan, pengembangan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan keluarga, serta pemanfaatan teknologi secara positif dapat menjadi bagian dari ruang pengabdian yang dikembangkan secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, nilai-nilai keteladanan Ibu Ainun Habibie dan Sayyidah Khadijah dapat dipertemukan dalam sebuah semangat yang sama, yakni menghadirkan perempuan yang berilmu, berkarakter, mandiri, dan mampu mengubah kapasitas pribadi menjadi kekuatan sosial yang memberikan kemanfaatan.

Dr. Arfiani Rizki Paramata juga menempatkan kolaborasi sebagai salah satu fondasi penting dalam menjalankan amanah kepemimpinannya. Alisa “Khadijah” ICMI Provinsi Gorontalo diharapkan mampu membangun sinergi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, serta berbagai elemen strategis lainnya.

“Kita tidak ingin membangun organisasi yang hanya kuat secara struktur, tetapi lemah dalam manfaat. Ukuran keberhasilan kepemimpinan adalah ketika gagasan dapat menjadi karya, karya dapat dirasakan masyarakat, dan keberadaan organisasi mampu melahirkan perubahan yang baik. Itulah semangat yang ingin kami bangun di Gorontalo,” tegasnya.

Karena itu, RAKERNAS Alisa “Khadijah” ICMI di Bandung tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan semangat pengabdian perempuan cendekia dari berbagai daerah.

Pelantikan Dr. Arfiani Rizki Paramata sebagai Ketua Alisa “Khadijah” ICMI Provinsi Gorontalo diharapkan menjadi awal dari penguatan gerakan perempuan cendekia yang mampu menghadirkan karya nyata bagi masyarakat.

Dari Bandung menuju Gorontalo, amanah tersebut membawa pesan bahwa mengikuti jejak Khadijah bukan sekadar mengingat sosok besar dalam sejarah, melainkan menghidupkan nilai-nilai keteladanan melalui tindakan nyata.

Sementara membawa amanat Ibu Ainun Habibie berarti menjaga semangat bahwa ilmu pengetahuan, kecendekiaan, dan kapasitas perempuan harus bermuara pada pengabdian dan kemanfaatan.

Dengan semangat tersebut, kepemimpinan Dr. Arfiani Rizki Paramata diharapkan mampu menjadikan Alisa “Khadijah” ICMI Provinsi Gorontalo sebagai ruang tumbuh bagi perempuan yang berilmu, berintegritas, mandiri, kolaboratif, serta memiliki kepedulian kuat terhadap kemajuan masyarakat dan daerah.

Sebab, mengikuti jejak Khadijah bukan semata tentang meneladani sosoknya, tetapi tentang menghidupkan nilai-nilai perjuangannya dalam konteks zaman. Dan membawa amanat Ibu Ainun Habibie bukan sekadar mengenang keteladanannya, tetapi meneruskan semangat bahwa kecendekiaan akan menemukan makna tertingginya ketika diwujudkan dalam pengabdian dan kemanfaatan bagi sesama.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author

+ There are no comments

Add yours