Bekasi – Pasca ditetapkannya Bupati Bekasi, H. Ade Kuswara Kunang (ADK), sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, suasana batin masyarakat Kabupaten Bekasi seakan diliputi rasa duka yang mendalam. Peristiwa ini tidak hanya menjadi kabar hukum, tetapi juga meninggalkan jejak emosional yang kuat di tengah masyarakat yang selama ini mengenal ADK sebagai figur pemimpin yang dekat, ramah, dan membumi.
Di berbagai platform media sosial, gelombang empati dan keprihatinan mengalir deras. Warga Kabupaten Bekasi dari berbagai lapisan terlihat ramai-ramai membagikan unggahan bernuansa duka, mulai dari video perjalanan hidup dan pengabdian ADK sebelum Pilkada, hingga momen-momen kebersamaan setelah beliau dipercaya menjabat sebagai Bupati Bekasi. Potongan kenangan itu seolah menjadi narasi kolektif tentang sosok pemimpin yang telah meninggalkan kesan mendalam di hati rakyatnya.
Tidak sedikit pula masyarakat yang menuturkan kisah personal dan pengalaman langsung bersama ADK maupun ayahandanya, H. M. Kunang (HMK). Bagi banyak warga, keduanya bukan sekadar figur publik, melainkan tokoh panutan yang dikenal santun dalam bertutur, kuat dalam menjaga etika, serta dermawan dalam tindakan sosial. Nilai-nilai itulah yang membuat ADK dan HMK tumbuh sebagai figur yang dicintai dan dihormati di Kabupaten Bekasi.
Rasa tidak percaya pun menjadi ekspresi yang paling sering muncul. Banyak masyarakat mengaku terkejut dan terpukul, karena selama ini citra ADK dan HMK dikenal jauh dari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran dan pengabdian. Dalam ingatan publik, keduanya identik dengan kepedulian sosial, keterbukaan terhadap masyarakat, serta komitmen membangun daerah dengan pendekatan humanis.
Meski demikian, masyarakat Kabupaten Bekasi juga menunjukkan kedewasaan berdemokrasi. Di tengah rasa sedih dan empati, mereka tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan, sembari menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Sikap ini mencerminkan bahwa masyarakat mampu memisahkan antara penghormatan terhadap sosok dan keteladanan pribadi, dengan mekanisme hukum yang harus ditegakkan secara adil dan bermartabat.
Bagi sebagian warga, peristiwa ini menjadi refleksi bersama bahwa pemimpin adalah manusia yang tak luput dari ujian kehidupan. Namun, kebaikan dan jasa yang pernah ditorehkan tetap hidup dalam ingatan masyarakat. ADK dan HMK, dengan segala kontribusi sosial dan kedekatannya dengan rakyat, telah menorehkan jejak yang tidak mudah terhapus dalam perjalanan Kabupaten Bekasi.
Kabupaten Bekasi hari ini memang berada dalam suasana keprihatinan. Namun di balik itu, tumbuh harapan agar daerah ini tetap melangkah maju, menjaga persatuan, serta menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran kolektif untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang berintegritas, berkeadilan, dan tetap berorientasi pada kepentingan rakyat.

