H. Ujang Suhana, S.H.: “Bendungan Walahar Adalah Warisan Peradaban dan Kebanggaan Karawang”

3 min read

Karawang — Swarajabar.id

Peringatan 100 tahun Bendungan Walahar menjadi momentum penting bagi masyarakat Karawang untuk menengok kembali sejarah panjang pertanian daerah yang dijuluki lumbung padi nasional. Hal ini disampaikan oleh H. Ujang Suhana, S.H., Pengacara Senior Karawang, yang menilai Bendungan Walahar bukan sekadar bangunan teknis, melainkan simbol kejayaan peradaban air yang memberikan manfaat luar biasa bagi masyarakat hingga satu abad lamanya.

Bendungan Walahar mulai dibangun pada 1918 dan rampung pada 1925 di bawah pengawasan ahli teknik perairan Belanda, C. Swaan Koopman. Sejak resmi beroperasi pada 30 November 1925, bendungan ini mengatur debit Sungai Citarum dan menjadi sumber irigasi untuk 87.396 hektare sawah di Karawang.

H. Ujang Suhana menjelaskan bahwa bendungan ini adalah salah satu infrastruktur kolonial yang tetap berdiri kokoh dan masih berfungsi baik hingga sekarang. “Arsitekturnya klasik Eropa, pintu airnya baja manual, dan hingga hari ini masih bekerja dengan baik. Ini bukti kecanggihan teknik pada masanya yang manfaatnya diwariskan kepada kita,” ujarnya.

Dari Perspektif Hukum: Bendungan Walahar Sesuai Amanat Regulasi Nasional

Sebagai ahli hukum, H. Ujang Suhana menilai Bendungan Walahar dapat dikaji dari berbagai aspek regulasi modern, di antaranya:

1. Hukum Pertanian

Pembangunan dan pemanfaatan Walahar sejalan dengan UU No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, yang menegaskan pentingnya ketersediaan air irigasi untuk mendukung produksi pangan.

2. Hukum Sumber Daya Air

Fungsi Walahar sebagai pengendali banjir dan pengatur debit air sesuai dengan prinsip dalam UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, yaitu pengelolaan air yang berkelanjutan dan berkeadilan.

3. Hukum Lingkungan Hidup

Menurut Ujang, pembangunan infrastruktur air harus selaras dengan UU No. 32 Tahun 2009, yang mengatur perlindungan ekosistem dan mengharuskan mitigasi dampak lingkungan.

“Bendungan Walahar bukan hanya infrastruktur teknis, tetapi juga objek hukum yang harus dikelola sesuai regulasi modern agar keberlanjutannya terjamin,” tegasnya.

Efektivitas Bendungan Walahar: Teruji Selama Satu Abad

Dalam catatan sejarah dan hukum, H. Ujang Suhana menilai efektivitas bendungan ini tidak bisa diragukan lagi.

Efektivitas Irigasi:
“Walahar meningkatkan produksi pertanian Karawang secara signifikan. Inilah yang menjadikan Karawang sebagai lumbung pangan nasional.”

Efektivitas Pengendalian Banjir:
“Fungsi pengaturan air membuat wilayah Karawang terlindungi dari banjir besar, meski saat ini perlu revitalisasi dan pemeliharaan lebih intensif.”

Efektivitas Lingkungan:
Ujang mengingatkan bahwa perubahan ekosistem akibat bendungan harus terus dikelola dengan pendekatan lingkungan yang lebih modern.

Manfaat Bendungan Walahar yang Dianggap Strategis

H. Ujang Suhana juga menjabarkan berbagai manfaat Walahar bagi masyarakat Karawang:

Sumber irigasi utama pertanian.

Pengendali banjir wilayah hilir.

Berpotensi dikembangkan sebagai PLTA berskala menengah.

Menjadi objek wisata sejarah dan edukasi.

Mendukung budidaya ikan dan ekonomi masyarakat.

Menjadi sarana pendidikan dan peningkatan kesadaran lingkungan.

Mendorong pengembangan infrastruktur sekitar.

“Bendungan ini bukan hanya mengalirkan air, tetapi mengalirkan kehidupan,” kata Ujang.

Apresiasi dan Pesan Masyarakat dari H. Ujang Suhana

Sebagai putra daerah Karawang, H. Ujang Suhana menyampaikan apresiasi kepada para insinyur Belanda yang membangun bendungan tersebut.

“Kita harus objektif melihat sejarah. Apa yang dibangun Belanda melalui C. Swaan Koopman adalah warisan monumental yang hari ini masih kita rasakan manfaatnya. Dan sebagai generasi penerus, kita wajib menjaganya,” tutur pengacara senior itu.

Seruan Ujang Suhana untuk Warga Karawang

Menutup pernyataannya, H. Ujang Suhana mengajak seluruh masyarakat Karawang untuk menjadikan peringatan 100 tahun Bendungan Walahar sebagai momentum kebangkitan.

“Selamat Ulang Tahun ke-100 Bendungan Walahar!
Engkaulah simbol kejayaan pertanian Karawang, sumber kehidupan, kekuatan, dan kebanggaan kami.”

Ia menambahkan pesan moral yang kuat:

“Mari kita jaga dan lestarikan warisan ini, kita tingkatkan produksi pertanian, dan kita wujudkan kembali Karawang sebagai lumbung pangan nasional. Dengan pertanian yang kuat, kita bisa bangkit, kita bisa jaya, dan kita bisa maju.”

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours