Bekasi, Agustus 2025 – Di tengah maraknya persoalan sampah plastik yang semakin menghimpit kehidupan masyarakat, hadir secercah harapan dari seorang penggiat lingkungan asal Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Lewat inovasi cerdasnya, ia berhasil menyulap limbah plastik multilayer metalik—jenis sampah yang selama ini dianggap mustahil diolah—menjadi produk bernilai seni tinggi bernama ECOPOTIC (Eco Pot Estetik).

Berkat karya inovatif ini, ia berhasil meraih Juara II dalam ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) Kabupaten Bekasi Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bekasi. Penghargaan tersebut diberikan pada prosesi penyerahan pemenang pada Agustus 2025, setelah kompetisi berlangsung sejak April lalu.
Sampah yang Sulit, Disulap Jadi Produk Bernilai
Isu sampah plastik multilayer metalik sudah lama menjadi momok. Selain sulit dipisahkan komponen bahannya, biaya daur ulangnya pun tergolong mahal. Tidak heran bila selama ini jenis sampah tersebut menumpuk dan hanya menambah beban lingkungan.

Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan yang menginspirasi Tatang Sumarna, Direktur Bank Sampah MPB, bersama Dr. Wildan, mahasiswa program doktoral ITB. Berbekal riset mendalam, keduanya berhasil menciptakan ECOPOTIC—produk ramah lingkungan yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memiliki daya tarik estetika.
“Harapan kami, masalah sampah dapat ditangani sejak dari hulu. Bank sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi lewat inovasi seperti ini,” ujar Tatang Sumarna penuh optimisme.
Desain Unik, Potensi Ekonomi Global
ECOPOTIC dibuat dengan teknik sederhana, biaya murah, dan bahan yang mudah diperoleh. Namun, hasil akhirnya justru sangat estetik dan bernilai seni. Setiap pot memiliki corak serta warna yang berbeda, sehingga menjadikannya unik dan eksklusif. Hal inilah yang membuat juri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai ECOPOTIC sebagai “terobosan baru yang belum pernah ada sebelumnya.”
Lebih dari sekadar produk ramah lingkungan, ECOPOTIC berpotensi menjadi komoditas ekspor dengan nilai ekonomi yang tinggi. Bagi masyarakat, produk ini dapat menjadi contoh nyata bahwa sampah, jika dikelola dengan kreatif dan tepat, mampu berubah menjadi sumber keberkahan.
Butuh Dukungan dan Sinergi Bersama
Tatang menyadari, inovasi ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi dari berbagai pihak—pemerintah, swasta, akademisi, hingga masyarakat—agar ECOPOTIC dapat berkembang lebih luas.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi turut memberikan dukungan penuh pada gagasan-gagasan kreatif anak daerah. Jika semua pihak bersatu, persoalan sampah bukan lagi masalah, melainkan peluang untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Keberhasilan ECOPOTIC bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga bukti bahwa inovasi bisa lahir dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kisah ini menjadi motivasi bagi generasi muda agar tidak berhenti mencari solusi kreatif. Sebab, masa depan bumi bergantung pada langkah kecil yang berani dimulai hari ini.
