Bekasi – Di tengah riuhnya pemberitaan soal dugaan perselingkuhan yang menyeret nama oknum istri seorang pejabat publik, muncul suara kritis yang membuka tabir lain dari skandal ini. Ketua Umum Forum Komunikasi Warga Bekasi (FKWB), H. Apud Syaepudin, menilai bahwa isu ini tidak berdiri sendiri, melainkan sarat rekayasa politik yang berbahaya.
Dikenal pula sebagai Ketua DPC WBI (Warga Bumiputera Indonesia) dan Ketua WJI (Warga Jaya Indonesia) Kabupaten Bekasi, H. Apud menilai, pola-pola penghancuran karakter dengan dalih isu moral sudah terlalu sering terjadi, terutama saat lawan tidak bisa dijatuhkan dari sisi profesional.
> “Ini aneh. Kalau benar selingkuh, kenapa malah dipanggilkan media, lalu dibuka sendiri aibnya? Bukannya disembunyikan, malah dijadikan konsumsi publik. Aneh banget, masa orang selingkuh sengaja dipublikasikan?” ujar H. Apud, menyentil keras narasi yang belakangan muncul di ruang publik.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tudingan perselingkuhan tidak bisa hanya bersandar pada obrolan mesra atau sapaan romantis dalam pesan singkat. “Perselingkuhan itu terjadi kalau dua-duanya saling mau. Kalau si perempuan tidak ingin, tidak bisa disebut selingkuh. Ini logika publik sedang dikacaukan,” ujarnya.
Diduga Ada Rekayasa Politik
Sorotan tajam juga diarahkan pada pola munculnya kasus ini yang dinilai terlalu janggal. Menurutnya, cara isu ini diledakkan ke publik justru memperkuat dugaan bahwa ada tangan-tangan tak terlihat yang tengah menyusun narasi untuk menjatuhkan nama baik Direktur Usaha PERUMDA Tirta Bhagasasi.
> “Kalau dari sisi kinerja dan profesional tidak bisa dijatuhkan, maka celah pribadi yang dicari. Itu pola klasik. Dan ini seperti sedang dijalankan sekarang. Ini bukan urusan moral, ini pembunuhan karakter,” tegasnya.
Sebagai Direktur Usaha di perusahaan umum daerah yang mengelola hajat hidup masyarakat melalui pelayanan air bersih, posisi yang bersangkutan dinilai cukup strategis dan potensial menjadi sasaran politik oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan.
> “Kita jangan naif. Ini terkesan seperti skenario yang didesain untuk menghancurkan kredibilitas beliau. Isu ini bisa jadi bukan sekadar gosip rumah tangga, tapi bagian dari operasi sistematis,” ungkap H. Apud.
Sikap Suami Dipertanyakan
Tak hanya itu, sikap pasif dari suami perempuan yang terlibat—yang notabene adalah seorang anggota legislatif—juga dipertanyakan. Ketika pengakuan mengejutkan muncul, sikap yang ditampilkan justru datar dan tanpa perlawanan.
> “Kalau memang benar istrinya mengaku, ya harus ada sikap dari suaminya. Kalau tidak benar, klarifikasi. Ini malah diam. Sikap diam ini justru menimbulkan tanda tanya besar. Ada apa sebenarnya?” tutur H. Apud.
Warga Bekasi Harus Melek Politik dan Moral
Di akhir pernyataannya, H. Apud mengajak masyarakat Bekasi untuk tidak larut dalam provokasi yang menyamarkan niat politik di balik isu moral. Ia menyerukan agar warga lebih kritis, tidak mudah dipengaruhi narasi-narasi yang dikemas seolah demi kepentingan publik, padahal bisa jadi hanya untuk menghancurkan seseorang secara pribadi.
> “Kalau memang ada kesalahan dalam menjalankan tugas publik, ya kritisi secara profesional. Jangan rusak rumah tangga orang hanya demi ambisi politik. Ini sudah di luar batas etika,” tegasnya.
Dengan semangat gerakan yang dibawanya, H. Apud menutup pernyataannya dengan seruan khas tiga organisasi yang ia pimpin:
WJI: “Bergerak Maju Menang!”
WBI: “Indonesia Untuk Bangsa Indonesia!”
Bekasi: “Bangkit Maju Sejahtera!”


+ There are no comments
Add yours