Bogor, SWARA JABAR – Dalam dinamika pemberitaan yang kian kompleks, peran Insan pers sebagai pilar keempat demokrasi menjadi sangat strategis. R.M.A Herry S. Al Banjary, atau yang lebih akrab disapa Kang Harry, seorang insan pers nasional yang dikenal luas karena integritas, independensi, dan obyektivitasnya, angkat bicara mengenai pernyataan Kang Dedi Mulyadi (KDM) seputar kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan media massa.

Sebagai Pimpinan Umum sekaligus CEO Swara Jabar Multimedia Group, Kang Harry menilai pernyataan KDM sebagai bentuk kritik yang konstruktif dan perlu dijadikan bahan evaluasi bersama oleh seluruh pihak, khususnya insan pers dan pemerintah daerah.
“Kalau bagi saya ini bagus, kenapa? Karena selama ini yang terjadi adalah Pemda cenderung pilih-pilih media. Hanya media tertentu yang digandeng kerja sama, bahkan dalam banyak kasus hanya satu organisasi pers yang dilibatkan. Ini jelas bisa diindikasikan sebagai diskriminasi terhadap insan pers yang seharusnya diberi ruang yang sama untuk berkontribusi. Akibatnya, terjadi ketimpangan dan ketidakadilan bagi insan pers secara luas,” ujarnya.
Menurut Kang Harry, fenomena “di anak tirikan” terhadap media-media lokal atau organisasi pers kecil bukan hal baru. Banyak dari mereka yang tidak dilibatkan oleh pemerintah daerah, kecuali dalam situasi darurat atau saat membutuhkan pemberitaan yang sangat mendesak.
“Keadilan dalam kerja sama harus dikedepankan. Jangan hanya media besar atau organisasi tertentu saja yang dilibatkan. Padahal para wartawan dan jurnalis lokal juga bekerja keras mempublikasikan aktivitas pemerintahan,” tambahnya.
Kang Harry juga menyinggung kondisi salah satu organisasi pers nasional yang saat ini tengah mengalami konflik dualisme akibat dugaan penyelewengan anggaran bantuan dari pemerintah. Situasi tersebut, menurutnya, menjadi cerminan pentingnya transparansi dan pemerataan dukungan.
“Bantuan dari pemerintah harusnya benar-benar sampai ke mereka yang bekerja di lapangan. Baik yang tergabung dalam organisasi maupun yang tidak. Karena pada akhirnya, mereka semua punya peran yang sama dalam menyuarakan kepentingan publik,” ungkapnya.
Kang Harry menegaskan bahwa insan pers harus tetap independen dalam kondisi apapun. Ia mengingatkan agar isu yang sedang berkembang tidak ditunggangi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
“Insan pers harus tetap independen dalam hal apapun. Jangan sampai momentum ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, apalagi dipolitisasi oleh oknum politisi yang hanya ingin menggerakkan media demi kepentingan politik mereka,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh awak media untuk tidak mudah terbawa arus opini liar yang berkembang di ruang publik, terutama yang menyeret nama tokoh seperti KDM.
“Wartawan itu punya wawasan, akses, dan jaringan dua kali lebih luas dibanding masyarakat biasa. Maka, langkah terbaik adalah melakukan klarifikasi langsung ke KDM, tabayyun, dan mendengar langsung dari perspektif beliau. Bukan ikut hanyut dalam pusaran isu liar yang sedang diarahkan secara sistematis,” imbuh Kang Harry.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pers seharusnya menjadi pencipta dan pengendali isu, bukan hanya menjadi pengikut atau korban framming.
“Jurnalis bukan sekadar peliput. Mereka adalah pembentuk opini, penjaga nalar publik. Maka harus cerdas, kritis, dan tetap teguh menjaga marwah profesi, apapun kepentingan yang sedang bermain di belakang layar,” tutupnya.
Dengan pengalaman panjang dan rekam jejak bersihnya di dunia jurnalistik, R.M.A Herry S. Al Banjary atau Kang Harry terus menunjukkan konsistensi sebagai suara independen yang menyejukkan dan meneguhkan nilai-nilai keadilan serta profesionalisme di tengah arus deras dinamika politik dan media saat ini, untuk menjadikan media yang Bersahabat, Bermanfaat dan Bermartabat. (Opik)


+ There are no comments
Add yours