NU Kabupaten Bekasi Menggeliat Menjelang Konfercab X: Menjaga Marwah, Meneguhkan Kepemimpinan.

3 min read

Kabupaten Bekasi – Jelang Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (Konfercab NU) Kabupaten Bekasi ke-X Tahun 2025, atmosfer pergulatan gagasan dan semangat pembaruan kian terasa menguat. Di tengah sorotan publik dan dinamika organisasi yang sarat tarik-menarik kepentingan, Ketua GP Ansor Kabupaten Bekasi Gus Hasan tampil lantang menyuarakan sikap tegas: NU Kabupaten Bekasi harus kembali pada marwahnya—mandiri, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk intervensi.

 

Dalam sebuah sarasehan yang penuh kekhidmatan, Gus Hasan menyampaikan pokok pikirannya dengan metafora khas pesantren, mengaitkan inti ilmu alat dengan kondisi realitas warga Nahdliyin hari ini. Pendekatan itu bukan hanya cerdas, tetapi juga menyentuh akar budaya keilmuan NU.

1. Mufrad: NU Harus Berdiri Tegak, Satu Tubuh, Tak Bisa Digoyahkan

Dengan penuh penekanan, Gus Hasan menyebut bahwa kondisi ideal NU Kabupaten Bekasi adalah “mufrad”.

“Mufrad itu satu kesatuan, kokoh, tidak mudah dicampuri dan tak gampang ditundukkan. Itulah NU Kabupaten Bekasi yang kita idamkan: berdiri di atas kaki sendiri, merdeka dalam menentukan arah organisasi.”

Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa NU bukan panggung transaksional, tetapi rumah perjuangan.

2. Jama’ Taksir: Perbedaan Pilihan Itu Wajar, Tapi Tujuan Kita Tetap Satu!

Ia kemudian mengupas dinamika pilihan dalam kontestasi, yang ia ibaratkan sebagai jama’ taksir—beragam dan tak seragam bentuknya.

“Ada yang ke A, ada yang ke B. Ada yang memilih ke kanan, ada yang mengarahkan ke kiri. Semua itu lumrah dalam demokrasi jam’iyah. Yang penting, tujuan kita tunggal: menjaga marwah NU dan memastikan Konfercab berjalan berkah.”

Nada tegas ini mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk retak, melainkan energi untuk semakin solid.

3. Jamak Muannats Salim: Perempuan NU adalah Penopang Kekokohan Jam’iyah

Dengan penuh penghormatan, Gus Hasan menyampaikan penghargaan khusus kepada Muslimat NU dan Fatayat NU.

“NU tidak akan menjadi besar tanpa perempuan-perempuan shalihah yang ikhlas berkhidmat. Muslimat dan Fatayat adalah pilar. Mereka adalah cahaya yang menjaga keseimbangan jam’iyah.”

Metafora ini menegaskan bahwa kekuatan NU bukan hanya laki-laki di struktural, tetapi juga perempuan yang bergerak senyap namun berdampak besar.

4. Waaw Jama’: Kekuatan Senyap Nahdliyin yang Tak Tercatat Tapi Menggelegar Jumlahnya

Gus Hasan juga menyinggung kelompok besar warga Nahdliyin non-struktural.

“Mungkin mereka tidak punya jabatan, tidak tercatat di SK, tetapi cinta dan loyalitas mereka kepada NU tidak bisa diukur. Mereka inilah gelombang besar yang menghidupkan NU Kabupaten Bekasi.”

Kelompok ini, menurutnya, adalah “tentara tanpa seragam” yang telah mengokohkan tradisi keagamaan, sosial, dan budaya.

IPNU–IPPNU: Penjaga Masa Depan NU

Menegaskan pentingnya regenerasi, Gus Hasan menyebut IPNU dan IPPNU sebagai pewaris sah perjuangan para muassis NU.

“Mereka ibnu dan binti NU. Mereka bukan sekadar pelajar, tapi calon pemimpin jam’iyah. Mereka harus dibimbing, diarahkan, dan dipersiapkan untuk memegang estafet perjuangan NU di masa depan.”

Ia mengingatkan bahwa tanpa kaderisasi yang terarah, organisasi sebesar NU akan kehilangan denyut masa depannya.

Seruan Penutup: Jangan Lewatkan Pencerahan!

Mengakhiri sambutannya, Gus Hasan menyeru seluruh hadirin untuk menyimak forum dengan khidmat.

“Hari ini kita berikhtiar menata masa depan NU Kabupaten Bekasi. InsyaAllah para pemateri akan mengurai arah, solusi, dan pencerahan. Mari kita ikuti dengan sepenuh hati, agar langkah kita semakin diridhai.”

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

More From Author

+ There are no comments

Add yours