Ular Sanca Teror Warga Karangsari, Kepala Desa H. Bao Umbara Siap Kawal Aspirasi Warga ke Pihak Perusahaan

4 min read

BEKASI — Warga Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, dibuat resah dan ketakutan akibat kemunculan berulang ular sanca batik (python) yang diduga keluar dari area perusahaan besar di wilayah mereka. Dalam sebulan terakhir saja, warga telah empat kali dihebohkan dengan penemuan ular besar yang memangsa hewan peliharaan dan bahkan hampir membahayakan nyawa seorang bayi.

 

Peristiwa terakhir terjadi sekitar sepekan lalu, saat seekor ular sanca berukuran hampir 4 meter ditemukan melilit di atas ayunan bayi berusia enam bulan yang sedang tertidur lelap di Kampung Kalender Wark, Desa Karangsari. Kejadian itu sontak membuat warga panik dan segera mengevakuasi bayi serta menangkap ular tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Diduga Keluar dari Area Perusahaan

Menurut keterangan Oman Suwardi, warga yang menjadi saksi mata sekaligus penangkap ular tersebut, ular-ular besar itu diyakini berasal dari kawasan PT. MICHELIN (dahulu PT. Multistrada) yang lokasinya berdekatan langsung dengan permukiman warga.

“Ular itu keluar dari arah dalam pabrik. Sejak pagar temboknya rusak dan diganti pagar BRC (pagar besi tipis), hewan buas seperti ular mudah sekali keluar ke lingkungan warga,” ungkap Oman.

Ia juga menuturkan bahwa bagian belakang area perusahaan kini dipenuhi semak belukar dan sangat gelap di malam hari karena minim penerangan. Kondisi tersebut, katanya, menjadi tempat ideal bagi ular untuk berkembang biak dan bersembunyi. “Parahnya, rumah warga yang hampir diterkam itu posisinya menempel langsung dengan pagar pabrik,” tambahnya dengan nada prihatin.

Warga Mengadu kepada Kepala Desa

Khawatir keselamatan mereka terancam, warga Kampung Kalender Wark pun beramai-ramai mengadu kepada Kepala Desa Karangsari, H. Bao Umbara, agar pemerintah desa segera mengambil tindakan nyata. Selain persoalan ular, warga juga menyampaikan keluhan lain tentang terhentinya program tanggung jawab sosial (CSR) dari perusahaan yang dulunya rutin dijalankan oleh manajemen lama (PT. Multistrada).

Sebelumnya, perusahaan tersebut dikenal aktif memberikan bantuan sosial berupa pembagian sembako setiap tiga bulan sekali, santunan kematian sebesar Rp1 juta per warga yang meninggal, dukungan kegiatan keagamaan setiap PHBI, hingga penerangan jalan umum di lingkungan sekitar. Namun, sejak lima tahun terakhir—setelah pergantian manajemen—seluruh program sosial itu berhenti total.

“Kami bukan hanya takut sama ular, tapi juga merasa seperti tidak diperhatikan lagi. Padahal dulu, perusahaan lama sangat peduli dengan warga sekitar,” keluh seorang tokoh masyarakat setempat.

H. Bao Umbara: Pemerintah Desa Akan Menjadi Jembatan Aspirasi Warga

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Desa Karangsari, H. Bao Umbara, langsung turun ke lapangan dan menemui warga yang terdampak. Ia menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian yang membahayakan warganya dan berjanji akan segera menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pihak perusahaan.

“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Saya sudah meminta perangkat desa untuk mendata semua laporan warga dan meninjau lokasi di sekitar pagar perusahaan,” ujar H. Bao Umbara dengan tegas.

Lebih lanjut, H. Bao menegaskan bahwa pemerintah desa tidak akan tinggal diam. Ia akan memfasilitasi komunikasi antara warga dan pihak perusahaan agar segera dilakukan langkah-langkah konkret untuk mengatasi ancaman binatang buas sekaligus meninjau kembali pelaksanaan program CSR yang selama ini terhenti.

“Kami ingin perusahaan hadir kembali di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai tempat bekerja, tapi juga mitra sosial yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Warga butuh rasa aman dan hak untuk hidup tenang di desanya sendiri,” ujarnya penuh empati.

Desa dan Perusahaan Diharapkan Bersinergi

H. Bao Umbara menilai, masalah keamanan lingkungan dan kesejahteraan warga tidak bisa dipisahkan. Ia berharap perusahaan besar di wilayahnya bisa menjadi contoh dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lokal.

“Kalau perusahaan peduli dan warga merasa aman, pasti tidak ada masalah. Kita ingin lingkungan ini tetap kondusif, aman, dan saling menghormati,” tutupnya.

Catatan Redaksi:

Kasus yang terjadi di Desa Karangsari ini menjadi pengingat penting bahwa keselamatan warga dan kepedulian sosial perusahaan harus berjalan beriringan. Kepala Desa H. Bao Umbara menunjukkan kepemimpinan yang responsif dan humanis — menjadi penyambung lidah rakyat yang berani memperjuangkan aspirasi warganya di hadapan pihak manapun demi keamanan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours