KARAWANG — Membangun keluarga berkualitas merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, legislatif, keluarga, serta seluruh unsur masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., di Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, pada 6 Agustus 2026.
Sebagai mitra kerja Kemendukbangga/BKKBN, Komisi IX DPR RI turut berperan dalam memperkenalkan dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap berbagai program pemerintah di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga.
Cellica Nurrachadiana atau yang akrab disapa Teh Celly mengajak masyarakat melihat pembangunan keluarga sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, keluarga bukan hanya tempat tumbuh dan berkembangnya anak, tetapi juga lingkungan pertama dalam pembentukan karakter, kesehatan, nilai-nilai kehidupan, serta kesiapan generasi menghadapi masa depan.
Salah satu program yang menjadi perhatian dalam sosialisasi tersebut adalah Gerakan Orang Tua Cegah Stunting atau Genting. Program ini mendorong keterlibatan orang tua dan keluarga dalam upaya pencegahan stunting melalui perhatian terhadap kesehatan, gizi, pola asuh, sanitasi, serta tumbuh kembang anak.
Cellica menjelaskan, stunting tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi fisik anak, tetapi merupakan persoalan pertumbuhan dan perkembangan yang perlu dicegah sejak dini. Dampaknya dapat berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak apabila tidak ditangani melalui langkah yang tepat dan berkelanjutan.
Karena itu, pencegahan stunting menurutnya perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemenuhan gizi yang baik harus berjalan beriringan dengan pola pengasuhan yang tepat, lingkungan yang sehat, akses pelayanan kesehatan, serta pengetahuan keluarga mengenai kebutuhan tumbuh kembang anak.
Berbagi pengalaman selama memimpin Kabupaten Karawang, Cellica menyampaikan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu menjadi agenda bersama, termasuk di wilayah perkotaan. Kesibukan orang tua dalam menjalankan aktivitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari dapat menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan kebutuhan anak tetap mendapatkan perhatian yang optimal.
“Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, pola makan yang baik, serta lingkungan yang bersih. Karena itu, mencegah stunting merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah hadir memberikan dukungan dan edukasi, sementara keluarga memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan anak terpenuhi,” ujar Cellica.
Selain Genting, Cellica juga memperkenalkan Si Daya atau Lansia Berdaya, sebuah pendekatan yang mendorong masyarakat lanjut usia agar tetap sehat, aktif, produktif, mandiri, dan memiliki ruang untuk berkontribusi di tengah keluarga maupun lingkungan sosial.
Menurutnya, pembangunan keluarga harus mencakup seluruh tahapan kehidupan. Perhatian terhadap lansia tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga penghargaan terhadap pengalaman, pengetahuan, serta peran sosial mereka dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Cellica juga mengajak para ayah untuk semakin aktif dalam pengasuhan melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI. Keterlibatan ayah dinilai memiliki arti penting dalam membangun komunikasi keluarga, memberikan keteladanan, serta mendampingi proses tumbuh kembang anak.
“Pembangunan generasi masa depan membutuhkan kehadiran kedua orang tua. Ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dalam memberikan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan keteladanan kepada anak,” jelasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Wahyuniati, S.Ip., MPH., menekankan bahwa pembangunan keluarga pada dasarnya berkaitan erat dengan perubahan perilaku. Karena itu, pendekatan kepada masyarakat perlu dilakukan secara rasional sekaligus menyentuh aspek emosional dan kemanusiaan.
“Karena yang diurus adalah perilaku, maka pendekatan yang dilakukan tidak hanya rasional, tetapi membutuhkan pendekatan dari hati,” ujar Wahyuniati.
Ia menjelaskan, penguatan keluarga dapat dilakukan melalui pemahaman dan penerapan delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.
Menurut Wahyuniati, percepatan pelayanan dan edukasi terkait delapan fungsi keluarga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk tenaga lini lapangan. Penyuluh Keluarga Berencana dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana memiliki peran penting dalam menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat keluarga.
“Perlu dilakukan percepatan pelayanan yang berkenaan dengan delapan fungsi keluarga. Nantinya akan banyak edukasi yang disampaikan oleh tenaga lini lapangan, khususnya PKB dan PLKB,” jelasnya.
Wahyuniati menambahkan, ketahanan keluarga merupakan salah satu fondasi penting dalam menentukan kualitas masa depan bangsa. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, namun penggunaannya juga perlu disertai literasi dan pendampingan agar dapat memberikan dampak positif bagi keluarga.
Menurutnya, keluarga membutuhkan dukungan untuk menghadapi berbagai dinamika kehidupan, termasuk perubahan pola komunikasi, perkembangan teknologi, serta tantangan dalam pengasuhan anak. Kehadiran pemerintah diharapkan mampu memberikan edukasi, pendampingan, dan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman bahwa keluarga berkualitas tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari komunikasi yang sehat, pengasuhan yang penuh perhatian, lingkungan yang mendukung, kesehatan yang terjaga, serta kesediaan setiap anggota keluarga untuk menjalankan perannya secara bertanggung jawab.
Melalui sinergi antara DPR RI, Kemendukbangga/BKKBN, pemerintah daerah, tenaga lini lapangan, dan masyarakat, pembangunan keluarga diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Pada akhirnya, mewujudkan Indonesia Emas bukan hanya tentang menyiapkan generasi yang unggul secara akademik dan ekonomi, tetapi juga generasi yang sehat, berkarakter, memiliki kepedulian sosial, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap anggotanya untuk berkembang.
Dari keluarga yang kuat dan saling mendukung, lahir generasi yang lebih siap menghadapi masa depan. Dan dari generasi yang berkualitas, Indonesia memiliki fondasi yang semakin kokoh untuk melangkah menuju Indonesia Emas.


+ There are no comments
Add yours