“Teh Cely” Bersama Kemendukbangga/BKKBN Dorong Masyarakat Karawang Wujudkan Keluarga Berkualitas

5 min read

KARAWANG — Membangun keluarga berkualitas merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, legislatif, keluarga, serta seluruh unsur masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., di Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, pada 6 Agustus 2026.

Sebagai mitra kerja Kemendukbangga/BKKBN, Komisi IX DPR RI turut berperan dalam memperkenalkan dan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap berbagai program pemerintah di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga.

Cellica Nurrachadiana atau yang akrab disapa Teh Celly mengajak masyarakat melihat pembangunan keluarga sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, keluarga bukan hanya tempat tumbuh dan berkembangnya anak, tetapi juga lingkungan pertama dalam pembentukan karakter, kesehatan, nilai-nilai kehidupan, serta kesiapan generasi menghadapi masa depan.

Salah satu program yang menjadi perhatian dalam sosialisasi tersebut adalah Gerakan Orang Tua Cegah Stunting atau Genting. Program ini mendorong keterlibatan orang tua dan keluarga dalam upaya pencegahan stunting melalui perhatian terhadap kesehatan, gizi, pola asuh, sanitasi, serta tumbuh kembang anak.

Cellica menjelaskan, stunting tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi fisik anak, tetapi merupakan persoalan pertumbuhan dan perkembangan yang perlu dicegah sejak dini. Dampaknya dapat berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak apabila tidak ditangani melalui langkah yang tepat dan berkelanjutan.

Karena itu, pencegahan stunting menurutnya perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemenuhan gizi yang baik harus berjalan beriringan dengan pola pengasuhan yang tepat, lingkungan yang sehat, akses pelayanan kesehatan, serta pengetahuan keluarga mengenai kebutuhan tumbuh kembang anak.

Berbagi pengalaman selama memimpin Kabupaten Karawang, Cellica menyampaikan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu menjadi agenda bersama, termasuk di wilayah perkotaan. Kesibukan orang tua dalam menjalankan aktivitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari dapat menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan kebutuhan anak tetap mendapatkan perhatian yang optimal.

“Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, pola makan yang baik, serta lingkungan yang bersih. Karena itu, mencegah stunting merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah hadir memberikan dukungan dan edukasi, sementara keluarga memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan anak terpenuhi,” ujar Cellica.

Selain Genting, Cellica juga memperkenalkan Si Daya atau Lansia Berdaya, sebuah pendekatan yang mendorong masyarakat lanjut usia agar tetap sehat, aktif, produktif, mandiri, dan memiliki ruang untuk berkontribusi di tengah keluarga maupun lingkungan sosial.

Menurutnya, pembangunan keluarga harus mencakup seluruh tahapan kehidupan. Perhatian terhadap lansia tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga penghargaan terhadap pengalaman, pengetahuan, serta peran sosial mereka dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Cellica juga mengajak para ayah untuk semakin aktif dalam pengasuhan melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI. Keterlibatan ayah dinilai memiliki arti penting dalam membangun komunikasi keluarga, memberikan keteladanan, serta mendampingi proses tumbuh kembang anak.

“Pembangunan generasi masa depan membutuhkan kehadiran kedua orang tua. Ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dalam memberikan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan keteladanan kepada anak,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Wahyuniati, S.Ip., MPH., menekankan bahwa pembangunan keluarga pada dasarnya berkaitan erat dengan perubahan perilaku. Karena itu, pendekatan kepada masyarakat perlu dilakukan secara rasional sekaligus menyentuh aspek emosional dan kemanusiaan.

“Karena yang diurus adalah perilaku, maka pendekatan yang dilakukan tidak hanya rasional, tetapi membutuhkan pendekatan dari hati,” ujar Wahyuniati.

Ia menjelaskan, penguatan keluarga dapat dilakukan melalui pemahaman dan penerapan delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.

Menurut Wahyuniati, percepatan pelayanan dan edukasi terkait delapan fungsi keluarga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk tenaga lini lapangan. Penyuluh Keluarga Berencana dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana memiliki peran penting dalam menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat keluarga.

“Perlu dilakukan percepatan pelayanan yang berkenaan dengan delapan fungsi keluarga. Nantinya akan banyak edukasi yang disampaikan oleh tenaga lini lapangan, khususnya PKB dan PLKB,” jelasnya.

Wahyuniati menambahkan, ketahanan keluarga merupakan salah satu fondasi penting dalam menentukan kualitas masa depan bangsa. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, namun penggunaannya juga perlu disertai literasi dan pendampingan agar dapat memberikan dampak positif bagi keluarga.

Menurutnya, keluarga membutuhkan dukungan untuk menghadapi berbagai dinamika kehidupan, termasuk perubahan pola komunikasi, perkembangan teknologi, serta tantangan dalam pengasuhan anak. Kehadiran pemerintah diharapkan mampu memberikan edukasi, pendampingan, dan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman bahwa keluarga berkualitas tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari komunikasi yang sehat, pengasuhan yang penuh perhatian, lingkungan yang mendukung, kesehatan yang terjaga, serta kesediaan setiap anggota keluarga untuk menjalankan perannya secara bertanggung jawab.

Melalui sinergi antara DPR RI, Kemendukbangga/BKKBN, pemerintah daerah, tenaga lini lapangan, dan masyarakat, pembangunan keluarga diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Pada akhirnya, mewujudkan Indonesia Emas bukan hanya tentang menyiapkan generasi yang unggul secara akademik dan ekonomi, tetapi juga generasi yang sehat, berkarakter, memiliki kepedulian sosial, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap anggotanya untuk berkembang.

Dari keluarga yang kuat dan saling mendukung, lahir generasi yang lebih siap menghadapi masa depan. Dan dari generasi yang berkualitas, Indonesia memiliki fondasi yang semakin kokoh untuk melangkah menuju Indonesia Emas.

Bagikan berita/artikel ini

Baca juga artikel menarik lainnya

Hari Veteran Nasional 2026, ASDO PPM Karawang: “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia” KARAWANG — Peringatan Hari Veteran Nasional (HARVETNAS) setiap 10 Agustus bukan sekadar momentum seremonial, melainkan ruang refleksi bagi bangsa Indonesia untuk kembali mengenang jasa, pengorbanan, dan pengabdian para Veteran Republik Indonesia yang telah berjuang merebut, mempertahankan, serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pesan tersebut disampaikan ASDO, Sekretaris PC Pemuda Panca Marga (PPM) Karawang, bertepatan dengan Hari Veteran Nasional 2026. Dengan penuh penghormatan kepada para pejuang bangsa, ASDO menyampaikan pesan yang sarat makna: “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia. Terima kasih atas perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang telah diberikan untuk bangsa dan negara.” Menurut ASDO, sejarah perjuangan para veteran harus terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Terlebih di tengah perkembangan zaman, masih terdapat masyarakat, pelajar, dan generasi muda yang belum memahami secara utuh sejarah Veteran Republik Indonesia maupun keberadaan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) sebagai wadah perjuangan dan pengabdian para veteran. “Masih banyak masyarakat, pelajar dan generasi muda yang belum memahami tentang Veteran Republik Indonesia dalam wadah LVRI. Karena itu, sejarah perjuangan para veteran harus terus disampaikan dan diwariskan kepada generasi penerus,” ujar ASDO. 10 Agustus dan Jejak Sejarah Veteran Nasional ASDO menjelaskan, Hari Veteran Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 tentang Hari Veteran Nasional. Tanggal 10 Agustus kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Veteran Nasional, berkaitan dengan momentum gencatan senjata pada 10 Agustus 1949 yang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, keberadaan dan pengaturan mengenai Veteran Republik Indonesia memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia serta Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2014 sebagai aturan pelaksanaannya. “Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan sejarah. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak diperoleh dengan mudah. Ada darah, air mata, pengorbanan, dan gugurnya para pejuang dalam perjuangan melawan penjajahan serta mempertahankan kemerdekaan,” kata ASDO. Ia menegaskan, veteran merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa. Mereka adalah pelaku sejarah yang berasal dari tentara rakyat dan unsur perjuangan lainnya yang berperan dalam merebut, mempertahankan kemerdekaan, serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. PPM dan Tanggung Jawab Mewariskan Nilai Perjuangan Sebagai wadah berhimpunnya anak cucu Veteran Republik Indonesia, Pemuda Panca Marga (PPM) memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para veteran kepada generasi penerus. Menurut ASDO, perjuangan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu. Nilai keberanian, pengabdian, persatuan, cinta tanah air, dan semangat membangun bangsa harus diterjemahkan dalam kehidupan generasi masa kini. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah dan jangan sekali-kali melupakan jasa para pahlawan. Semangat perjuangan para veteran harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, menjaga persatuan, serta mengabdi kepada bangsa dan negara,” tegasnya. LVRI dan PPM Dorong JSN ’45 Masuk ke Lingkungan Sekolah Dalam upaya menjaga kesinambungan nilai sejarah perjuangan bangsa, LVRI bersama PPM juga mendorong penguatan Jiwa, Semangat dan Nilai-Nilai ’45 (JSN ’45) di kalangan generasi muda. Sosialisasi ke sekolah-sekolah menjadi salah satu langkah yang dinilai strategis. Selain memperkenalkan sejarah perjuangan bangsa, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun karakter generasi muda yang memiliki patriotisme, nasionalisme, kecintaan terhadap tanah air, serta kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan. “LVRI dan PPM akan terus menanamkan Jiwa, Semangat dan Nilai-Nilai ’45. Kami akan merumuskan pelaksanaan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar generasi muda memahami sejarah perjuangan bangsa dan memiliki semangat patriotisme serta nasionalisme,” ungkap ASDO. Tiga Kelompok Veteran Republik Indonesia Lebih lanjut, ASDO menjelaskan bahwa Veteran Republik Indonesia secara umum mencakup tiga kelompok perjuangan. Pertama, Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI), yakni mereka yang terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua, Veteran Pembela, yakni mereka yang terlibat dalam berbagai perjuangan atau operasi pembelaan negara, termasuk Trikora, Dwikora, dan Seroja. Ketiga, Veteran Perdamaian, yakni para veteran yang melaksanakan tugas dalam misi perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut ASDO, perbedaan medan dan generasi perjuangan tersebut tidak mengurangi nilai pengabdian para veteran. Setiap perjuangan memiliki sejarah, tantangan, dan pengorbanannya sendiri yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia. “Setiap perjuangan memiliki sejarah dan pengorbanannya masing-masing. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia yang harus kita hormati dan kita wariskan nilai-nilainya kepada generasi berikutnya,” tuturnya. “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia” Memperingati Hari Veteran Nasional 2026, ASDO mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar penghormatan kepada para veteran tidak berhenti dalam seremoni tahunan. Penghormatan terbaik, menurutnya, adalah meneruskan nilai perjuangan tersebut melalui pendidikan, karya, pengabdian, persatuan, dan kontribusi positif bagi bangsa. “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia. Terima kasih atas jasa dan pengorbananmu. Semangat juangmu akan terus menjadi inspirasi bagi kami untuk belajar, berkarya, menjaga persatuan, dan mengabdi kepada bangsa serta negara,” pungkas ASDO. Peringatan Hari Veteran Nasional menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan pengorbanan para pendahulu bangsa. Selamat Hari Veteran Nasional, 10 Agustus 2026. Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia. Jasamu dikenang. Perjuanganmu menjadi inspirasi. Semangatmu kami lanjutkan.

More From Author

Hari Veteran Nasional 2026, ASDO PPM Karawang: “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia” KARAWANG — Peringatan Hari Veteran Nasional (HARVETNAS) setiap 10 Agustus bukan sekadar momentum seremonial, melainkan ruang refleksi bagi bangsa Indonesia untuk kembali mengenang jasa, pengorbanan, dan pengabdian para Veteran Republik Indonesia yang telah berjuang merebut, mempertahankan, serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pesan tersebut disampaikan ASDO, Sekretaris PC Pemuda Panca Marga (PPM) Karawang, bertepatan dengan Hari Veteran Nasional 2026. Dengan penuh penghormatan kepada para pejuang bangsa, ASDO menyampaikan pesan yang sarat makna: “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia. Terima kasih atas perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang telah diberikan untuk bangsa dan negara.” Menurut ASDO, sejarah perjuangan para veteran harus terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Terlebih di tengah perkembangan zaman, masih terdapat masyarakat, pelajar, dan generasi muda yang belum memahami secara utuh sejarah Veteran Republik Indonesia maupun keberadaan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) sebagai wadah perjuangan dan pengabdian para veteran. “Masih banyak masyarakat, pelajar dan generasi muda yang belum memahami tentang Veteran Republik Indonesia dalam wadah LVRI. Karena itu, sejarah perjuangan para veteran harus terus disampaikan dan diwariskan kepada generasi penerus,” ujar ASDO. 10 Agustus dan Jejak Sejarah Veteran Nasional ASDO menjelaskan, Hari Veteran Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 tentang Hari Veteran Nasional. Tanggal 10 Agustus kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Veteran Nasional, berkaitan dengan momentum gencatan senjata pada 10 Agustus 1949 yang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, keberadaan dan pengaturan mengenai Veteran Republik Indonesia memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia serta Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2014 sebagai aturan pelaksanaannya. “Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan sejarah. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak diperoleh dengan mudah. Ada darah, air mata, pengorbanan, dan gugurnya para pejuang dalam perjuangan melawan penjajahan serta mempertahankan kemerdekaan,” kata ASDO. Ia menegaskan, veteran merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa. Mereka adalah pelaku sejarah yang berasal dari tentara rakyat dan unsur perjuangan lainnya yang berperan dalam merebut, mempertahankan kemerdekaan, serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. PPM dan Tanggung Jawab Mewariskan Nilai Perjuangan Sebagai wadah berhimpunnya anak cucu Veteran Republik Indonesia, Pemuda Panca Marga (PPM) memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para veteran kepada generasi penerus. Menurut ASDO, perjuangan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu. Nilai keberanian, pengabdian, persatuan, cinta tanah air, dan semangat membangun bangsa harus diterjemahkan dalam kehidupan generasi masa kini. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah dan jangan sekali-kali melupakan jasa para pahlawan. Semangat perjuangan para veteran harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, menjaga persatuan, serta mengabdi kepada bangsa dan negara,” tegasnya. LVRI dan PPM Dorong JSN ’45 Masuk ke Lingkungan Sekolah Dalam upaya menjaga kesinambungan nilai sejarah perjuangan bangsa, LVRI bersama PPM juga mendorong penguatan Jiwa, Semangat dan Nilai-Nilai ’45 (JSN ’45) di kalangan generasi muda. Sosialisasi ke sekolah-sekolah menjadi salah satu langkah yang dinilai strategis. Selain memperkenalkan sejarah perjuangan bangsa, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun karakter generasi muda yang memiliki patriotisme, nasionalisme, kecintaan terhadap tanah air, serta kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan. “LVRI dan PPM akan terus menanamkan Jiwa, Semangat dan Nilai-Nilai ’45. Kami akan merumuskan pelaksanaan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar generasi muda memahami sejarah perjuangan bangsa dan memiliki semangat patriotisme serta nasionalisme,” ungkap ASDO. Tiga Kelompok Veteran Republik Indonesia Lebih lanjut, ASDO menjelaskan bahwa Veteran Republik Indonesia secara umum mencakup tiga kelompok perjuangan. Pertama, Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI), yakni mereka yang terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua, Veteran Pembela, yakni mereka yang terlibat dalam berbagai perjuangan atau operasi pembelaan negara, termasuk Trikora, Dwikora, dan Seroja. Ketiga, Veteran Perdamaian, yakni para veteran yang melaksanakan tugas dalam misi perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut ASDO, perbedaan medan dan generasi perjuangan tersebut tidak mengurangi nilai pengabdian para veteran. Setiap perjuangan memiliki sejarah, tantangan, dan pengorbanannya sendiri yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia. “Setiap perjuangan memiliki sejarah dan pengorbanannya masing-masing. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia yang harus kita hormati dan kita wariskan nilai-nilainya kepada generasi berikutnya,” tuturnya. “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia” Memperingati Hari Veteran Nasional 2026, ASDO mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar penghormatan kepada para veteran tidak berhenti dalam seremoni tahunan. Penghormatan terbaik, menurutnya, adalah meneruskan nilai perjuangan tersebut melalui pendidikan, karya, pengabdian, persatuan, dan kontribusi positif bagi bangsa. “Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia. Terima kasih atas jasa dan pengorbananmu. Semangat juangmu akan terus menjadi inspirasi bagi kami untuk belajar, berkarya, menjaga persatuan, dan mengabdi kepada bangsa serta negara,” pungkas ASDO. Peringatan Hari Veteran Nasional menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan pengorbanan para pendahulu bangsa. Selamat Hari Veteran Nasional, 10 Agustus 2026. Untukmu Pahlawanku, Veteran Republik Indonesia. Jasamu dikenang. Perjuanganmu menjadi inspirasi. Semangatmu kami lanjutkan.

+ There are no comments

Add yours