Wakil Ketua BAM JABAR Cellica Nurrachadiana Dorong Penguatan Kolaborasi dan Pengawasan Program MBG demi Kemandirian Ekonomi Daerah

3 min read

Kabupaten Bekasi – Anggota Komisi IX DPR RI dari Frakspungkasnya sekaligus Wakil Ketua BAM (Badan Aspirasi Masyarakat) Provinsi Jawa  Barat, Cellica Nurrachadiana, menyampaikan pandangan strategis dan konstruktif dalam Festival Aspirasi bertajuk “Dari Dapur ke Masa Depan” yang digelar di Gedung Swatantra Wibawamukti Plaza Pemda Kabupaten Bekasi, Senin (20/4/2026).

Dalam forum tersebut, Cellica mengapresiasi implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bekasi yang dinilainya berjalan baik, terutama karena tidak ditemukan kasus keracunan makanan. Hal ini, menurutnya, menjadi indikator penting bahwa standar keamanan pangan telah dijaga dengan optimal.

Namun demikian, Cellica juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu segera dibenahi, khususnya terkait aspek koordinasi, komunikasi, serta tata kelola antar pemangku kepentingan. Ia menekankan bahwa dinamika mutasi dan rotasi aparatur sipil negara (ASN) kerap berdampak pada tersendatnya komunikasi lintas sektor.

“Di sinilah pentingnya membangun sistem komunikasi yang lebih terbuka dan terstruktur. Jangan sampai ada kebuntuan hanya karena pergantian personel,” ujarnya.

Lebih lanjut, Cellica mendorong agar pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap insentif bagi ASN yang terlibat dalam program di luar tugas pokok dan fungsi (tupoksi), sehingga kinerja mereka tetap optimal dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti peran strategis para pelaksana di lapangan, termasuk generasi muda yang tergabung dalam satuan pelaksana program. Menurutnya, perlu dibangun keberanian serta ruang komunikasi yang lebih luas antara pelaksana teknis dengan pimpinan daerah.

“Jangan ada rasa sungkan untuk berkomunikasi. Justru keterbukaan itu menjadi kunci keberhasilan program,” tegasnya.

Dalam konteks penguatan ekonomi daerah, Cellica menekankan pentingnya optimalisasi potensi lokal. Ia menilai bahwa wilayah seperti Bekasi, Karawang, dan Purwakarta memiliki sumber daya yang sangat memadai, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun peternakan.

“Seharusnya tidak ada ketimpangan dalam penyediaan bahan pangan. Beras dari Karawang, ikan bandeng dari Bekasi, dan potensi lokal lainnya harus dimaksimalkan. Ini bukan hanya soal distribusi, tetapi juga tentang menggerakkan ekonomi daerah,” jelasnya.

Ia juga mendorong sinergi lintas kementerian dan pemerintah daerah dalam menghadirkan program-program strategis, seperti pengembangan peternakan ayam petelur maupun sektor perikanan. Menurutnya, kolaborasi yang solid akan mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih optimal serta meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan.

“Tujuan besar dari kebijakan ini adalah menciptakan ekonomi yang berputar di dalam negeri, di mana nelayan makmur dan petani sejahtera,” tambahnya.

Selain itu, Cellica menegaskan pentingnya regulasi sebagai payung hukum sekaligus pagar pengaman agar program berjalan sesuai tujuan. Ia mengingatkan bahwa niat baik pemerintah harus diiringi dengan pengawasan yang kuat agar tidak menimbulkan dampak negatif di lapangan.

Dalam hal penerima manfaat, ia juga menyoroti perlunya perluasan cakupan, termasuk memastikan kelompok rentan dan masyarakat yang membutuhkan benar-benar terakomodasi.

“Secara teknis, ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan koordinasi yang baik—mulai dari penambahan porsi hingga pendataan penerima manfaat yang lebih akurat,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Cellica menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada tiga pilar utama, yakni monitoring, evaluasi, serta kolaborasi dan koordinasi yang solid antar seluruh pihak.

“Jika itu semua berjalan dengan baik, maka anak-anak kita akan tercukupi gizinya, UMKM akan naik kelas, dan cita-cita mulia pemerintah dapat terwujud secara nyata,” pungkasnya.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours