
KARAWANG — Peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-80 tahun 2026 menjadi momentum untuk kembali menghidupkan semangat solidaritas, kepedulian, gotong royong, dan persatuan sebagai kekuatan sosial bangsa. Mengusung tema “Semangat Solidaritas Kemanusiaan Nasional”, peringatan tersebut dinilai memiliki pesan universal bahwa kemanusiaan dapat menjadi bahasa bersama yang mampu menyatukan masyarakat di tengah keberagaman Indonesia.
Ketua PAMDI (Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia) Kabupaten Karawang, Jayadi, menyampaikan ucapan selamat Hari PMI ke-80 kepada seluruh jajaran PMI, para relawan, pegiat kemanusiaan, serta masyarakat Indonesia yang terus menjaga semangat kepedulian dan gotong royong.
“Selamat Hari Palang Merah Indonesia ke-80. Semoga PMI semakin profesional, humanis, tangguh, dan senantiasa menjadi bagian penting dalam pelayanan kemanusiaan. Semangat solidaritas kemanusiaan nasional harus terus kita hidupkan, karena kepedulian kepada sesama adalah kekuatan yang mampu menyatukan bangsa,” ujar Jayadi di Kabupaten Karawang.
Menurut Jayadi, nilai kemanusiaan memiliki kedekatan yang kuat dengan dunia seni dan musik. Seni pada hakikatnya mampu menyampaikan pesan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Begitu pula dengan kerja-kerja kemanusiaan yang mengedepankan kepedulian dan penghormatan terhadap setiap manusia.
Ia kemudian mengibaratkan semangat solidaritas kemanusiaan seperti musik dangdut yang mampu diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Dangdut tumbuh dan berkembang sebagai bagian penting dari perjalanan budaya populer Indonesia dan memiliki daya jangkau yang luas di tengah masyarakat.
“Musik dangdut memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat. Ketika musik dimainkan, kita bisa bernyanyi dan menikmati bersama tanpa harus mempertanyakan siapa latar belakang kita. Begitu pula dengan kemanusiaan. Kemanusiaan harus menjadi ruang bersama yang tidak mengenal sekat,” ungkapnya.
Jayadi menegaskan, sebagai insan musik dangdut, dirinya bersama keluarga besar PAMDI memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyuarakan pesan-pesan positif kepada masyarakat. Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi media edukasi, penyampai pesan sosial, serta sarana memperkuat persaudaraan dan nasionalisme.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kiprah H. Rhoma Irama, Ketua Umum DPP PAMDI, yang selama perjalanan panjangnya dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan musik dangdut Indonesia. Menurut Jayadi, perjalanan musik dangdut menunjukkan bahwa karya seni Indonesia mampu memiliki identitas dan karakter yang kuat di tengah perkembangan industri musik.
“Pak Haji Rhoma Irama sebagai Ketua Umum DPP PAMDI telah memberikan perhatian besar terhadap kemajuan musik dangdut dan kehidupan para insan seni. Bagi kami di PAMDI, dangdut bukan sekadar musik hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang harus terus kita jaga, kembangkan dan wariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Menurut Jayadi, musik dangdut yang berkembang dari akar budaya masyarakat Indonesia memiliki potensi besar menjadi media diplomasi budaya sekaligus sarana menyampaikan pesan kebangsaan. Melalui lirik, pertunjukan, komunitas, dan aktivitas para seniman, musik dapat menjadi jembatan komunikasi yang dekat dengan masyarakat.
Karena itu, ia berharap para pelaku seni dan musisi dangdut dapat terus menghadirkan karya yang menghibur sekaligus memberikan nilai edukasi dan inspirasi. Pesan tentang persatuan, toleransi, kepedulian sosial, anti-kekerasan, serta kecintaan terhadap Indonesia dapat disampaikan melalui bahasa seni yang mudah diterima masyarakat.
“Seniman memiliki ruang yang besar untuk menyatukan masyarakat. Mari kita gunakan panggung seni bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk menanamkan optimisme, kepedulian dan semangat persaudaraan. Kalau solidaritas kemanusiaan bisa bergema di setiap panggung, maka musik pun dapat menjadi bagian dari gerakan membangun bangsa,” tutur Jayadi.
Ia menilai semangat “Semangat Solidaritas Kemanusiaan Nasional” sejalan dengan karakter masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong. PMI, menurutnya, telah menunjukkan bahwa kepedulian dapat melampaui batas profesi, komunitas, suku, agama maupun status sosial.
Jayadi mengajak seluruh insan dangdut, seniman, musisi, komunitas seni, generasi muda, dan masyarakat Kabupaten Karawang untuk menjadikan momentum HUT PMI ke-80 sebagai kesempatan memperluas gerakan sosial yang positif.
“Dangdut adalah salah satu warna budaya Indonesia. Mari kita jadikan musik sebagai jembatan persaudaraan, sebagai ruang menyampaikan pesan kebaikan, dan sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan. Dari panggung musik, dari ruang kemanusiaan, dan dari masyarakat, kita bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Jayadi kembali menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan PMI yang selama ini mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk kemanusiaan. Ia berharap semangat solidaritas tidak hanya hadir pada momentum peringatan, tetapi menjadi budaya yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.
“Selamat Hari Palang Merah Indonesia ke-80. Mari kita teruskan semangat solidaritas kemanusiaan nasional. Biarkan pesan kemanusiaan bergema di tengah masyarakat, seperti musik dangdut yang menyatukan berbagai kalangan. Dari Karawang untuk Indonesia, mari kita rawat kemanusiaan, kita jaga persaudaraan, kita lestarikan budaya, dan kita kuatkan persatuan bangsa,” pungkas Jayadi.


+ There are no comments
Add yours