Satpam MBG Korban Begal, Tak Mampu Bayar Biaya Operasi, Pulang Dengan Peluru Masih Bersarang Ditubuhnya

3 min read

MEDAN, SWARAJABAR.ID – Seorang satpam SPPG bernama Guntur Sugoro (41) menjadi korban begal di Jalan Pasaribu, Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, pada Senin (11/5) sekitar pukul 23.30 WIB. Ia ditembak sekelompok begal menggunakan senjata rakitan diduga senapan angin.

Guntur menceritakan kejadian itu berawal saat dirinya berangkat dari rumahnya di Jalan Masjid Taufik, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan, menuju rumah temannya.

“Saya penjaga MBG. Baru dua bulanan gitu lah,” kata Guntur kata saat diwawancarai wartawan, Jumat (22/5).

Malam itu, Guntur hendak datang ke rumah temannya untuk meminjam uang sebesar Rp 200 ribu. Sebab, ia belum mendapatkan gaji di tempatnya bekerja.

Di perjalanan, ia tiba-tiba dipepet oleh sekelompok orang berjumlah sekitar 5 orang dan menyuruhnya berhenti. Guntur dibacok dan ditembak menggunakan senapan angin.

“Langsung disetop dan dipepet sama dua kereta (motor), lima orang, disuruh berhenti. Tapi, saya merasa saya ini pasti mau dibegal. Mulailah dia bacok belakang punggung saya,” ucap Guntur.

Akibatnya, peluru timah bersarang di punggungnya. Meskipun sempat dioperasi untuk pemasangan selang akibat penggumpalan darah, namun sampai saat ini peluru tersebut masih bersarang.

Guntur mengaku tak ada biaya untuk mengeluarkan peluru tersebut. Alih-alih kini dirinya memutuskan untuk pulang dari Rumah Sakit dan lanjut bekerja.

Guntur mengatakan bahwa dirinya sudah pulang dari rumah sakit pada Rabu (20/5/2026) lalu. Hal ini setelah dirinya diizinkan oleh dokter RS Pirngadi Medan

Saya kemarin sore-sorenya langsung pulang. Ya, karena dokter bilang kan sudah boleh. Rasa sesak memang masih ada. Karena, kan, masih ada (pelurunya). Rasanya kayak ada duri-duri masuk di kulit gitu,” kata Guntur, Kamis (21/5/2026) melalui saluran telepon.

Meskipun begitu, penggumpalan darah sudah tidak ada lagi. Karena dirinya beberapa waktu lalu sudah pasang selang dan sudah dijahit.

“Iya kemarin kita cuma bayar scanning saja,” lanjutnya.

Guntur mengaku tak ada biaya sehingga memutuskan untuk pulang dengan kondisi peluru masih bersarang di tubuhnya. Ia berani mengambil keputusan ini juga setelah dirinya mengantongi izin dari dokter.

Guntur mengatakan bahwa biaya yang ditanggung untuk mengeluarkan peluru cukup besar. Dirinya tak mampu mendapatkan uang Rp60-Rp100 juta dalam waktu dekat.

“Iya pasti mau peluru dikeluarkan. Karena segini saja ganjal rasanya. Apalagi selamanya. Cuma belum tahu kapan mampunya. Kita tunggu instruksi dokter lagi. Karena biayanya bisa totalnya Rp60 sampai Rp100 juta,” pungkas Guntur.

Masih kata Guntur, “Pelurunya timah. Makanya semalam, dokternya itu nyemangatin kita, karena ada beberapa pasiennya juga pulang dengan kondisi yang sama. Tapi menurut dokter, timah itu enggak berbahaya di dalam tubuh.”

Meskipun begitu dokter tetap menyuruhnya untuk rajin kontrol. Hal ini supaya tak terjadi infeksi.

“Makanya, Senin ini kan saya disuruh kontrol ke sana lagi,” jelasnya.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours