Kabupaten Bekasi – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI/MPR RI dari Fraksi Gerindra, Putih Sari, menggelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Kampung Binong, Desa Jatireja, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Kamis (26/2/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Desa Jatireja, Ketua PAC Partai Gerindra Cikarang Timur, serta para tokoh masyarakat dan warga setempat yang antusias mengikuti pemaparan kebangsaan tersebut.

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Putih Sari membuka sambutannya dengan rasa syukur dan kebahagiaan karena dapat kembali bersilaturahmi dengan masyarakat Binong.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa berkumpul dalam keadaan sehat walafiat. Ini momen yang membahagiakan bagi saya karena bisa kembali hadir di tengah-tengah bapak ibu semua,” ujarnya.
Ia mengingat kembali kunjungannya beberapa waktu lalu saat masa kampanye Pemilu 2024, ketika dirinya datang meminta doa dan dukungan sebagai calon legislatif. Kini, ia hadir sebagai wakil rakyat yang telah mendapatkan amanah dari masyarakat.
“Atas nama pribadi dan keluarga besar Partai Gerindra, saya mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan bapak ibu semua. Amanah ini bukan hanya milik saya, tetapi milik kita bersama,” tegasnya.
—
Menguatkan 4 Pilar Kebangsaan
Dalam agenda sosialisasi tersebut, Putih Sari menegaskan pentingnya pemahaman dan pengamalan 4 Pilar MPR RI, yakni:
1. Pancasila
2. Undang-Undang Dasar 1945
3. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
4. Bhinneka Tunggal Ika
Ia menjelaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa, termasuk Presiden pertama RI, Soekarno, sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Di dalam Pancasila, kita diajarkan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Semua agama mengajarkan kebaikan. Perbedaan tata cara ibadah bukan alasan untuk saling memusuhi, tetapi justru untuk saling menghormati,” jelasnya.
Menurutnya, karakter bangsa yang kuat lahir dari nilai agama yang dijalankan dengan adab, sikap kemanusiaan yang adil dan beradab, serta komitmen menjaga persatuan Indonesia.
—
Kritik Boleh, Menghina Jangan
Putih Sari juga menyinggung fenomena polarisasi dan ujaran kebencian di media sosial. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hal yang sah dalam demokrasi, namun tidak boleh berubah menjadi penghinaan yang merusak persatuan.
“Kita boleh mengkritik. Dalam ajaran agama pun ada amar ma’ruf nahi munkar. Tapi kritik harus membangun, bukan mencaci atau memecah belah,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk berkontribusi aktif dalam mengawasi jalannya pembangunan, termasuk di sektor ketenagakerjaan yang menjadi ruang lingkup tugasnya di Komisi IX DPR RI.
Sebagai legislator yang membidangi ketenagakerjaan, Putih Sari menyoroti pentingnya perusahaan-perusahaan di kawasan industri, termasuk wilayah Cikarang dan sekitarnya, untuk memberdayakan tenaga kerja lokal sesuai regulasi yang berlaku.
“Undang-undang sudah mengatur pemberdayaan tenaga kerja lokal. Tinggal bagaimana pengawasannya diperkuat dan pelaksanaannya dijalankan dengan benar. Kalau ada pelanggaran, laporkan. Kita kawal bersama,” tegasnya.
—
Meluruskan Isu Program Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Putih Sari juga meluruskan berbagai narasi yang berkembang di masyarakat terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintahan Presiden terpilih, Prabowo Subianto.
Ia menegaskan bahwa program tersebut tidak mengurangi anggaran pendidikan sebagaimana isu yang beredar. Justru, menurutnya, anggaran pendidikan tetap mengacu pada amanat konstitusi minimal 20 persen dari APBN.
“Sebagian besar penerima manfaat MBG adalah anak-anak sekolah. Artinya, program ini justru memperkuat dukungan terhadap sektor pendidikan, termasuk pemenuhan gizi peserta didik,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh narasi provokatif yang belum tentu benar.
—
Indonesia Menuju Bangsa Besar
Putih Sari mengajak warga untuk melihat Indonesia secara optimistis. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara maju.
Ia mencontohkan pentingnya swasembada pangan sebagai langkah strategis menghadapi dinamika global, konflik antarnegara, serta ketidakpastian geopolitik.
“Kita belajar dari pandemi Covid-19. Jangan sampai kita terlalu bergantung pada negara lain. Indonesia harus berdikari, berdiri di atas kaki sendiri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam demokrasi adalah hal wajar, namun jangan sampai merusak nilai Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita memang berbeda-beda, tetapi tetap satu tujuan. Perbedaan jangan dijadikan alasan perpecahan. Justru di situlah kekuatan bangsa Indonesia,” tutupnya.
—
Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif dengan sesi dialog antara warga dan narasumber. Masyarakat menyampaikan aspirasi terkait ketenagakerjaan, pembangunan daerah, dan kesejahteraan sosial.
Melalui agenda ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap 4 Pilar MPR RI semakin kuat, sehingga mampu menjadi benteng moral dan ideologis dalam menjaga persatuan, stabilitas, serta arah pembangunan bangsa menuju Indonesia yang lebih maju dan berdaulat.


+ There are no comments
Add yours