Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT, Sosiolog: Bupati hingga Presiden Harus Tanggung Jawab

2 min read

 

JAKARTA, Swara Jabar – Kasus menyedihkan baru-baru ini terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri.

 

Dikutip dari laman KBA News, korban diduga merasa putus asa setelah keinginannya untuk membeli perlengkapan sekolah berupa buku tulis dan pena seharga kurang dari Rp10.000 tidak dapat dipenuhi ibunya karena sang ibu sedang kesulitan ekonomi. Kasus memilukan ini menjadi atensi banyak pihak, salah satunya yakni sastrawan dan sosiolog, Okky Madasari.

 

Okky Madasari

 

Ia menyebut, kasus ini jelas masalah sistemik. Buah dari kemiskinan dan tidak adanya kebijakan negara dalam mengatasi problem nyata masyarakat.

 

“Bunuh diri anak 10 tahun di NTT ini karena tak mampu membeli buku dan pensil seharga 10 ribu. Buku dan pensil sudah seharusnya bisa diakses oleh semua siswa di seluruh Indonesia,” katanya kepada KBA News, Rabu (4/2/2026).

 

“Apa kabar anggaran pendidikan? Kenapa untuk menyediakan buku dan pensil yang merupakan hak siswa saja tak mampu?,” tanya penulis buku Wawasan Kebangsatan tersebut.

 

Ia mengatakan, ketika orangtua tak mampu memberikan uang Rp10.000 untuk sekadar membeli buku dan pensil untuk anaknya, ini mengartikan bahwa keluarga tersebut terjebak dalam kemiskinan yang begitu parah.

 

“Sementara di sisi lain pemerintah membanggakan telah berhasil mengentaskan kemiskinan, tapi realitanya masih banyak rakyat miskin,” jelasnya.

 

Menurutnya, kasus menyedihkan ini harus menjadi kesempatan untuk kembali mempertanyakan program-program Presiden Prabowo Subianto yang menghabiskan anggaran besar seperti MBG, tapi tak menjawab persoalan masyarakat.

 

Ia menilai, pemerintah daerah hingga Istana wajib bertanggung jawab atas kasus tersebut. Mulai dari kepala daerah, kementerian terkait, hingga Kepala Negara tak boleh “cuci tangan” atas masalah ini.

 

“Kasus bunuh diri siswa 10 tahun ini merupakan tanggung jawab pemerintah,” tegas lulusan Universitas Nasional Singapura ini. (**/Red)

 

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours