Abrasi Kali Cilamatan Ancam Permukiman Warga: Ketua Barak Cibogo Desak Pemerintah Bertindak Cepat

4 min read

SUBANG — Bencana abrasi di aliran Kali Cilamatan, yang melintasi wilayah Desa Padaasih, Kecamatan Cibogo hingga Desa Wanasari, Kecamatan Cipunagara, kini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Arus deras sungai yang tak kunjung surut telah menggerus badan jalan desa dan mengancam pemukiman penduduk. Akibatnya, akses penghubung antara Kampung Cihurip (Padaasih) dan Kampung Citapen (Wanasari) nyaris lumpuh total.

Kerusakan terparah terjadi di wilayah Citapen. Sedikitnya lima rumah warga hilang tergerus abrasi, sementara puluhan rumah lainnya kini berada di bibir jurang hasil kikisan air sungai.

Ketua Barak Cibogo: Lima Rumah Hilang, Akses Warga Terputus

Kondisi memprihatinkan itu disoroti langsung oleh Agus Sofiyan, Ketua Barisan Rakyat (Barak) Cibogo.
Ia menilai, abrasi yang terjadi bukan sekadar dampak alam semata, melainkan akibat kelalaian dan lambannya penanganan dari pihak pemerintah.

“Ini bukan longsor biasa. Kali Cilamatan sudah mengikis jalan desa hingga ke tanah pemukiman warga. Lima rumah di Kampung Citapen hilang terseret arus, sementara yang lainnya terancam ikut ambruk,” ujar Agus Sofiyan dengan nada prihatin saat ditemui di lokasi, Jumat (24/10/2025).

Agus juga menegaskan, akses utama antara dua desa kini nyaris putus total. Aktivitas warga terhambat, termasuk mobilitas ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.

“Kalau jalan ini benar-benar amblas, warga dua kampung bisa terisolasi. Ini bukan lagi persoalan kecil, tapi darurat infrastruktur dan keselamatan jiwa,” tegasnya.

Warga Hidup Dalam Ketakutan, Tanah Longsor Terus Bergerak

Pantauan di lapangan menunjukkan, longsoran di sepanjang bibir Kali Cilamatan terus meluas setiap kali hujan turun. Tanah dan material jalan desa perlahan ambles ke dasar sungai, menciptakan tebing curam yang kian mendekati rumah-rumah warga.

Beberapa keluarga kini memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat karena khawatir tanah di sekitar tempat tinggal mereka sewaktu-waktu ambruk.

“Setiap malam kami tidak bisa tidur tenang. Suara tanah runtuh terdengar jelas dari belakang rumah,” ungkap seorang warga Citapen yang rumahnya sudah retak-retak akibat pergerakan tanah.

Minim Pengawasan, Penanganan Tak Kunjung Datang

Ketua Barak Cibogo menilai, persoalan abrasi ini seharusnya bisa dicegah lebih awal bila ada pengawasan rutin dari dinas teknis terkait.
Menurutnya, warga sudah beberapa kali menyampaikan laporan ke pemerintah desa dan kecamatan, namun belum ada tindakan nyata di lapangan.

“Sudah berkali-kali warga melapor, tapi penanganannya tidak ada. Kalau seperti ini terus, lama-lama kampung bisa habis terbawa arus. Pemerintah jangan hanya diam menunggu laporan viral dulu baru turun tangan,” kritik Agus Sofiyan dengan nada tajam.

Ia menegaskan bahwa BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), BPBD, dan Dinas PUPR Kabupaten Subang harus segera turun tangan melakukan langkah tanggap darurat.
Menurutnya, penanganan sementara dengan bronjong atau tanggul darurat sangat mendesak untuk menghentikan laju abrasi sebelum musim hujan makin parah.

Swadaya Masyarakat Tak Cukup, Pemerintah Harus Hadir

Sebagai bentuk kepedulian sosial, Barak Cibogo bersama warga setempat berinisiatif menyiapkan karung pasir dan material seadanya untuk memperkuat tebing kali secara darurat.
Namun, Agus menegaskan bahwa langkah swadaya warga itu tidak akan cukup tanpa dukungan pemerintah.

“Warga sudah berusaha dengan alat seadanya. Tapi yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar gotong royong — diperlukan alat berat dan perencanaan teknis. Pemerintah harus hadir sebelum korban lebih banyak,” katanya.

Investigasi Lapangan: Abrasi Sudah Terjadi Lama, Tapi Diabaikan

Berdasarkan penelusuran tim investigasi di lapangan, abrasi Kali Cilamatan bukan peristiwa baru.
Gejala pergeseran tanah sudah mulai dirasakan warga sejak dua tahun terakhir, ketika alur sungai makin menyempit akibat sedimentasi dan perubahan arus.
Sayangnya, tidak ada tindakan antisipatif seperti pembuatan tanggul atau pengerukan dasar kali.

Sejumlah tokoh masyarakat setempat mengungkapkan bahwa permintaan bantuan sudah diajukan berkali-kali ke pemerintah kabupaten, namun selalu berakhir tanpa hasil.
“Yang datang hanya survei, setelah itu tidak ada kabar lagi,” keluh salah satu warga yang kini kehilangan rumahnya akibat abrasi.

Penutup: Alam Tak Pernah Bersalah, Tapi Manusia Sering Lalai

Tragedi abrasi Kali Cilamatan menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan instansi teknis untuk tidak menunda-nunda penanganan bencana lingkungan.
Kerusakan infrastruktur dan hilangnya rumah warga bukan hanya akibat derasnya arus air, tetapi juga akibat lemahnya pengawasan dan lambannya respons.

> “Alam memang tak bisa kita lawan, tapi bencana seperti ini seharusnya bisa dicegah. Jangan tunggu korban lebih banyak baru bergerak,”
— Agus Sofiyan, Ketua Barak Cibogo.

Kini, warga di sepanjang aliran Kali Cilamatan hanya bisa berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata, bukan sekadar janji atau survei di atas kertas.
Karena di setiap meter tanah yang terkikis air, ada kehidupan dan harapan warga yang ikut tergerus.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours