“CIKARANG TIMUR WASTE CHANGE” Paradigma Modern Untuk Lingkungan Terlahir Dari Dua Orang Pemuda Kreatif

3 min read

Gerakan Pemuda & Masyarakat Menuju Cikarang Timur Bersih, Berdaya, dan Bernilai Ekonomi

Dari Dua Putera Cikarang Timur untuk Tanah Kelahirannya

Cikarang Timur kembali mencatat kisah inspiratif. Dua sosok kreatif dan visioner, H. Aris Sadikin Asnawi, S.E., M.M. dan Tatang Sumarna, menggagas sebuah gerakan perubahan lingkungan bertajuk “Cikarang Timur Waste Change.”
Gerakan ini lahir dari kepedulian mereka terhadap persoalan sampah yang kian kompleks, sekaligus keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

> “Kami ingin masyarakat melihat sampah bukan lagi sebagai beban, tapi sebagai sumber nilai ekonomi. Kalau dikelola dengan benar, sampah bisa menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan gotong royong, bahkan membangun karakter generasi muda,” ujar H. Aris Sadikin Asnawi, yang juga dikenal sebagai sosok aparatur berdedikasi dan dekat dengan masyarakat.

Gerakan yang Menyatukan: Bersih, Berdaya, dan Bernilai

Cikarang Timur Waste Change bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan ekosistem kolaboratif yang menggerakkan masyarakat, pemuda, dan dunia usaha untuk bersama membangun ekonomi sirkular.

Bersama Tatang Sumarna, penggerak sosial yang dikenal dengan ide-ide kreatifnya di bidang lingkungan, Aris Sadikin membangun konsep perubahan berbasis waste to value — mengubah tumpukan sampah menjadi rantai nilai ekonomi.

> “Kalau dikerjakan bareng-bareng, hasilnya luar biasa. Pemuda bisa mengelola Bank Sampah, ibu-ibu bisa mendaur ulang minyak jelantah jadi sabun, anak-anak sekolah bisa belajar memilah sampah sejak dini. Inilah wujud nyata pendidikan lingkungan yang hidup,” tutur Tatang Sumarna.

Dari Edukasi Hingga Ekonomi Sirkular

Program Cikarang Timur Waste Change terbagi dalam tiga pilar utama:

1. GRENERATOR – Gerakan sekolah peduli lingkungan yang mengajarkan pemilahan sampah dan penghargaan Adiwiyata.

2. REBORN – Pengumpulan minyak jelantah, botol plastik, dan kardus oleh UMKM, Posyandu, dan Bank Sampah.

3. CANTIK – Ciptakan Alam Nyaman Tanpa Imbas Kotor, aksi kebersihan dan penghijauan jalanan yang menumbuhkan kepedulian kolektif.

Ketiganya bukan sekadar program, tetapi gerakan edukatif yang menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dari rumah hingga ke ruang publik.

Sinergi Sosial yang Membangun Karakter

Gerakan ini melibatkan banyak pihak — Pemerintah Kecamatan, Karang Taruna, KNPI, Puskesmas, sekolah, hingga perguruan tinggi seperti ITSB — yang bersama-sama membangun rantai nilai pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.

Dari sinilah lahir ekonomi hijau yang membuka peluang kerja baru, memperkuat solidaritas sosial, dan menanamkan nilai tanggung jawab kepada masyarakat.

> “Kami ingin Cikarang Timur menjadi contoh wilayah yang bukan hanya bersih, tapi juga berdaya. Di sini, kebersihan menjadi budaya, dan ekonomi tumbuh dari kepedulian,” ujar H. Aris Sadikin Asnawi menegaskan.

Dampak Nyata dan Harapan Besar

Lewat Cikarang Timur Waste Change, keduanya mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku perubahan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik — lingkungan yang lebih bersih dan asri — tapi juga secara sosial dan ekonomi:

Munculnya lapangan kerja hijau baru.

Tumbuhnya UMKM berbasis daur ulang.

Menguatnya budaya gotong royong di masyarakat.

Gerakan dari Hati untuk Negeri

Cikarang Timur Waste Change menjadi simbol bahwa cinta tanah air bisa diwujudkan lewat tindakan sederhana namun berkelanjutan.
Gerakan ini bukan tentang siapa yang paling berperan, tapi tentang siapa yang mau terus bergerak.

> “Kita ingin Cikarang Timur menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Mulai dari sini, dari rumah sendiri, dari lingkungan sendiri,” tutup Tatang Sumarna dengan penuh optimisme.

💚 CIKARANG TIMUR WASTE CHANGE
Dari Pemuda untuk Semua. Dari Sampah Menjadi Nilai. Dari Masalah Menjadi Perubahan.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours