BEKASI — Ucapan terima kasih dan apresiasi tinggi disampaikan kepada Kapolsek Tambun Selatan, Kompol Wuriyanti, yang dinilai sangat konsen dan totalitas dalam menangani kasus kekerasan antar pelajar di wilayah Tambun Selatan. Langkah cepat, humanis, dan menyeluruh dari Kapolsek dinilai telah menciptakan suasana yang kondusif dan menjadi contoh penegakan hukum yang tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dari kedua belah pihak — baik korban maupun pelaku.
Kasus yang sempat viral di media sosial ini kini tengah memasuki tahap proses diversi, yaitu penyelesaian perkara anak di luar jalur pengadilan, dengan melibatkan pihak kepolisian, sekolah, dan lembaga terkait.
—
Kuasa Hukum Korban: Diversi Masih Alami Kebuntuan, Korban Jalani Pemulihan Psikologis
J. Fernando Pasaribu, S.H., selaku Kuasa Hukum korban, mengapresiasi peran aktif Kapolsek Tambun Selatan yang turun langsung dalam upaya mediasi dan menjaga keadilan bagi semua pihak. Ia menegaskan bahwa proses diversi yang dilakukan bersama DP3A Kabupaten Bekasi, Kementerian Pendidikan, dan tokoh masyarakat, masih belum menemukan kesepakatan (deadlock) dan akan dijadwalkan kembali minggu depan.
> “Kami berterima kasih kepada Ibu Kapolsek Kompol Wuriyanti yang sangat konsen dalam menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh. Beliau memberi ruang yang adil bagi kedua belah pihak untuk mencari jalan terbaik. Namun, pihak keluarga korban masih memerlukan waktu bermusyawarah karena kasus ini cukup besar dan mendapat perhatian luas,” ujar J. Fernando Pasaribu.
Fernando menjelaskan bahwa sesuai Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), penanganan kasus anak harus mengutamakan pendekatan musyawarah sebelum jalur hukum. Ia juga menekankan pentingnya aspek pemulihan bagi korban dan pembinaan bagi pelaku.
> “Kami sangat menghargai upaya semua pihak, termasuk sekolah dan DP3A, yang sudah memprioritaskan pendampingan psikologis. Harapan kami, korban bisa segera pulih secara emosional dan pelaku bisa mendapatkan pembinaan yang tepat,” tambahnya.
Fernando menegaskan, korban telah menjalani pemeriksaan psikologis dengan psikiater di salah satu rumah sakit di Kabupaten Bekasi, dan hasilnya menunjukkan perlunya treatment khusus untuk memulihkan trauma akibat kejadian tersebut.
> “Kami akan terus mendampingi proses pemulihan korban dengan terapi lanjutan, agar anak ini benar-benar pulih baik secara mental maupun sosial,” tuturnya.
—
Kepala Sekolah: Hak Pendidikan Anak Tetap Terjamin
Sementara itu, Kepala Sekolah Dr. Hj. Annisa, S.Td., S.Pd., menegaskan bahwa proses hukum yang berjalan tidak boleh menghilangkan hak anak dalam memperoleh pendidikan. Ia mengapresiasi kepedulian pihak kepolisian dan menilai bahwa Kapolsek Tambun Selatan, Kompol Wuriyanti, telah menunjukkan keteladanan dalam menangani kasus dengan pendekatan yang bijak dan mendidik.
> “Kami sangat menghargai Ibu Kapolsek Kompol Wuriyanti yang menangani persoalan ini dengan hati. Beliau bukan hanya menegakkan hukum, tapi juga menjaga semangat pendidikan agar anak-anak tidak kehilangan arah,” ujar Dr. Hj. Annisa.
Ia menjelaskan, sekolah tetap berkoordinasi dengan DP3A Kabupaten Bekasi untuk memberikan pendampingan psikologis dan edukatif kepada para siswa yang terdampak. Pendekatan ini dilakukan agar penyelesaian tidak hanya berhenti di aspek hukum, tetapi juga memulihkan kondisi emosional anak.
> “Trauma anak tidak boleh dibiarkan. Karena itu kami menggandeng DP3A agar pendampingan dilakukan dengan pendekatan psikologis dan edukatif,” tegasnya.
Untuk menjaga ketertiban, korban kini sudah kembali bersekolah dan beraktivitas normal, sementara pelaku menjalani pembelajaran jarak jauh di bawah pengawasan guru BK dan wali kelas.
> “Tidak ada anak yang kami tinggalkan. Kami tetap bina dan kami awasi agar keduanya bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya.
—
Kolaborasi Sekolah, Kepolisian, dan Orang Tua
Sebagai langkah pencegahan ke depan, pihak sekolah juga membangun sistem komunikasi yang lebih aktif antara guru dan orang tua. Setiap kelas kini memiliki mekanisme polling sederhana untuk memastikan keamanan siswa hingga mereka tiba di rumah.
> “Guru setiap hari menanyakan siapa yang sudah sampai rumah dan siapa yang masih di jalan. Ini bentuk nyata kepedulian kami,” tutur Dr. Hj. Annisa.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menghentikan penyebaran video kekerasan yang dapat memperburuk kondisi psikologis anak.
> “Mari kita bantu anak-anak pulih, bukan menambah luka mereka. Berhenti menyebarkan video kekerasan, karena dampaknya besar bagi anak,” imbaunya.
Sebagai penutup, Dr. Hj. Annisa kembali menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelesaian kasus ini dengan cara yang beradab dan edukatif.
> “Terima kasih kepada Kapolsek Tambun Selatan Kompol Wuriyanti dan Polres Metro Bekasi yang telah menjadi mitra terbaik kami. Dengan kerja sama ini, kami yakin dunia pendidikan di Tambun Selatan akan tetap maju, aman, dan berkarakter,” pungkasnya.
