Menjadi simbol keberanian, solidaritas, dan kepemimpinan karismatik di dunia pers Bekasi
Bekasi — Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Kabupaten Bekasi resmi memiliki nakhoda baru. Sosok itu adalah Siti Mariam, seorang jurnalis perempuan yang dikenal berani, vokal, dan teguh membela kebenaran. Ia terpilih memimpin Koordinator Wilayah (Korwil) FWJI Kabupaten Bekasi dalam rapat perdana yang digelar di Komplek Kertamukti Sakti Residence, Kecamatan Cibitung, Sabtu (11/10/2025).
Kehadiran Siti Mariam di pucuk pimpinan FWJI Kabupaten Bekasi bukan sekadar simbol representasi perempuan dalam dunia jurnalistik, tetapi juga menjadi cerminan bahwa ketegasan, keberanian, dan integritas tidak mengenal gender.
Pemimpin dengan Hati dan Nyali
Dalam dunia pers, nama Siti Mariam sudah cukup dikenal sebagai jurnalis yang berani mengungkap fakta di balik berbagai peristiwa penting di wilayah Bekasi. Sikapnya yang tegas, lugas, dan tidak mudah diintervensi menjadikannya sosok yang dihormati oleh rekan-rekan sejawatnya.
> “Bagi saya, menjadi wartawan bukan sekadar menulis berita. Tapi juga tentang memperjuangkan nilai kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat. Karena di balik setiap kata yang kita tulis, ada tanggung jawab moral yang besar,” ujar Siti Mariam penuh keyakinan.
Karakter kepemimpinan Siti Mariam dikenal karismatik. Ia tidak hanya menuntut disiplin, tetapi juga menanamkan semangat kekeluargaan dalam tubuh FWJI. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini diharapkan tumbuh menjadi wadah yang solid, profesional, dan memiliki integritas tinggi.
Semangat Setia Kawan dan Solidaritas Tanpa Batas
Sebagai perempuan yang telah lama berkecimpung di dunia media, Siti Mariam dikenal sebagai sosok yang setia kawan dan peduli terhadap sesama jurnalis. Ia kerap hadir di tengah anggota yang sedang menghadapi persoalan hukum atau tekanan di lapangan, memberikan semangat dan dukungan moral agar tidak menyerah.
> “Kita satu pena, satu suara, dan satu semangat. Tidak ada yang boleh merasa sendiri dalam menjalankan tugas jurnalistik. FWJI ada untuk saling melindungi dan memperkuat,” tegasnya dalam sambutannya.
Semangat solidaritas ini sejalan dengan motto FWJI: “Wartawan Sejahtera, Keluarga Bahagia.” Di bawah komandonya, FWJI Kabupaten Bekasi akan berfokus pada peningkatan kapasitas wartawan, mempererat silaturahmi antar media, dan memperjuangkan kesejahteraan anggota.
Perempuan di Garis Depan Penegakan Kebenaran
Kehadiran Siti Mariam di posisi strategis ini menjadi bukti nyata bahwa wanita juga mampu memimpin dengan keberanian dan ketegasan, tanpa kehilangan sisi kelembutan dan empati. Ia menegaskan, wartawan harus tetap menjadi penjaga moral publik di tengah derasnya arus informasi dan tantangan digitalisasi media.
> “Kita harus menjadi pelita di tengah gelapnya kabar palsu. Wartawan tidak boleh takut. Selama kita berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat, Tuhan akan menjaga langkah kita,” ujar Siti Mariam dengan nada penuh keyakinan.
Dukungan dari DPP FWJI
Dewan Pengawas DPP FWJI Wilayah Barat, Bonanza Panjaitan, memberikan apresiasi atas terpilihnya Siti Mariam. Ia menyebut sosok Mariam sebagai figur pemimpin ideal — berani, bijaksana, dan memiliki empati sosial tinggi.
> “Kami percaya di tangan Siti Mariam, FWJI Kabupaten Bekasi akan semakin maju dan solid. Beliau memiliki semangat juang luar biasa dan karakter kepemimpinan yang kuat,” ungkap Bonanza Panjaitan.
Meneguhkan Peran FWJI Sebagai Pilar Demokrasi
Dengan semangat baru ini, FWJI Kabupaten Bekasi bertekad memperkuat sinergi dengan seluruh pihak — baik pemerintah, aparat penegak hukum, maupun masyarakat — tanpa kehilangan independensi dan sikap kritis.
Siti Mariam menegaskan bahwa pers bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga mitra strategis dalam mengawal kebijakan publik dan menegakkan keadilan.
—
Penutup:
Kepemimpinan Siti Mariam di FWJI Kabupaten Bekasi bukan sekadar pergantian struktur organisasi. Ia adalah simbol kebangkitan jurnalis daerah — yang berani, cerdas, dan berintegritas. Di bawah arahannya, FWJI bukan hanya akan menjadi rumah bagi para wartawan, tetapi juga benteng terakhir dalam menjaga nurani dan suara kebenaran.
