Kader Gerindra Karawang Tegaskan Hubungan Baik dengan PSI: “Kami Bersahabat dengan Semua Partai”
Karawang – 22 Juli 2025
Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menyebut “logo kancil” dalam forum internal Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) sempat membuat publik berspekulasi. Ucapan itu oleh sebagian pihak ditafsirkan sebagai sindiran terhadap perubahan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Namun, di tengah simpang-siur opini publik, pembelaan tegas datang dari H. Dedi Iskandar, kader senior Partai Gerindra yang akrab disapa Dedi Lubang.
Tokoh masyarakat Karawang yang dikenal luas karena integritas dan kiprah sosialnya itu menilai reaksi publik terlalu berlebihan terhadap guyonan santai Dasco.
“Saya tegaskan, Pak Dasco itu bukan orang sembarangan. Beliau tokoh nasional yang santun, bijaksana, dan sangat menghargai siapa pun. Tidak mungkin ada niat menyindir apalagi menjatuhkan partai lain. Itu candaan ringan dalam forum tertutup, jangan dipelintir ke mana-mana,” ujar Dedi Iskandar saat ditemui awak media di Karawang, Selasa (22/7).
Menurutnya, Partai Gerindra justru selalu menjunjung tinggi etika politik dan persahabatan lintas partai. “Kami di Gerindra bersahabat dengan semua partai, termasuk PSI. Kami percaya semua partai punya peran masing-masing dalam membangun bangsa. Jadi jangan ada yang memprovokasi seolah-olah Gerindra sedang menyindir atau memusuhi, itu sama sekali tidak benar,” tambahnya.
Dasco: “Tidak Ada Niat Menyindir”
Sementara itu, Sufmi Dasco Ahmad juga sudah lebih dulu menjelaskan bahwa pernyataannya tidak bermaksud menyerang siapa pun. “Itu hanya candaan internal. Tidak ada maksud menyindir partai mana pun, apalagi PSI. Hubungan kami baik, tidak perlu dibesar-besarkan,” ujar Dasco dikutip dari Temporatur.com, 22 Juli 2025.
Candaan soal “logo kancil” disampaikan Dasco saat forum internal Gekrafs, di tengah perbincangan publik soal perubahan logo PSI yang kini menggunakan simbol gajah. Walaupun konteksnya ringan, potongan video Dasco yang beredar langsung ramai ditafsirkan secara politis.
Edukasi Politik: Jangan Reaktif, Mari Dewasa
H. Dedi Iskandar juga mengajak semua pihak, termasuk masyarakat, untuk lebih bijak dalam menyikapi komunikasi para elite politik. “Kadang masyarakat terlalu cepat reaktif terhadap potongan video atau ucapan yang terlepas dari konteks. Di sinilah pentingnya edukasi politik. Mari kita dewasa, tidak semua harus ditarik ke arah konflik,” ujar Dedi.
Ia juga berharap agar media massa bisa menjalankan fungsi edukatif dengan lebih cermat dalam membingkai berita. “Pers juga punya tanggung jawab moral untuk tidak membesar-besarkan hal-hal yang sebetulnya tidak prinsipil. Fokus kita seharusnya pada kerja nyata membangun negeri ini bersama-sama,”tandasnya.

