Hamzah Arofah, Perwakilan Nakes Cianjur: “Kami Bukan Sekadar Honorer, Kami Garda Terdepan Kesehatan Bangsa”

Jakarta, Senin (21/7/2025) — Di bawah terik matahari siang, ribuan tenaga honorer R4 dari seluruh Indonesia berkumpul di jantung ibu kota. Aksi damai yang digelar oleh Aliansi Honorer R4 Nasional ini menjadi panggung aspirasi para tenaga honorer yang selama ini merasa terabaikan oleh kebijakan pemerintah pusat. Salah satu suara yang mencuri perhatian adalah Hamzah Arofah, perwakilan dari instansi rumah sakit daerah Cianjur.

Dengan penuh keteguhan, Hamzah menyuarakan kegelisahan yang telah lama dirasakan oleh rekan-rekannya. “Kami bukan ingin menuntut lebih. Kami hanya meminta keadilan dan pengakuan atas pengabdian belasan tahun kami di instansi pelayanan masyarakat. Khususnya kami, para tenaga kesehatan yang telah lama mengabdi namun tidak masuk dalam data base BKN dan masih berstatus R4,” ungkapnya.

Hamzah menilai bahwa aksi ini bukan semata-mata untuk menuntut perubahan, melainkan juga sebagai panggilan nurani. “Kami sudah terlalu lama menjadi tenaga honorer tanpa kepastian. Sementara kami berada di garis depan, di ruang-ruang IGD, di ruang bersalin, di ruang isolasi, bahkan saat pandemi melanda. Namun, hingga kini nasib kami masih menggantung.”

Tiga Poin Aspirasi Utama

Dalam orasinya, Hamzah Arofah menyampaikan tiga poin tuntutan yang menjadi suara bersama Aliansi Honorer R4:

1. Kepastian Status Kepegawaian: Para honorer R4 meminta kejelasan status kepegawaian, apakah akan diangkat sebagai PPPK paruh waktu atau penuh waktu. Selain itu, mereka berharap adanya afirmasi yang mempertimbangkan masa kerja dan pengabdian masing-masing individu di instansinya.

2. Kesetaraan Perlakuan: Honorer R4 mendesak adanya kesetaraan perlakuan dengan honorer R2 dan R3. “Jangan ada diskriminasi antar golongan honorer. Kami semua mengabdi untuk negara dengan semangat dan dedikasi yang sama,” ujar Hamzah tegas.

3. Keadilan bagi Honorer yang Gagal CPNS: Banyak dari tenaga honorer R4 yang telah mengikuti seleksi CPNS namun belum berhasil lulus. Mereka berharap pemerintah memberikan kepastian dan peluang afirmatif bagi yang telah berusaha namun belum berhasil, bukan justru disingkirkan dari sistem.

Kenapa Hanya Pendidikan yang Diutamakan?

Hamzah juga menyampaikan kegelisahan tentang ketimpangan perhatian pemerintah pusat yang dinilai terlalu fokus pada tenaga pendidikan. “Kami tidak ingin membandingkan atau menyepelekan guru. Mereka jelas pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi kami juga sama-sama berjuang di sektor vital. Kami para nakes, tenaga teknis, dan administrasi kesehatan adalah garda terdepan penyelamat nyawa. Lalu, mengapa kami tidak mendapatkan perhatian yang setara?”

Sebagai perwakilan rumah sakit di daerah, Hamzah merasa terpanggil untuk menyuarakan ini. Ia melihat banyak rekannya yang mengabdi dengan gaji di bawah standar, tanpa tunjangan, dan tanpa kepastian masa depan. “Kami manusia juga. Kami punya keluarga, anak yang harus disekolahkan, orang tua yang harus dirawat. Kalau nasib kami tak dipedulikan, bagaimana kami bisa optimal melayani masyarakat?”

Aksi Damai, Suara Nurani

Aksi Senin ini berlangsung tertib dan damai. Tak hanya spanduk dan orasi, para peserta juga membawa simbol-simbol perjuangan seperti rompi kerja, stethoscope, hingga seragam yang mereka kenakan setiap hari saat bertugas. Semua ini menunjukkan bahwa di balik setiap status “honorer”, ada dedikasi, pengorbanan, dan harapan yang belum terpenuhi.

Hamzah Arofah berharap pemerintah pusat membuka hati dan mendengarkan suara mereka. “Kami bukan hanya angka di data base. Kami adalah manusia, pejuang pelayanan publik, dan bagian dari Indonesia yang ingin ikut maju dan diakui.”

Bagikan berita/artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *