Karawang –
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, sosok dermawan yang tetap teguh membantu sesama menjadi cahaya harapan yang langka. Salah satunya adalah Erick F Kumontoy, seorang figur humanis yang tak pernah lelah menebar kepedulian melalui Rumah Do’a Suara Kasih Indonesia, yayasan yang dipimpinnya sejak masa pandemi Covid-19.
Berawal dari keprihatinan mendalam ketika wabah Covid-19 melanda tanah air, Rumah Do’a Suara Kasih Indonesia hadir sebagai wujud nyata cinta kasih bagi masyarakat sekitar. Di tengah situasi krisis saat itu, yayasan ini aktif membagikan bantuan sembako kepada warga yang terdampak, tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang sosial.

Namun ketika pandemi mulai mereda, komitmen Erick F Kumontoy dan jajarannya tak ikut surut. Justru, semangat kepedulian itu kini telah menjelma menjadi tradisi kebaikan yang terus dijaga dan diwariskan—melalui program rutin bertajuk “Bingkisan Kasih”.
“Awalnya kami hanya ingin membantu saat pandemi. Tapi seiring waktu, kami merasa ini adalah panggilan kemanusiaan yang harus terus dilanjutkan. Karena memberi bukan soal jumlah, tapi soal niat dan kebermanfaatan,” ujar Erick usai menyerahkan 250 paket Bingkisan Kasih, Jumat 20 Juni 2025.
Acara penyerahan bantuan tersebut berlangsung di Rumah Do’a Suara Kasih Indonesia yang berdampingan dengan Mushola Al Hadiriyah, berlokasi di Komplek 324, Desa Sirnabaya, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang. Simbol harmonis antara dua tempat ibadah ini seolah merefleksikan misi mulia yayasan: merajut kasih tanpa sekat agama.
Program Bingkisan Kasih rutin dibagikan setiap bulan, dengan kuota sekitar 250 paket. Saat perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Natal, Paskah, dan Idul Adha, jumlahnya meningkat menjadi 300 hingga 500 paket, menyasar masyarakat lintas iman dan kalangan yang membutuhkan.
Kegiatan sosial tersebut turut dihadiri oleh Pdt. Agus Paulus Husein, M.Si., selaku Ketua PGIS (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Sekitar) Kabupaten Karawang, serta Pdt. Daniel sebagai Wakil Ketua. Keduanya menyampaikan apresiasi atas konsistensi dan ketulusan yayasan dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan yang inklusif.
“Rumah Do’a Suara Kasih Indonesia tidak hanya mengajarkan kasih lewat kata, tapi lewat tindakan nyata. Ini bentuk iman yang bekerja melalui cinta kasih,” ujar Pdt. Agus.
Bagi Erick F Kumontoy, kebaikan tak boleh mengenal batas. Ia percaya bahwa di balik setiap bantuan, ada harapan yang tumbuh dan senyum yang kembali merekah. Bukan soal popularitas, tetapi tentang tanggung jawab moral sebagai manusia untuk saling menopang.
“Selama masih ada yang membutuhkan, kami akan terus hadir,” tutup Erick, merendah namun mantap.
—
Rumah Do’a Suara Kasih Indonesia di bawah kepemimpinan Erick F Kumontoy telah menjadi simbol bahwa nilai kemanusiaan tak pernah lekang oleh waktu. Di tengah dunia yang makin individualistik, masih ada mereka yang tulus memilih memberi, tanpa pamrih, tanpa batas. Sebab sejatinya, kasih itu tak perlu diseragamkan—cukup dirasakan.
—
Redaksi | Swarajabar.id
Untuk informasi dan kegiatan sosial lainnya, kunjungi: swarajabar.id

