Kabupaten Bekasi — Fenomena maraknya aksi pemuda tanggung yang membawa senjata tajam di jalanan kembali menyita perhatian publik. Aksi tersebut bukan hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga mencoreng wajah generasi muda yang seharusnya menjadi pilar masa depan bangsa.
Menanggapi hal ini, Ketua LSM Garda Bangsa Reformasi (GBR) Kabupaten Bekasi, Idhay Sumirat, menyuarakan pandangannya secara tegas dan penuh harapan.
> “Aksi kekerasan di jalan oleh anak-anak usia sekolah bukan hanya berbahaya secara hukum, tapi juga menunjukkan krisis arah dalam pembentukan jati diri. Ini sudah ketinggalan zaman. Saatnya generasi muda bangkit, bukan bertikai,” ujarnya.
Idhay, yang pernah memimpin kelompok pemuda jalanan sebelum kemudian bertransformasi menjadi pemimpin lembaga sosial masyarakat yang konstruktif, memahami betul gejolak yang dialami anak-anak muda. Namun menurutnya, perubahan positif selalu mungkin, jika ada kesadaran dan dukungan yang tepat.
Dari Jalanan Menuju Jalan Perubahan
Idhay menuturkan, masa depan anak muda tidak bisa dibangun dengan cerulit di tangan, melainkan dengan ilmu, kreativitas, dan prestasi.
> “Memang benar, saat ini persaingan di dunia kerja dan usaha semakin ketat. Tapi justru itu harus dijadikan motivasi untuk lebih berkembang, bukan alasan untuk putus asa dan memilih jalan yang salah. Anak-anak muda kita seharusnya fokus pada pengembangan diri, bukan mempermalukan diri sendiri di jalanan,” tegasnya.
Akar Masalah: Tangisan yang Tidak Terdengar
Fenomena pemuda membawa senjata tajam dan melakukan kekerasan di jalan, menurut Idhay, adalah gejala dari krisis sosial yang lebih dalam. Di balik tindakan brutal itu, ada keresahan, frustrasi, dan kebutuhan untuk diakui yang belum terjawab oleh lingkungan.
> “Itu bukan hanya kenakalan. Itu adalah tangisan yang tidak terdengar dari anak-anak kita yang merasa tidak punya arah dan pegangan,” ujarnya dengan nada prihatin.
Panggilan untuk Semua Pihak: Saatnya Bertindak Bersama
Idhay mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi saling menyalahkan, tapi saling berkoordinasi untuk menyusun solusi konkret dan sistematis.
> “Ini bukan hanya tanggung jawab polisi. Ini tanggung jawab bersama: orang tua, guru, tokoh masyarakat, pemerintah dari tingkat desa hingga kabupaten. Kita harus hadir bersama sebagai ekosistem yang sehat bagi anak-anak muda kita,” ujarnya.
Beberapa langkah preventif yang diusulkan antara lain:
Pendampingan remaja melalui kegiatan positif di lingkungan masyarakat
Penguatan pendidikan karakter di sekolah
Sosialisasi bahaya kekerasan dan hukum secara berkala
Kolaborasi antara LSM, tokoh agama, dan lembaga pemerintah dalam program pembinaan remaja
Pemberdayaan pemuda melalui pelatihan kewirausahaan, seni, dan teknologi
Pesan Penutup: Jadilah Generasi yang Dibanggakan
Di akhir pernyataannya, Idhay Sumirat memberikan pesan yang menggugah hati bagi generasi muda Bekasi:
> “Berhentilah menjadi generasi yang ditakuti karena kekerasannya. Mulailah menjadi generasi yang dibanggakan karena prestasi, karya, dan akhlak mulia. Jati diri bukan dibentuk dengan senjata, tapi dengan kontribusi nyata bagi bangsa.”
—
Bekasi tidak kekurangan anak muda hebat. Yang dibutuhkan hanyalah ruang, bimbingan, dan peluang untuk mereka bersinar. Mari hentikan lingkaran kekerasan, dan kita mulai era baru: era generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berdaya.


+ There are no comments
Add yours