
JAKARTA — Wacana mengenai figur yang layak mengisi ruang komunikasi publik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menarik untuk dilihat bukan semata dari kedekatan politik maupun loyalitas, tetapi dari kapasitas dalam menerjemahkan kebijakan negara menjadi pesan yang mudah dipahami masyarakat.
Di tengah dinamika pemerintahan dan derasnya arus informasi digital, juru bicara Presiden tidak lagi sekadar berfungsi menyampaikan pernyataan resmi. Posisi tersebut membutuhkan kemampuan komunikasi publik, penguasaan isu, kredibilitas, kemampuan berdialog dengan media, sekaligus kecakapan menjembatani pemerintah dengan kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang dan perspektif berbeda.
Dalam perspektif tersebut, tiga nama yang menarik untuk diperbincangkan adalah Haris Rusly Moti, Andi Azwan dan Syafrudin Budiman. Ketiganya memiliki karakter komunikasi dan pengalaman yang berbeda sehingga peluang penempatannya pun idealnya disesuaikan dengan kekuatan masing-masing.
Haris Rusly Moti: Kuat dalam Narasi Kebangsaan dan Komunikasi Politik
Haris Rusly Moti memiliki karakter sebagai komunikator politik yang kuat dalam membangun narasi besar. Latar belakang aktivisme Reformasi serta kemampuannya menyampaikan gagasan secara tegas menjadi modal penting dalam menjelaskan isu-isu politik, kebangsaan, demokrasi dan kedaulatan ekonomi.
Kekuatan Haris terletak pada keberanian memasuki ruang debat dan mempertahankan argumentasi politik. Karakter tersebut membuatnya berpotensi menjadi komunikator strategis yang mampu menghadapi berbagai dinamika opini publik sekaligus menjelaskan visi besar pemerintahan.
Namun, untuk ditempatkan sebagai juru bicara Presiden secara formal, kemampuan tersebut perlu dipadukan dengan disiplin komunikasi institusional. Bahasa seorang jubir Presiden harus mampu tetap tegas dalam menghadapi kritik, tetapi sekaligus menjaga kesejukan, objektivitas dan wibawa institusi negara.
Karena itu, Haris lebih ideal apabila diarahkan sebagai Juru Bicara Politik dan Strategis Presiden, khususnya dalam membangun narasi kebangsaan, demokrasi, Reformasi dan kepentingan nasional.
Andi Azwan: Menguatkan Komunikasi Akar Rumput
Berbeda dengan Haris, Andi Azwan mempunyai kekuatan pada komunikasi politik yang lebih populer dan dekat dengan masyarakat akar rumput. Pengalaman dalam jaringan relawan dan aktivitas politik membuatnya memiliki ruang komunikasi yang relatif luas dengan kelompok pendukung pemerintah.
Kemampuan berbicara secara spontan, sederhana dan langsung merupakan keunggulan tersendiri di tengah masyarakat yang semakin membutuhkan komunikasi publik yang tidak berjarak. Pemerintah membutuhkan komunikator yang tidak hanya mampu berbicara di ruang konferensi pers, tetapi juga memahami bahasa masyarakat di lapangan.
Meski demikian, komunikasi resmi pemerintahan membutuhkan standar kehati-hatian yang lebih tinggi. Pernyataan spontan yang efektif dalam komunikasi politik populer belum tentu sesuai dengan standar komunikasi institusional Presiden.
Dengan karakter tersebut, Andi Azwan lebih tepat dikembangkan sebagai komunikator grassroots, khususnya untuk menjembatani komunikasi pemerintah dengan relawan, komunitas, organisasi masyarakat dan kelompok pendukung kebijakan pemerintah.
Syafrudin Budiman: Menjembatani Kebijakan dan Bahasa Publik
Sementara itu, Syafrudin Budiman memiliki profil yang relatif dekat dengan kebutuhan seorang komunikator kebijakan. Pengalaman di bidang komunikasi politik, penulisan opini, media, aktivitas organisasi dan jaringan relawan memberikan kombinasi kemampuan yang dapat menjadi modal untuk menjelaskan kebijakan pemerintah secara lebih substantif.
Keunggulan seorang komunikator kebijakan bukan sekadar kemampuan menyampaikan bahwa pemerintah benar. Lebih jauh, ia harus mampu menjelaskan mengapa sebuah kebijakan diambil, apa tujuan yang hendak dicapai, bagaimana dampaknya bagi masyarakat dan bagaimana pemerintah merespons kritik maupun evaluasi.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena komunikasi pemerintahan modern tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan defensif. Kritik masyarakat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, sementara pemerintah berkepentingan memastikan setiap kritik dapat dijawab melalui data, argumentasi dan penjelasan kebijakan yang rasional.
Dalam perspektif itu, Syafrudin memiliki potensi untuk ditempatkan sebagai Juru Bicara Presiden atau Pemerintah bidang politik dan kebijakan publik, dengan catatan adanya transformasi peran dari komunikator pendukung pemerintah menjadi komunikator institusional negara.
Bukan Sekadar Membela Presiden, tetapi Menjelaskan Kebijakan Negara
Perbedaan mendasar antara komunikator politik dan juru bicara Presiden terletak pada orientasi komunikasinya. Komunikator politik dapat berfokus pada memenangkan argumentasi, sedangkan juru bicara Presiden harus menjaga keseimbangan antara kepentingan politik pemerintahan dan kredibilitas institusi negara.
Seorang jubir Presiden idealnya mampu mengatakan kepada publik bukan hanya bahwa pemerintah memiliki alasan, tetapi juga menjelaskan alasan tersebut secara terbuka, berbasis data dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan ketika pemerintah menghadapi kritik, komunikasi yang sehat bukan sekadar membantah, melainkan memberikan konteks, menjelaskan langkah koreksi dan menunjukkan solusi.
Karena itu, apabila ketiga figur tersebut dilihat sebagai sebuah ekosistem komunikasi, bukan sebagai kompetitor, masing-masing sebenarnya memiliki ruang yang berbeda. Haris dapat memainkan peran sebagai narator politik dan kebangsaan, Syafrudin sebagai komunikator kebijakan dan pemerintahan, sedangkan Andi Azwan sebagai komunikator akar rumput dan relawan.
Tiga Karakter, Satu Tujuan: Komunikasi Pemerintahan yang Lebih Terhubung dengan Publik
Jika Presiden Prabowo Subianto membutuhkan arsitektur komunikasi politik yang lebih berlapis, komposisi tersebut dapat menjadi salah satu model yang menarik untuk dipertimbangkan. Bukan dengan menempatkan ketiganya dalam ruang komunikasi yang sama, melainkan memberikan fungsi sesuai kompetensi masing-masing.
Dalam skema tersebut, Haris berperan membangun narasi strategis, Syafrudin menerjemahkan kebijakan menjadi bahasa publik, sementara Andi membantu membumikan pesan pemerintah hingga ke tingkat masyarakat akar rumput.
Pada akhirnya, ukuran utama seorang juru bicara bukan seberapa keras ia membela pemimpinnya, melainkan seberapa mampu ia membuat masyarakat memahami arah kebijakan pemerintah. Komunikasi publik yang baik bukan sekadar memenangkan perdebatan, tetapi membangun kepercayaan.
Dari tiga nama tersebut, Syafrudin Budiman dapat dinilai paling kompatibel dengan fungsi Juru Bicara Presiden secara formal, sementara Haris Rusly Moti memiliki kekuatan yang menonjol sebagai komunikator politik strategis, dan Andi Azwan berpotensi kuat sebagai komunikator grassroots.
Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi justru perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila ditempatkan secara proporsional. Sebab pemerintahan yang kuat bukan hanya membutuhkan kebijakan yang baik, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menjelaskan kebijakan tersebut dengan bahasa yang jernih, santun, terbuka dan dapat dipercaya masyarakat.


+ There are no comments
Add yours