Karawang — Alokasi anggaran sarana dan prasarana (sarpras) tahun 2025 di SMAN 1 Tirtajaya kian menjadi perhatian publik. Tidak hanya menuai sorotan, sejumlah pihak kini mulai mendorong adanya keterbukaan yang lebih mendalam, bahkan mengarah pada perlunya audit untuk memastikan penggunaan anggaran berjalan sesuai ketentuan.
Sorotan tersebut disampaikan oleh Gibas Cinta Damai Kecamatan Tirtajaya bersama para pemerhati pendidikan yang menilai besarnya nilai anggaran perlu diiringi dengan transparansi yang komprehensif.
Komandan Brigade Gibas Cinta Damai Kecamatan Tirtajaya, Muhammad Suryana atau yang akrab disapa Ade, menegaskan bahwa publik berhak mengetahui secara jelas alur perencanaan hingga realisasi anggaran tersebut.
“Anggarannya cukup signifikan. Dalam konteks penggunaan dana publik, wajar jika masyarakat meminta penjelasan rinci dan terbuka,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, anggaran sarpras tahun 2025 di SMAN 1 Tirtajaya terbagi dalam dua tahap, yakni tahap pertama sebesar Rp96.360.000 dan tahap kedua sebesar Rp165.100.000, dengan total mencapai lebih dari Rp261 juta.
Namun demikian, hingga saat ini belum tersedia penjelasan resmi yang memuat rincian penggunaan anggaran tersebut secara detail, baik terkait jenis kegiatan, volume pekerjaan, maupun pihak pelaksana.
Dalam perspektif investigatif, kondisi ini memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar:
Apakah alokasi anggaran telah sesuai dengan kebutuhan prioritas sekolah?
Bagaimana mekanisme perencanaan dan pengadaan dilakukan?
Siapa saja pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut?
Sejauh mana pengawasan internal dan eksternal dijalankan?
Ade menilai, pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk kecurigaan, melainkan bagian dari kontrol sosial yang konstruktif dalam menjaga integritas pengelolaan anggaran pendidikan.
“Transparansi itu bukan sekadar formalitas laporan, tetapi harus bisa diuji secara publik. Jika semua jelas, justru akan memperkuat kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Gibas juga mendorong agar pihak terkait, baik internal sekolah maupun instansi pengawas, dapat memastikan bahwa seluruh proses berjalan sesuai prinsip akuntabilitas, efisiensi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Jika diperlukan, audit terbuka bisa menjadi langkah bijak untuk memastikan semuanya berjalan sesuai aturan. Ini bukan untuk mencari kesalahan, tetapi memastikan tata kelola yang baik,” tambahnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak SMAN 1 Tirtajaya belum memberikan keterangan resmi terkait rincian penggunaan anggaran sarpras tahun 2025.
Kondisi ini menjadi catatan penting bahwa di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap transparansi, institusi pendidikan diharapkan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada keterbukaan informasi sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat.
—
Menjaga Integritas, Menguatkan Kepercayaan Publik
Dorongan transparansi ini pada dasarnya merupakan upaya bersama untuk menjaga integritas dunia pendidikan. Keterbukaan bukanlah ancaman, melainkan fondasi untuk membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan.
Dengan adanya klarifikasi yang komprehensif dan akuntabel, diharapkan polemik yang berkembang dapat segera terjawab, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola anggaran pendidikan yang lebih baik di masa mendatang.


+ There are no comments
Add yours