Kabupaten Bekasi – Sekretaris Desa Jatireja, Deden Marsaleh, menyampaikan sejumlah pesan penting kepada masyarakat dalam agenda Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bersama Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Gerindra, Putih Sari, di Kampung Binong, Desa Jatireja, Kecamatan Cikarang Timur.
Dalam sambutannya, Deden Marsaleh menyampaikan apresiasi atas kehadiran Putih Sari yang dinilainya aktif turun langsung ke masyarakat.

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa bertatap muka langsung. Ibu Putih Sari bukan hanya hadir saat pemilu, tetapi juga terus kembali ke desa untuk menyapa dan mendengar masyarakat,” ujarnya di hadapan para RT, RW, kepala dusun, Ketua PAC Gerindra Cikarang Timur Muhammad Fadli, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ibu-ibu yang memenuhi lokasi kegiatan.
—
Peringatan Keras: Anak Jam 10 Malam Harus di Rumah
Dalam kesempatan tersebut, Deden Marsaleh secara tegas menyampaikan imbauan kepada para orang tua untuk lebih ketat mengawasi anak-anak, khususnya usia SMP dan SMA.
“Saya tidak pernah bosan mengingatkan. Jam 10 malam anak-anak harus sudah ada di rumah. Jangan dibiarkan berkeliaran tanpa kontrol,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, dalam beberapa pekan terakhir sempat terjadi peningkatan aktivitas tawuran remaja di wilayah sekitar. Selain itu, ancaman penyalahgunaan obat-obatan terlarang juga menjadi perhatian serius pemerintah desa.
“Dua minggu lalu aktivitas anak muda sering terjadi tawuran. Belum lagi persoalan obat-obatan yang sangat meresahkan. Ini harus jadi perhatian kita bersama,” katanya.
Menurutnya, pengawasan keluarga menjadi benteng pertama dalam mencegah kenakalan remaja. Ia juga mengingatkan bahwa pihak kepolisian sebelumnya telah melakukan sosialisasi terkait bahaya narkoba dan obat-obatan terlarang.
“Kalau bukan kita yang menjaga anak-anak kita, siapa lagi? Jangan sampai kita menyesal ketika sudah terjadi sesuatu,” tambahnya.
—
Harapan kepada Kawasan Industri Jababeka
Selain isu sosial, Deden Marsaleh juga menyoroti keberadaan kawasan industri besar yang berbatasan langsung dengan Kampung Binong, yakni Jababeka.
Ia menekankan pentingnya prinsip take and give antara perusahaan dan masyarakat sekitar.
“Ketika industri membangun dan beroperasi, masyarakat juga harus merasakan manfaatnya. Jangan sampai dampak yang kita rasakan hanya banjir atau kemacetan, sementara kesempatan kerja justru minim untuk warga sekitar,” ungkapnya.
Keluhan soal sulitnya akses kerja bagi warga lokal, menurutnya, masih sering ia dengar dari para orang tua.
“Banyak ibu-ibu mengeluh, anaknya susah sekali masuk kerja di perusahaan sekitar. Padahal kita ini bertetangga langsung dengan kawasan industri,” katanya.
Ia berharap melalui kehadiran Putih Sari sebagai legislator di Komisi IX yang membidangi ketenagakerjaan, aspirasi warga dapat diperjuangkan lebih maksimal, terutama dalam penguatan regulasi dan pengawasan penerapan tenaga kerja lokal.
“Warga kita sebenarnya bisa dihitung berapa persen yang bekerja di perusahaan sekitar. Jangan sampai lebih banyak yang bekerja dari luar, sementara warga sekitar hanya jadi penonton,” tegasnya.
—
Kolaborasi untuk Desa yang Lebih Baik
Menutup sambutannya, Deden Marsaleh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, orang tua, dan wakil rakyat.
Ia menegaskan bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga generasi muda dan memastikan keadilan sosial benar-benar dirasakan warga.
“Harapan kami sederhana: anak-anak kita selamat dari tawuran dan narkoba, dan masyarakat kita mendapat manfaat nyata dari pembangunan. Itu yang harus kita perjuangkan bersama,” pungkasnya.
Kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR RI tersebut tidak hanya menjadi forum penguatan nilai kebangsaan, tetapi juga ruang terbuka bagi warga untuk menyampaikan persoalan riil yang mereka hadapi sehari-hari—mulai dari keamanan lingkungan hingga kesempatan kerja.


+ There are no comments
Add yours