Karawang — Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Karawang secara tegas menyampaikan berbagai persoalan mendasar yang dihadapi organisasi veteran dalam sebuah audiensi resmi di Gedung DPRD Kabupaten Karawang. Audiensi tersebut dihadiri Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Karawang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Karawang, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Karawang, serta perwakilan Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Karawang.

Dalam forum yang berlangsung serius dan penuh muatan historis tersebut, LVRI memaparkan kondisi kantor LVRI Kabupaten Karawang yang berdiri di atas tanah milik Pemerintah Daerah Karawang dan kini dinilai tidak lagi layak digunakan. Bangunan yang telah berusia tua mengalami kerusakan signifikan, mulai dari kusen pintu dan jendela yang lapuk dan keropos hingga kondisi fisik bangunan yang membahayakan aktivitas organisasi.
Pemaparan itu disampaikan sebagai bagian dari pengajuan resmi LVRI kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, sekaligus menjadi momentum untuk menagih tanggung jawab moral dan konstitusional negara terhadap para veteran pejuang kemerdekaan yang jasanya tak terpisahkan dari sejarah berdirinya Republik Indonesia.

Dalam audiensi tersebut, LVRI secara tegas meminta solusi konkret dan berkelanjutan, khususnya terkait bantuan dana operasional agar roda organisasi veteran dapat berjalan secara layak dan bermartabat. LVRI juga mendesak agar peringatan Hari Ulang Tahun LVRI dan Hari Veteran Nasional (HARVETNAS) dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang sebagai bentuk penghormatan nyata, bukan sekadar rutinitas seremonial.
Selain itu, LVRI meminta agar kantor LVRI Kabupaten Karawang segera direnovasi, sekaligus dilakukan penegasan status kepemilikan tanah agar menjadi aset sah milik LVRI Kabupaten Karawang. Permohonan bantuan pengadaan sarana penunjang kerja, seperti kendaraan operasional, laptop, dan printer, juga disampaikan sebagai kebutuhan mendesak untuk menunjang efektivitas pelayanan organisasi.
Dalam forum audiensi tersebut, LVRI bersama Pemuda Panca Marga (PPM) Kabupaten Karawang turut mendorong realisasi sejumlah agenda strategis dan sosial. Di antaranya pemberian santunan dan bantuan paket sembako bagi para veteran pada peringatan HARVETNAS setiap 10 Agustus, HUT LVRI setiap 1 Januari, serta Hari Raya Idul Fitri.
Program beasiswa pendidikan bagi anak dan cucu veteran, mulai dari tingkat SD, SLTP, SLTA hingga perguruan tinggi, juga menjadi sorotan utama sebagai bentuk keberlanjutan penghargaan negara terhadap jasa para pejuang.
LVRI dan PPM juga menekankan pentingnya pelestarian tempat-tempat bersejarah yang memiliki nilai perjuangan tinggi agar dapat dikelola secara terarah oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang dengan melibatkan PPM, sekaligus menjadi sarana edukasi publik dan penguatan karakter kebangsaan.
Selain itu, audiensi tersebut menyoroti urgensi sosialisasi Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 45 (JSN 45) ke sekolah-sekolah yang dilaksanakan oleh LVRI dan PPM yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan JSN 45, sebagai bagian dari upaya sistematis menanamkan nilai perjuangan kepada generasi muda.
Dukungan anggaran dan operasional bagi LVRI dan PPM, pembinaan bela negara, pelatihan SAR dan penanggulangan bencana, pelatihan pemadam kebakaran, hingga sinergi dengan BNNK Karawang, diharapkan para pemangku kebijakan yang hadir dalam audiensi tersebut dapat merealisasikannya.
Ketua DPC LVRI Kabupaten Karawang, Sunarno, menegaskan bahwa audiensi tersebut merupakan bentuk perjuangan konstitusional para veteran agar negara tidak abai terhadap sejarahnya sendiri.
“Ini bukan permintaan berlebihan. Ini adalah kewajiban moral negara. Ketika veteran diabaikan, yang tergerus bukan hanya organisasi, tetapi juga ingatan dan jati diri bangsa,” tegas Sunarno.
Sementara itu, Asdo, Sekretaris PPM Kabupaten Karawang, menegaskan bahwa PPM akan terus berdiri sebagai pendukung dan pengawal kepentingan para veteran, sekaligus mitra kritis pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus.
“Audiensi ini adalah pengingat bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan dengan sejarah dan pengorbanan para pendahulu bangsa,” pungkasnya.

