Kirab Budaya Berujung Duka, Sekretaris GIBAS Cinta Damai Karawang Soroti Lemahnya Antisipasi Pemkab

3 min read

Kabupaten Karawang – Kabar duka menyelimuti masyarakat Kabupaten Karawang di tengah semarak penyelenggaraan Kirab Budaya Mahkota Binokasih yang digelar pada Sabtu (9/5/2026) malam. Seorang pasien bernama Ibu Jubaedah, warga Dusun Neglasari, Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, dilaporkan meninggal dunia setelah ambulans yang membawanya menuju rumah sakit terjebak kemacetan parah di kawasan pusat kota Karawang.

Peristiwa memilukan tersebut mendapat sorotan tajam dari Sekretaris GIBAS Cinta Damai Resort Kabupaten Karawang, Samsudin. Menurutnya, tragedi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Karawang agar lebih serius dalam menyiapkan langkah preventif sebelum menggelar kegiatan berskala besar yang berpotensi menimbulkan kepadatan luar biasa di pusat kota.

“Budaya memang harus dilestarikan, tetapi keselamatan masyarakat jauh lebih utama. Pemerintah daerah tidak boleh hanya fokus pada kemeriahan acara seremonial, sementara jalur-jalur vital untuk keadaan darurat justru lumpuh total,” tegas Samsudin saat dimintai tanggapannya, Minggu (10/5/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, saat itu Ibu Jubaedah tengah dalam kondisi kritis akibat sesak napas dan membutuhkan penanganan medis cepat. Namun ambulans yang membawanya mengalami hambatan panjang akibat kemacetan di sekitar Alun-alun Karawang. Bahkan sopir ambulans disebut telah berupaya mencari jalur alternatif menuju Interchange Karawang Barat, namun tetap tidak mampu menembus kepadatan kendaraan.

“Kalau benar stok oksigen sampai habis di perjalanan karena terlalu lama terjebak macet, maka ini bukan lagi sekadar persoalan lalu lintas biasa. Ini soal lemahnya mitigasi dan minimnya kesiapan jalur prioritas darurat. Pemerintah harus berani mengevaluasi total sistem pengamanan dan rekayasa lalu lintas dalam setiap event besar,” lanjutnya.

Tidak hanya satu korban, Samsudin juga menyoroti adanya informasi mengenai pasien lain asal Kecamatan Tirtajaya yang diduga mengalami nasib serupa akibat ambulans yang terhambat menuju rumah sakit. Menurutnya, apabila kejadian tersebut benar terjadi, maka Pemerintah Kabupaten Karawang wajib melakukan evaluasi menyeluruh dan terbuka kepada publik agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat.

“Masyarakat tidak anti budaya, masyarakat mendukung pelestarian sejarah dan tradisi daerah. Tetapi pemerintah juga harus punya kebijakan preventif yang matang. Harus ada jalur steril khusus ambulans, koordinasi cepat dengan kepolisian, hingga pos-pos darurat kesehatan di titik keramaian. Jangan sampai sebuah perayaan justru menyisakan luka dan duka bagi warga,” ujarnya dengan nada prihatin.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Karawang maupun instansi terkait mengenai evaluasi pengamanan dan rekayasa lalu lintas selama berlangsungnya Kirab Mahkota Binokasih. Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat terkait sejauh mana kesiapan pemerintah daerah dalam menjamin keselamatan warganya saat agenda besar digelar.

Turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya para korban. Semoga almarhumah Husnul Khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours