Jakarta — Dalam sebuah pengantar sambutan yang sarat nilai spiritual dan kemanusiaan, Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) menyampaikan kisah nyata yang menggugah nurani para peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Kisah tersebut bukan sekadar narasi personal, melainkan cermin ketulusan jutaan jamaah haji Indonesia, yang diwakili oleh sosok sederhana bernama Tabrani.
Wamenhaj menuturkan, Pak Tabrani telah memantapkan niat menunaikan rukun Islam kelima sejak puluhan tahun silam. Dengan tekad yang kokoh dan keyakinan yang tak tergoyahkan, ia rela menjual rumah dan sawah miliknya. Hasil penjualan itu sebagian ia serahkan kepada anak-anaknya, sementara sisanya digunakan untuk membeli rumah sederhana sebagai tempat bernaung serta menjadi setoran awal pendaftaran haji sekitar 25 tahun lalu.
Namun, perjalanan spiritual menuju Tanah Suci tidak selalu terbentang mulus. Ketika namanya akhirnya masuk dalam daftar keberangkatan tahun 2025, Pak Tabrani kembali diuji. Ia dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa dana yang dimiliki belum mencukupi untuk melunasi biaya haji. Dalam situasi itulah, dengan penuh keikhlasan dan keyakinan kepada Allah SWT, rumah yang masih ia tempati kembali dijual demi mewujudkan impian suci yang telah ia jaga selama puluhan tahun.
“Dari dialog ini, saya ingin menyatakan,” ujar Wamenhaj dengan nada reflektif, “bahwa harapan dan mimpi menuju Tanah Suci orang-orang seperti Pak Tabrani-lah yang sesungguhnya akan Anda layani.”
Ia menegaskan, tugas petugas haji tidak berhenti pada aspek administratif dan teknis semata. Lebih dari itu, para petugas memikul tanggung jawab moral untuk menjaga mimpi, pengorbanan, dan semangat spiritual jamaah yang telah menunggu dengan kesabaran dan pengorbanan luar biasa. “Keinginan dan semangat spiritual orang-orang seperti Pak Tabrani-lah yang harus Anda jaga,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenhaj juga mengingatkan bahwa PPIH mengemban tiga amanah besar yang tidak boleh dipandang ringan. Pertama, amanah dari Allah SWT, karena para petugas melayani tamu-tamu-Nya yang tengah menunaikan ibadah suci. Kedua, amanah dari para jamaah haji, yang menitipkan keselamatan, kenyamanan, dan kekhusyukan ibadahnya kepada negara melalui para petugas. Ketiga, amanah dari negara, yang berkewajiban memastikan setiap warganya dapat beribadah secara aman, tertib, dan bermartabat.
“Oleh sebab itu,” tutur Wamenhaj, “mulai malam ini dan malam-malam berikutnya, mari kita bangun kebersamaan.” Ia mengajak seluruh peserta Diklat PPIH untuk menumbuhkan semangat solidaritas, profesionalisme, dan keikhlasan, sebagai fondasi utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah.
Menutup sambutannya, Wamenhaj menyampaikan optimisme besar terhadap penyelenggaraan ibadah haji ke depan. “Kita adalah petugas haji yang ingin menjadi jauh lebih baik. Saya sangat gembira melihat optimisme dan semangat kuat yang ditunjukkan oleh rekan-rekan semua untuk pelaksanaan ibadah haji oleh Kementerian Haji pada tahun 2026.”
Pesan tersebut menjadi pengingat yang mendalam bahwa di balik setiap prosedur dan pelayanan haji, terdapat kisah pengorbanan, doa, dan harapan tulus jamaah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, empati, dan ketulusan hati.


+ There are no comments
Add yours