Diikuti Ratusan Peserta, Apel Hari Santri Nasional 2025 di PWNU Jawa Barat Berlangsung Khidmat Tokoh Karawang H. Dadan Iskandar (H. Achim): “Semangat Santri Harus Menjadi Nafas Perjuangan dan Pencerahan di Dunia Pers”

3 min read

BANDUNG — Suasana khidmat menyelimuti halaman kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat saat ratusan peserta dari berbagai pondok pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan unsur masyarakat menghadiri apel peringatan Hari Santri Nasional 2025, Selasa (22/10/2025). Dengan mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, kegiatan tersebut menjadi momentum reflektif untuk meneguhkan kembali peran santri dalam menjaga keutuhan bangsa serta membangun peradaban yang berakhlakul karimah.

Apel yang berlangsung tertib dan penuh khidmat itu diisi dengan pengibaran bendera merah putih, pembacaan ikrar santri, doa kebangsaan, dan amanat dari jajaran ulama serta pengurus NU Jawa Barat. Para peserta yang hadir tampak mengenakan busana khas santri — sarung, peci, dan baju putih — yang menjadi simbol kesederhanaan, ketaatan, dan cinta tanah air.

Dalam konteks peringatan ini, H. Dadan Iskandar, S.H., yang lebih dikenal dengan panggilan H. Achim, selaku Tokoh Masyarakat Kabupaten Karawang sekaligus Pimpinan Redaksi KARBI (Karawang Bicara), memberikan pandangan yang sangat menginspirasi. Ia menilai bahwa semangat Hari Santri bukan hanya milik para santri di pesantren, tetapi juga harus diresapi oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers yang memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

> “Karawang dikenal sebagai Kota Pangkal Perjuangan, tempat di mana semangat kemerdekaan dan nilai-nilai Islam tumbuh berdampingan. Dari jejak sejarah Masjid Agung Syekh Quro kita belajar bahwa dakwah dan perjuangan tak bisa dipisahkan. Nah, semangat itu pula yang harus kita teruskan dalam dunia pers — khususnya di KARBI — untuk menyuarakan kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang berpihak pada rakyat,” ujar H. Achim dengan nada tegas dan reflektif.

Menurutnya, insan pers hari ini harus mampu menjadi santri modern — yakni mereka yang tetap berpegang teguh pada nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial dalam menyampaikan informasi. “Santri itu bukan sekadar orang yang belajar agama, tapi siapa pun yang menanamkan nilai kejujuran, kesabaran, dan perjuangan di jalan kebaikan. Dunia pers sejatinya harus menjadi bagian dari jihad intelektual itu,” lanjutnya.

H. Achim juga menegaskan bahwa KARBI sebagai media lokal di Karawang akan terus berkomitmen menjadi corong edukatif yang menyuarakan pesan-pesan kebangsaan dan keislaman secara santun namun tegas. Ia berharap peringatan Hari Santri Nasional 2025 ini menjadi momentum introspektif, agar nilai-nilai pesantren terus hidup dalam setiap sektor kehidupan, termasuk dalam ruang redaksi dan pemberitaan.

> “Pers yang bernafaskan nilai santri akan selalu berpihak pada kebenaran, menolak fitnah, dan membangun kesadaran publik dengan cara yang bermartabat. Itulah semangat yang ingin kami wariskan di KARBI,” pungkasnya.

Peringatan Hari Santri di PWNU Jawa Barat tahun ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara nilai keagamaan, nasionalisme, dan intelektualitas terus tumbuh subur di bumi Pasundan. Dan dari Karawang — kota yang menjadi saksi sejarah perjuangan Islam melalui Syekh Quro — gema semangat santri kembali menyeruak, menegaskan bahwa perjuangan belum usai, hanya berganti bentuk: dari medan perang menjadi medan pena, dari surau ke ruang redaksi.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours