Menguak Batu Tulis: Dedi Mulyadi dan Kebangkitan Peradaban Sunda

3 min read

 

Bogor, SwaraJabar.id

Di tengah heningnya kawasan Pakuan Pajajaran, Bogor, sebuah langkah bersejarah tercetak. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, datang bukan hanya untuk menundukkan kepala di Situs Batu Tulis yaitu prasasti yang menyimpan jejak Kerajaan Sunda, melainkan untuk menggugah kesadaran bahwa Batu Tulis bukan sekadar batu keramat, tetapi bukti nyata kecanggihan intelektual leluhur.

 

“Kesaktian itu bukan klenik, tapi ilmu pengetahuan,” ucapnya lantang. “Raja kita bukan dukun, melainkan ilmuwan pada zamannya.”

 

Tim Ahli Batu Tulis: Membaca Ulang Warisan Leluhur

 

Dedi tak datang dengan tangan kosong. Ia membentuk Tim Ahli Batu Tulis, tim lintas disiplin yang berisi para pakar geologi, filologi, sejarah, linguistik, hingga arsitektur budaya. Tugas mereka jelas yaitu mengurai misteri Batu Tulis dengan pisau analisis ilmiah.

• Meneliti asal-usul dan proses pembentukan batu dari kacamata geologi,

• Menggali makna prasasti melalui kajian filologi dan sejarah,

• Membaca aksara Palawa dan Sunda Kuno bersama ahli bahasa,

• Mendesain ulang bangunan pelindung dengan sentuhan arsitektur Sunda klasik.

 

Dengan cara ini, mistifikasi yang menutup prasasti selama berabad-abad akan digantikan oleh nalar, data, dan pengetahuan.

 

Batu Tulis untuk Generasi Muda

 

Selama ini, Batu Tulis lebih sering dipandang sebagai lokasi ritual. Namun bagi Dedi, prasasti itu adalah simbol literasi tinggi yaitu bukti bahwa leluhur Sunda mampu menulis, membaca, dan mencatat sejarah.

 

“Masa kita yang hidup di era digital kalah sama mereka?” tantangnya.

 

Ia pun mendorong lahirnya buku komprehensif tentang Batu Tulis, bukan hanya untuk kalangan akademis, tapi juga untuk generasi muda agar bisa memahami sejarah dengan jernih, tanpa kabut takhayul.

 

Sumbangan Pribadi dan Komitmen Nyata

 

Melihat bangunan pelindung prasasti yang dianggap tak layak, Dedi berjanji untuk membiayai revitalisasi tahap awal dari kantong pribadinya. Dengan syarat ada izin resmi dari Kementerian Kebudayaan.

 

“Kalau diizinkan, tahun ini juga saya bangun dengan arsitektur Sunda. Pohon diperbanyak, jalur ditata, museum dikembangkan,” tegasnya.

 

Respons Cepat untuk Warga

 

Kunjungan itu juga membuka ruang dialog. Warga Desa Sukaluyu mengadukan soal lahan pertanian yang diganggu pengembang perumahan tanpa izin. Dedi langsung merespons.

 

“Besok, Satpol PP Jabar turun. Kalau ada pidana, Polda Jabar saya minta tindak tegas,” ujarnya. Ia juga memerintahkan camat dan perangkat desa segera mendata ulang tanah warga.

 

Bogor, Kota Peradaban Sunda

 

Lebih dari sekadar kunjungan kerja, Dedi menyuarakan visi besar yaitu menjadikan Bogor bukan hanya kota administratif, melainkan kota peradaban Sunda dengan Batu Tulis sebagai pusat orbitnya.

 

“Orang Sunda bukan keturunan orang bodoh. Kita adalah anak cucu peradaban besar,” tutupnya penuh semangat. “Mari kita buka jendela itu, agar dunia tahu siapa kita sebenarnya.”

 

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours