Ketua GBR Soroti Skandal Perselingkuhan: “Bukan Soal Moral, Ini Rekayasa Politik, Bekasi Jangan Terpecah!”

3 min read

Bekasi – Di tengah riuhnya pemberitaan soal dugaan perselingkuhan yang menyeret nama oknum istri seorang pejabat publik, Ketua Garda Bangsa Reformasi (GBR), Idhay Sumirat, menyuarakan kritik tajam terhadap pola penyebaran isu yang dianggap tidak wajar dan sarat rekayasa. Ia menilai, kasus ini bukan murni persoalan moral, tetapi telah dimanipulasi menjadi alat politik untuk menjatuhkan nama baik seseorang.

Menurut Idhay, yang juga dikenal aktif dalam gerakan sosial dan kebangsaan, masyarakat Bekasi tidak boleh terseret dalam pusaran opini yang belum terbukti kebenarannya. Apalagi jika isu tersebut mengandung potensi fitnah dan merusak kehormatan institusi serta mencoreng wajah Kabupaten Bekasi di mata publik nasional.

> “Jangan sampai masyarakat terpancing oleh isu yang belum jelas kebenarannya. Kita harus bisa jaga marwah Kabupaten Bekasi. Jangan sampai karena politik kotor segelintir orang, seluruh masyarakat ikut menanggung malu,” tegas Idhay, saat diwawancarai awak media.

Rekayasa Politik di Balik Skandal

Idhay menilai, publik perlu lebih cermat dalam membedakan mana persoalan pribadi dan mana yang telah direkayasa menjadi alat politik. Menurutnya, cara isu ini meledak ke permukaan terlalu terstruktur dan mengarah pada upaya sistematis untuk menghancurkan citra Direktur Usaha PERUMDA Tirta Bhagasasi, BUMD strategis yang mengelola air bersih untuk warga Bekasi.

> “Kalau tidak bisa dijatuhkan karena prestasi dan profesionalisme, biasanya serangan diarahkan ke wilayah pribadi. Ini bukan hal baru. Dan kita bisa melihat, narasinya seolah sengaja diatur untuk menghancurkan citra seseorang,” jelasnya.

Sikap Suami yang Diam, Masyarakat Harus Kritis

Lebih lanjut, Idhay mempertanyakan mengapa pihak-pihak yang paling berkepentingan dalam kasus ini justru bersikap pasif. Ia menilai, diamnya sang suami—yang merupakan anggota legislatif aktif—justru menambah kecurigaan publik akan motif yang tersembunyi.

> “Kalau memang ada pengakuan, harusnya dia bersikap terbuka. Kalau tidak benar, kenapa diam? Sikap ini malah memunculkan tanda tanya besar. Masyarakat harus kritis, jangan asal percaya,” tegasnya lagi.

Jaga Nama Baik Bekasi di Mata Publik

Idhay mengingatkan, Kabupaten Bekasi adalah daerah besar dengan sejarah panjang dan kontribusi besar dalam pembangunan nasional. Karena itu, masyarakat harus bijak menyikapi setiap isu, agar citra daerah tidak rusak hanya karena ulah segelintir elit yang bermain politik dengan cara tidak sehat.

> “Bekasi ini rumah besar kita bersama. Jangan biarkan namanya rusak hanya karena kepentingan sesaat. Kita harus saling menjaga, baik antarwarga maupun antar institusi. Kehormatan daerah ini adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Idhay dengan nada serius.

Ajakan Kritis dan Santun: Lawan Politik Adu Domba!

Menutup pernyataannya, Idhay mengajak masyarakat Bekasi untuk tidak menjadi bagian dari politik adu domba. Ia menyerukan pentingnya menjaga akal sehat, semangat persatuan, dan kehormatan publik.

> “Kalau memang ada kekeliruan dalam pekerjaan, mari kritisi secara elegan dan terbuka. Tapi jangan libatkan rumah tangga atau hal-hal pribadi. Ini bukan hanya merusak satu orang, tapi bisa mencoreng wajah Kabupaten Bekasi di hadapan publik nasional,” tandasnya.

Dengan semangat organisasi yang dipimpinnya, Idhay menutup pernyataan dengan seruan kebanggaan:

GBR: “Jaya Selalu, Jaya Selamanya!”

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours