Warga Sukaluyu Teriakkan Keadilan: “Kami Bukan Pengganggu Investasi, Kami Hanya Ingin Dihargai”

3 min read

Karawang – Terik matahari siang itu tak menyurutkan semangat puluhan warga Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur. Mereka berdiri di depan gerbang megah PT OCHIAI di salah satu kawasan industri di Kabupaten Karawang. Dengan wajah penuh harap dan suara lantang yang sedikit bergetar, mereka mengangkat spanduk dan menyuarakan jeritan hati: mereka menuntut keadilan.

Bukan soal upah. Bukan pula karena provokasi. Aksi ini lahir dari rasa kecewa yang dalam, ketika sebuah perusahaan lokal, PT BSS, yang selama ini menjadi tumpuan hidup dan kebanggaan warga Sukaluyu, tiba-tiba diputus kontraknya oleh PT OCHIAI tanpa alasan yang layak diterima secara kemanusiaan.

“PT BSS bukan hanya perusahaan outsourcing. Ia adalah bagian dari denyut nadi desa kami. Di sanalah anak-anak kami bekerja. Dari situlah roda ekonomi desa kami berputar,” ujar Hilman Tamimi, seorang tokoh masyarakat sekaligus aktivis Paguyuban Kujang, dengan suara yang tenang namun menyimpan bara.

Hilman bukan orang sembarangan. Ia dikenal luas sebagai sosok yang berdiri di atas semua kepentingan, kecuali satu: kepentingan rakyat. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa selama bertahun-tahun PT BSS dan PT OCHIAI menjalin hubungan kerja yang harmonis. Tidak pernah ada gejolak berarti. Bahkan, dalam masa-masa sulit, PT BSS-lah yang dimintai bantuan oleh PT OCHIAI untuk menyelesaikan persoalan dengan vendor sebelumnya.

“Jadi keputusan pemutusan kontrak ini bukan saja keliru, tapi juga tidak etis. Ini seperti melupakan kawan lama setelah tidak merasa butuh lagi. Padahal dulu, ketika PT OCHIAI kesulitan, PT BSS-lah yang membantu mereka berdiri kembali,” tegas Hilman, dengan mata berkaca-kaca.

Yang lebih menyakitkan lagi, kata Hilman, adalah ketika aksi damai warga Sukaluyu dicap sebagai “gangguan terhadap investasi”. Stigma itu menyayat hati. Masyarakat yang selama ini menjaga iklim usaha dan menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi lokal, tiba-tiba dicap sebagai perusak. Hilman menilai, framing tersebut sangat tidak bijak dan berpotensi mengaburkan substansi permasalahan yang sesungguhnya.

“Kami bukan anti-investasi. Justru kami yang merawat investasi agar bisa tumbuh di tanah kami. Tapi jangan lupakan akar sosial. Jangan injak harga diri kami hanya karena ada manajemen baru yang tak mengenal sejarah dan tak mengerti adat,” katanya dengan suara berat.

Ia berharap pemerintah dan penegak hukum tidak mudah terpengaruh oleh narasi sesat yang menyudutkan rakyat kecil. Hilman meminta agar negara hadir sebagai penyeimbang—bukan pembela yang buta terhadap kepentingan modal.

“Saya percaya, keadilan masih ada di negeri ini. Dan saya yakin, banyak pejabat yang masih punya nurani. Tolong dengar suara kami. Jangan hanya dengarkan laporan satu sisi dari meja-meja kantor ber-AC,” ucapnya lirih.

Bagi warga Sukaluyu, PT BSS adalah simbol perjuangan. Ketika perusahaan itu disingkirkan begitu saja, seolah-olah yang disingkirkan bukan cuma badan usaha, tapi juga martabat satu desa.

“Investasi penting. Tapi lebih penting lagi adalah manusia yang ada di sekeliling investasi itu. Jangan bangun pabrik di atas luka kami,” tutup Hilman.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author