Kabupaten Bekasi, Swarajabar.id – Di tengah geliat pembangunan Kabupaten Bekasi, ada satu nama yang belakangan mencuri perhatian bukan karena jabatan, melainkan karena keteladanan: Gunawan, atau yang lebih akrab disapa Mbah Goen. Ia adalah Ketua Umum SNIPER (Solidaritas Nasionalis Peduli Rakyat), sebuah organisasi sosial yang aktif mengadvokasi kepentingan masyarakat kecil. Namun di balik aktivitas organisasinya, Mbah Goen membuktikan bahwa pengabdian tak butuh kekuasaan—cukup dengan niat, cinta, dan kerja nyata.
Tanpa embel-embel jabatan pemerintahan, tanpa akses pada anggaran negara, Mbah Goen berhasil menyulap lahan kumuh dan tak terurus di sekitar saluran irigasi menjadi sebuah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bersih, asri, dan estetis. Ruang publik tersebut kini menjadi tempat warga berkumpul, berinteraksi sosial, berolahraga, bahkan mengembangkan ekonomi kreatif melalui lapak UMKM.

Apa yang dilakukan Mbah Goen bukan sekadar mempercantik lingkungan. Ia tengah membangun harapan. Di tengah kota yang kian padat namun minim ruang bersosialisasi, inisiatif seperti ini menjadi oase sekaligus sindiran halus bagi para pemangku kebijakan yang memiliki wewenang dan anggaran, namun belum mampu mewujudkan ruang publik serupa.
Lebih dari sekadar aktivis lingkungan, Mbah Goen adalah pemimpin moral yang hadir untuk menginspirasi. Ia menunjukkan bahwa mencintai tanah kelahiran bukan cukup dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Baginya, lingkungan yang bersih bukan hanya soal estetika, melainkan hak rakyat untuk hidup sehat dan bermartabat. Ia percaya bahwa ketika ruang publik dibuka, maka ruang tumbuhnya nilai-nilai sosial dan ekonomi pun ikut berkembang.
Tidak sedikit warga yang mengapresiasi karyanya. Bahkan, beberapa komunitas pemuda dan pengusaha lokal mulai terlibat membantu dan mereplikasi konsep yang dibangun Mbah Goen di wilayah lain. Gerakannya meluas, tanpa anggaran, tanpa protokoler, tapi menyentuh dan menghidupkan denyut masyarakat bawah.
Mbah Goen bukan pejabat. Ia tak duduk di kursi kekuasaan. Namun dalam praktiknya, ia menjalankan fungsi seorang pemimpin sejati—melayani rakyat, mencintai lingkungan, dan menumbuhkan ekonomi rakyat dari bawah. Ia menjadi bukti bahwa keberpihakan sejati lahir dari hati nurani, bukan dari struktur birokrasi.

