Antrean ribuan pencari kerja sejak subuh dalam gelaran “Bekasi Pasti Kerja Expo” di Cikarang Utara, Selasa (27/5), bukan hanya gambaran antusiasme warga. Ia adalah cermin kepanikan terselubung atas sulitnya mendapatkan pekerjaan di Kabupaten Bekasi. Di tengah gegap gempita seremoni pembukaan oleh Bupati Ade Kuswara Kunang, kita justru disuguhi potret krisis: 25 ribu pelamar berebut 2.517 kursi kerja.
Ketua Markas Cabang (MARCAB) Laskar Merah Putih Kabupaten Bekasi, Eko Trianto,.S.T., menyambut baik inisiatif tersebut, tapi juga melemparkan pertanyaan kritis: “Programnya memang bagus, meskipun kita tidak tahu sajian program ini bentuk keseriusan atau hanya seremonial saja agar bisa dikatakan sukses dalam 100 hari kerja.”
Pertanyaan ini penting. Sebab dari tahun ke tahun, job fair sejenis terus diadakan tanpa data yang terbuka soal dampaknya. Berapa persen peserta yang benar-benar direkrut? Apa yang terjadi pada mereka yang tidak lolos? Adakah skema pelatihan, inkubasi usaha, atau pendampingan lanjutan?
Menurut Eko, program seperti Job Fair seharusnya menjadi solusi struktural atas persoalan pengangguran yang memang kompleks. Sayangnya, hingga kini, belum terlihat grand design Pemkab Bekasi dalam menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh. Tanpa pemetaan kompetensi tenaga kerja lokal, penguatan pendidikan vokasi, dan pembatasan tenaga kerja luar yang masuk tanpa regulasi ketat, acara seperti ini hanya akan menjadi panggung rutinitas tahunan.
Ironisnya, program ini diklaim sebagai bagian dari 100 hari kerja Bupati. Tapi jika hanya sebatas menampilkan ribuan pelamar berjejalan tanpa kepastian tindak lanjut, maka ini bukan kebijakan, melainkan propaganda. Tidak cukup hanya menjaring perusahaan dan membukakan meja registrasi, pemerintah harus hadir dalam proses panjang: dari pelatihan hingga penempatan.
Job Fair adalah pintu, bukan rumah. Jika tidak ada kebijakan lanjutan yang memperkuat daya saing angkatan kerja lokal dan memastikan hak-hak mereka terlindungi, maka program ini hanya akan menjadi event dekoratif, bukan solusi jangka panjang.
Bekasi butuh lebih dari seremoni. Bekasi butuh keberpihakan yang nyata pada rakyat yang tengah mengantre harapan.

