Rayakan HUT ke-66 Pemuda Pancasila, Bamsoet: Saatnya Pancasila Hadir dalam Aksi Nyata di Era Digital

5 min read

JAKARTA – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Pemuda Pancasila di Jakarta, Selasa malam (28/10/2025), berlangsung meriah dan penuh semangat kebangsaan. Acara yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno itu dihadiri para tokoh nasional, termasuk Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo atau Bamsoet.

Dalam sambutannya, Bamsoet mengingatkan bahwa tantangan menjaga ideologi bangsa kini sudah berubah. Medan perjuangan tidak lagi di lapangan perang, tetapi di ruang digital, dunia ekonomi, dan terutama di hati generasi muda.

> “Menjaga Pancasila di era global tidak cukup dengan seruan moral. Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan kemanusiaan harus diwujudkan dalam program nyata yang dirasakan langsung oleh rakyat,” ujar Bamsoet.

Menurutnya, Pemuda Pancasila yang kini memasuki usia ke-66 harus tampil dengan wajah baru — bukan sekadar organisasi dengan sejarah panjang, tetapi juga motor gerakan yang mampu menghadirkan Pancasila dalam tindakan sosial dan ekonomi rakyat.

> “Pancasila harus hidup dalam kerja, dalam ekonomi, dan dalam tindakan sosial. Kalau tidak, Pancasila hanya akan menjadi simbol yang tak lagi menggugah jiwa anak bangsa,” tegas Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 ini juga menyoroti derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang membawa tantangan baru bagi ideologi bangsa. Dunia maya kini menjadi arena pertarungan narasi, di mana nilai-nilai kebangsaan harus bersaing dengan ideologi lain yang kerap mengaburkan semangat nasionalisme.

> “Sekarang eranya ideologi bertarung lewat algoritma. Kalau Pemuda Pancasila tidak hadir dengan narasi cerdas dan menyentuh di ruang digital, maka ruang itu akan diisi pihak lain,” katanya.

Untuk itu, Bamsoet mendorong agar Pemuda Pancasila membentuk laboratorium narasi digital, yakni wadah pelatihan kader untuk membuat konten edukatif, kampanye kebangsaan, hingga literasi digital yang menanamkan semangat Pancasila di kalangan milenial dan Gen Z.

> “Pancasila jangan disampaikan dengan gaya orasi lama. Gunakan bahasa dan media anak muda — video pendek, podcast, musik, atau meme. Kita harus merebut ruang digital dengan nilai-nilai luhur bangsa,” ungkapnya.

Sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Bela Negara FKPPI, Bamsoet juga menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi agar tetap independen dan tidak terjebak dalam kepentingan politik sesaat.

Ia menegaskan, dari tingkat pusat hingga ranting, Pemuda Pancasila harus menjadi contoh penerapan tata kelola organisasi yang baik — transparan dalam kegiatan, akuntabel dalam penggunaan dana, serta tegas dalam penegakan kode etik.

> “Pemuda Pancasila lahir untuk membela kepentingan bangsa, bukan kepentingan golongan. Kalau kehilangan independensi moral, maka hilanglah jati diri organisasi. Pemuda Pancasila harus ada di mana-mana, tapi tidak ke mana-mana,” tutup Bamsoet.JAKARTA – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Pemuda Pancasila di Jakarta, Selasa malam (28/10/2025), berlangsung meriah dan penuh semangat kebangsaan. Acara yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno itu dihadiri para tokoh nasional, termasuk Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo atau Bamsoet.

 

Dalam sambutannya, Bamsoet mengingatkan bahwa tantangan menjaga ideologi bangsa kini sudah berubah. Medan perjuangan tidak lagi di lapangan perang, tetapi di ruang digital, dunia ekonomi, dan terutama di hati generasi muda.

 

> “Menjaga Pancasila di era global tidak cukup dengan seruan moral. Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan kemanusiaan harus diwujudkan dalam program nyata yang dirasakan langsung oleh rakyat,” ujar Bamsoet.

 

 

 

Menurutnya, Pemuda Pancasila yang kini memasuki usia ke-66 harus tampil dengan wajah baru — bukan sekadar organisasi dengan sejarah panjang, tetapi juga motor gerakan yang mampu menghadirkan Pancasila dalam tindakan sosial dan ekonomi rakyat.

 

> “Pancasila harus hidup dalam kerja, dalam ekonomi, dan dalam tindakan sosial. Kalau tidak, Pancasila hanya akan menjadi simbol yang tak lagi menggugah jiwa anak bangsa,” tegas Bamsoet.

 

 

 

Ketua DPR RI ke-20 ini juga menyoroti derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang membawa tantangan baru bagi ideologi bangsa. Dunia maya kini menjadi arena pertarungan narasi, di mana nilai-nilai kebangsaan harus bersaing dengan ideologi lain yang kerap mengaburkan semangat nasionalisme.

 

> “Sekarang eranya ideologi bertarung lewat algoritma. Kalau Pemuda Pancasila tidak hadir dengan narasi cerdas dan menyentuh di ruang digital, maka ruang itu akan diisi pihak lain,” katanya.

 

 

 

Untuk itu, Bamsoet mendorong agar Pemuda Pancasila membentuk laboratorium narasi digital, yakni wadah pelatihan kader untuk membuat konten edukatif, kampanye kebangsaan, hingga literasi digital yang menanamkan semangat Pancasila di kalangan milenial dan Gen Z.

 

> “Pancasila jangan disampaikan dengan gaya orasi lama. Gunakan bahasa dan media anak muda — video pendek, podcast, musik, atau meme. Kita harus merebut ruang digital dengan nilai-nilai luhur bangsa,” ungkapnya.

 

 

 

Sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Bela Negara FKPPI, Bamsoet juga menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi agar tetap independen dan tidak terjebak dalam kepentingan politik sesaat.

 

Ia menegaskan, dari tingkat pusat hingga ranting, Pemuda Pancasila harus menjadi contoh penerapan tata kelola organisasi yang baik — transparan dalam kegiatan, akuntabel dalam penggunaan dana, serta tegas dalam penegakan kode etik.

 

> “Pemuda Pancasila lahir untuk membela kepentingan bangsa, bukan kepentingan golongan. Kalau kehilangan independensi moral, maka hilanglah jati diri organisasi. Pemuda Pancasila harus ada di mana-mana, tapi tidak ke mana-mana,” tutup Bamsoet.

Bagikan berita/artikel ini

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours